Whee Na-onni tiba-tiba masuk ke kamarku dan menggratak lemari bajuku. Ini sudah biasa terjadi di rumah kami. Lagipula kami sering saling meminjam barang.
“Cari apa sih onni?” tanyaku sambil memasukkan buku ke dalam tas ranselku. Kuberitahu ya, ini tahun ketigaku ada di SMA dan tahun depan aku akan terbebas dari seragam ini.
“Catokan. Kamu simpen dimana?” tanya Whee Na onni.
Aku beranjak dari meja belajarku dan ikut melihat lemari. “Kayanya yang terakhir make Mi Hae-onni deh,” kataku sambil berusaha mengingat-ingat.
“Yuhuuuu,, kalian menyebut namaku?” tanya Mi Hae onni yang tiba-tiba masuk ke kamar sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
“Ya. Kamu taruh dimana alat catok?” tanya Whee Na onni.
“Di lemariku lah, ngapain onni cari di lemari dia, dia aja jarang pakai,” dia yang dimaksud Mi Hae onni adalah aku. Sekedar informasi, aku dan Mi Hae onni tidur sekamar semenara Whee Na onni punya kamarnya sendiri yang tepat berada di samping kamar kami berdua.
“Ya, betul sekali,” tambahku sambil kembali sibuk melihat jadwal pelajaran.
“Eh, emang hari ini onni mau ngapain? Repot banget kayaknya persiapannya?” tanya Mi Hae onni curiga.
Whee Na onni duduk di meja rias kami dan mulai mencatok rambutnya sambil menjawab, “Hari ini tentu saja aku ada job bersama Super Junior dong. Kalo engga buat apa aku siap-siap begini. Buat siapa kalo bukan buat Kyu,”
“Iyaaa???!!!” Mi Hae onni mendadak heboh. “Aku ikut onni, aku ikut. Sudah seminggu lebih aku dan Hae-ppa tidak berkencan. Aku ingin bertemu dengannya,” Mi Hae onni mulai merengek-rengek.
“Hey, hey! Diamlah. Aku susah nih nyatoknya. Lagipula aku dilarang membawa anggota keluarga ke tempat kerja. Kau tidak bisa ikut,” tolak Whee Na onni sambil terus berusaha berkonsentrasi.
“Onniiiiiiiii,, apa onni gak khawatir sama kelangsungan hubungan adikmu ini dengan Hae?? Ayolah onni,” Mi Hae onni semakin berapi-api.
“Tidak bisa. Kamu harus belajar bersikap professional dong. Masa onni melanggar aturan demi menuruti keinginan berpacaranmu,” kata Whee Na onni.
“Lalu dimana letak ke professionalanmu, onni? Onni juga pasti memanfaatkan saat ini untuk berduaan dengan Kyu-oppa kan?” protes Mi Hae onni.
Whee Na onni hanya diam dan melanjutkan ritual mencatok rambutnya dengan cepat. Di saat seperti ini lebih baik aku pura-pura tidak mendengar dan tidak peduli dengan pembicaraan mereka.
“Hei onni, jadi aku boleh ikut kan??” tanya Mi Hae onni tepat ketika Whee Na onni selesai dengan catokannya.
Whee Na onni kemudian berdiri dan berkata, “Tetap tidak bisa,” lalu berlalu dan keluar dari kamar kami.
“ONNIIII PELIIIIITTTTTTTTT!!!!!!!!!!!” teriak Mi Hae onni, tapi tentu saja Whee Na onni –pura-pura– tidak mendengar.
“Onni, sabar ya,” kataku sambil menepuk pundak Mi Hae onni.
“Liat aja nanti aku nyusul dia ke lokasi,” kata Mi Hae onni.
Aku hanya geleng-geleng kepala. “Ya sudah deh, aku berangkat dulu ya onni,” pamitku.
“Eh, tunggu dulu, kamu nanti siang ada kegiatan klub ga?” tanya onni sebelum aku benar-benar keluar dari kamar.
*****
“Jadi ini maksud onni menanyai aku ada kegiatan klub atau tidak?!” protesku dengan wajah cemberut.
“Sudahlah! Nurut saja kan tidak apa-apa. Lagipula disini kamu akan bertemu HyukJae oppa lhoo,” kata Mi Hae onni.
Aku makin cemberut, “Aku tidak bilang ingin bertemu dengannya,” kataku.
Aku dan Mi Hae onni duduk di sofa ruang tunggu lobi gedung SM Entertainment pusat. Onni sedang menghubungi beberapa orang untuk tahu mereka ada di Studio mana. Maklum, gedung SM Entertainment pusat ini sangat besar.
“Sip! Ayo kita ke Studio 4,” kata Mi Hae onni dengan wajah puas sambil menutup handphone’nya. Ia kemudian menarikku menuju lift.
“Eh, onni tahu darimana?” tanyaku penasaran.
Mi Hae onni hanya tersenyum penuh arti, “Jangan remehkan kemampuan onni’mu ini dalam mengejar Hae-ppa ya!”
*****
Kami berdua menunggu lagi di studio. Kami seperti orang hilang di lautan kru SM Entertainment. Ah, sedikit kujelaskan, kru-kru ini ada yang kru tetap dan kru magang. Aku pernah lhoo ikut magang beberapa kali. Tapi di tahun ketiga SMA ini aku sibuk mempersiapkan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas sehingga tidak pernah lagi ikut magang.
“Mi Hae, untuk apa kamu ke sini?” tanya seseorang yang tiba-tiba datang. Ternyata orang itu adalah Dong Hae oppa. “Kau juga Eun Ai,”
“Aku ingin bertemu denganmu oppa. Tidak boleh?” tanya Mi Hae onni dengan manja. Begini nih kalau Mi Hae onni sudah bertemu dengan Hae-oppa.
Hae-ppa lalu meraih tangan Mi Hae onni dan duduk disebelahnya, “Bukan begitu. Tapi di sini begitu banyak orang dan kami sangat sibuk. Kita tidak bisa berduaan di sini dan aku tidak mau kamu jadi badmood karena itu,”
“Aku bermaksud menunggumu kok, oppa. Oppa teruskan saja pekerjaan oppa dan aku duduk di sini. Aku hanya ingin melihatmu. Itu saja,” kata Mi Hae onni. Kalian bisa menebak perasaanku yang ada disebelah mereka kan? Tentu saja aku merasa seperti sedang menonton film drama KBS.
“Tapi, ah.. ya sudahlah. Tapi kau benar-benar tidak apa-apa menunggu di sini? Atau kupanggilkan Whee Na?” tanya Hae-ppa.
Jelas saja aku kaget. Bisa-bisa kami didamprat Whee Na onni kalau dia tahu kami di sini. Melihat perubahan raut wajahku, Mi Hae onni segera berkata, “Tidak! Tidak! Tidak perlu. Whee Na onni tidak perlu tahu kami ada di sini.” Aku pun ikut mengangguk-angguk.
Hae-ppa menunjukkan raut wajah kagetnya melihat kami begitu kompak tidak mau bertemu Whee Na onni tapi kemudian berkata, “Baiklah. Kalau begitu kalian tunggu disini ya, sampai malam lho,”
Mi Hae onni mengangguk, “Baiklah oppa. aku siap menanti, asalkan pulangnya kita makan malam berdua. Oke?”
Hae-oppa kemudian menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya. “Oke!” sambiil tersenyum dan kemudian berlari menuju ke set.
Mi Hae onni masih senyum-senyum sendiri pasca kepergian Hae-ppa. Tapi aku kemudian berpikir. Kalau onni dan oppa makan malam berdua berarti….aku pulangnya gimana dong?!
*****
Gini nih kalo punya dua kakak perempuan yang udah punya pacar sempurna. Adiknya selalu dilupakan. Aku akhirnya pulang sendiri. Yah, sebenernya sih mereka udah nawarin buat membatalkan rencana mereka dan makan malam di rumah kami. Tapi aku tahu onni pasti sangat menanti kesempatan ini. Makanya aku memilih untuk pulang sendiri saja.
Aku memasang headset di kuping kananku. Udara hari ini cukup dingin, maklum ini musim gugur dan angin selalu bertiup lebih kencang di musim ini. Aku pun merapat ke pojokan halte. Bis belum juga datang.
Tiba-tiba datang seorang pria. Yah, sebenarnya sih wajahnya tidak terlihat, tapi dari perawakannya dia seorang pria. Pria ini memakai kerudung jaketnya dan mengenakan kacamata hitam. Mungkin itu sedang tren menurutnya.
Akhirnya bis pun datang. Aku segera beranjak dari halted an berjalan menuju bis. Begitu juga dengan pria itu. Sialnya, tepat ketika akan menaiki tangga bis yang hanya selututku tingginya aku terpeleset dan itu menyebakan aku harus bertopang pada pria itu.
Adegan jatuhku yang cukup heboh membuat kerudung jaketnya terlepas dan wajahnya terlihat cukup jelas –walaupun memakai kacamata hitam–. Sebentar kuingat-ingat dulu. Sepertinya aku tahu dia siapa… mmm.. pernah liat dimana ya.. mmm.. lalu terbayang konser 2PM yang terakhir kali kutonton secara live berkat tiket gratis dari Whee Na onni. Dia kan…
“Nickhun oppa?” tanyaku reflek.
Dia segera menempelkan telunjuknya di bibir dan menarikku masuk ke dalam bis. Kami kemudian duduk di bangku belakang.
“Sssstttt.. jangan menyebutkan namaku begitu dong. Buat apa aku susah payah menutup wajah begini,” protesnya.
Aku masih agak terkejut dengan kejadian tadi dan hanya diam terbengong-bengong. Walaupun Whee Na onni bekerja di SM entertainment tapi aku tidak pernah kenal dengan artis-artis SM kecuali Super Junior.
“Ah, bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyanya. Pertanyaan yang sangat bodoh.
“Te..tentu saja aku mengenalmu. Seluruh Korea pun mengenalmu,” jawabku. Kaget sekaligus kesal dengan pertanyaannya.
“Ah, iya? Yah, justru karena itulah aku menutupi wajahku. Kalau hanya kamu yang mengenalku tentu tidak adil ya? Siapa namamu?” tanyanya sambil menyodorkan tangannya.
Dengan ragu-ragu aku membalas uluran tangannya, “Aku, Eun Ai. Song Eun Ai,” jawabku.
“Ah, Eun Ai. Senang berkenalan denganmu,” katanya ramah.
Aku masih bisa percaya kalau aku bertemu artis di gedung SM Entertainment ketika menjemput Whee Na onni, tapi kalau bertemu dalam keadaan seperti ini siapapun juga pasti akan kaget kan?
Tiba-tiba aku teringat kalau bis sudah hampir sampai di halte dekat rumahku.
“Ah, aku harus turun di sini,” kataku sambil kemudian berusaha beranjak dari bangku, tapi Nickhun oppa menarikku.
“Di dekat sini ada kedai toppoki yang terkenal enak, kamu tau kan? Song’s Toppoki. Bagaimana kalau besok kita janjian bertemu di halte ini lalu makan Toppoki bersama?” tanyanya.
“Aa..aku,” aku hendak menjawab tapi bis sudah berhenti. Dengan bimbang akhirnya kuputuskan berlari keluar bis.
“Tidak menjawab berarti kuanggap iya!” teriak Nickhun oppa. Untung saja penumpang bis yang baru saja kunaiki hanya sedikit.
Nafasku belum beraturan akibat berlari turun dari bis tadi. Aku kemudian mencoba mengatur nafas dan duduk di bangku halte.
Besok sore, di sini, aku dan Nickhun 2PM akan makan bersama di kedai Song’s Toppoki yang tidak lain tidak bukan adalah kedai keluargaku??? Memikirkannya saja sudah membuat nafasku terengah-engah kembali.
*****
selanjutnya di My Sisters' Secret #part3
Pagi ini sudah dimulai dengan pertengkaran antara dua onni’ku. Ini akibat insiden kemarin. Ditambah dengan keputusan Mi Hae onni untuk membiarkanku pulang sendiri ke rumah.
“Kamu ini bagaimana sih? Pacaran sih oke pacaran, tapi masa kamu biarin adik kecil kita pulang sendiri?” kata Whee Na onni. Saat ini kami sedang sarapan di ruang makan.
“Sudahlah onni, aku kan sudah dewasa,” kataku berusaha menenangkan.
Label: fanfiction
Posting Komentar