semua nama cuma dipinjam, sifat, tempat, dan kejadian semuanya hasil karanganku belaka
Seorang gadis berdiri gelisah di koridor sekolah, tepat di depan ruang kepala sekolah. Dia mengigit-gigiti bibir bawahnya, pertanda dia sedang dalam kegelisahan.
Dua hari yang lalu dia tertangkap akan kabur dari jam pelajaran untuk menuju ke tempat kerja sambilannya yang jelas-jelas dilarang oleh sekolah. Selama ini dia mendapatkan beasiswa dari sekolah. Gadis miskin sepertinya tidak akan mampu bersekolah di sekolah semewah Horikoshi Gakuen kalau bukan karena mendapat beasiswa. Dan sekarang karena kejadian dua hari yang lalu dia dipanggil ke ruang kepala sekolah. Kalau beasiswanya dicabut sekarang, maka ia tidak akan melanjutkan sekolah lagi.
Pintu ruang kepala sekolah tiba-tiba terbuka. Seorang wanita separuh baya dengan rambut disasak cukup tinggi melongok dari dalam ruang tersebut.
“Hoshino, cepat masuk! Tunggu apa lagi,” kata wanita yang bernama Hanazaki. Beliau adalah wakil kepala sekolah di Horikoshi Gakuen.
Chiaki mengangguk pasrah lalu perlahan berjalan memasuki ruang kepala sekolah.
“Hoshino Chiaki desuka?” tanya kepala sekolah di balik mejanya. Kepala sekolah Horikoshi Gakuen adalah seorang pria paruh baya dengan wajah hangat. Beliau disegani namun juga dikagumi oleh seluruh siswa-siswi Horikkoshi Gakuen.
Chiaki mengangguk, “Haii,”
Kepala sekolah tersenyum. “Daijoobu. Tidak perlu takut begitu kepada saya. Saya tahu alasanmu membolos kemarin bukan alasan yang buruk bukan?”
Chiaki mengangguk, “Saya…saya harus bekerja untuk biaya sekolah adik-adik saya, sensei,”
Kepala sekolah mengangguk. “Saya tahu. Tapi itu tetap bukan tindakan yang baik. Kamu bisa bersekolah di sini karena beasiswa prestasi bukan?”
Chiaki mengangguk.
“Karena itu sebaiknya kamu tidak bekerja paruh waktu dengan jadwal yang memotong jam belajarmu,” lanjut Kepala Sekolah.
“Wakarimashita. Saya salah pak. Bapak boleh hukum saya apapun, tapi tolong jangan cabut beasiswa saya,” kata Chiaki setengah memohon.
Kepala sekolah tertawa. “Saya bukan orang yang suka menghukum kau tahu? Saya lebih suka memberikan tugas padamu. Tugas ini mungkin dapat membantu keuangan keluargamu juga,”
“Apa pak? Apapun akan saya lakukan pak,” kata Chiaki.
“Baiklah. Tugas untukmu adalah menjadi guru les privat,” jawab Kepala Sekolah.
Chiaki tertegun, “Gu,,,guru les privat?”
Kepala sekolah mengangguk lagi, “Ya, kau tau kan rumor bahwa sekolah kita hanya menerima artis-artis bodoh dengan uang banyak,”
“Tapi itu tidak benar pak! Buktinya saya sekolah di sini,” potong Chiaki.
Kepala sekolah tersenyum, “Kamu pintar sekali memuji….tapi sayangnya sebagian besar dari berita itu benar. Beberapa siswa artis di sekolah kita tidak memiliki nilai cukup dalam akademisnya. Terutama di matematika. Dan ini membuat bapak resah,”
Chiaki berpikir sejenak lalu akhirnya berkata, “Jadi bapak ingin saya menjadi guru les privat bagi para artis-artis itu?”
Kepala sekolah menjetikkan jarinya.”Tepat sekali. Tapi tenang saja, kamu hanya mendapat tugas 1 diantara ratusan artis itu,”
“Lalu siapa yang harus saya ajari pak?” tanya Chiaki.
Kepala sekolah menyerahkan seberkas file pada Chiaki.
Chiaki membuka mapnya dan mendapati sebuah formulir dengan nama pemiliknya di bagian atas.
“Yamada Ryosuke desu. Yoroshiku Onegaishimasu,” kata pemuda dihadapan Chiaki sambil menunduk.
“Watashi no namae wa Chiaki desu. Doozo Yoroshiku,”
Chiaki balas menunduk.
“Mmm, silahkan duduk,”
Ryosuke mengangguk lalu menarik kursinya dan duduk. Chiaki juga melakukan hal yang sama.
“Jadi, saya rasa,”
“Tidak perlu pakai bahasa formal. Kita kan seumuran,” potong Ryosuke.
Chiaki mengangguk, “Yokatta. Hmm, kalau gitu kita mulai saja dengan bab Pertidaksamaan Linear,”
“Ya, baiklah. Bab itu paling tidak kumengerti,”
“Bisa dilihat dari nilai ulanganmu sih,”
Ryosuke terkejut, “Pasti si Kepala Sekolah itu memberikan semua data keburukan nilaiku padamu,”
Chiaki mengangguk, “So desu. Dakara lebih baik kita mulai sekarang,”
Ryosuke garuk-garuk kepala lalu menggenggam pensilnya dan berkata, “Baiklah.”
Dan pelajaran tambahan yang pertama pun berlangsung dengan baik.
***
“Baiklah, bagian mana yang belum kau mengerti?” tanya Chiaki melihat wajah Ryosuke yang bingung.
“Mmm,, angka 5 itu didapat dari mana ya?” tanyanya.
Chiaki mendekat ke kursi yang diduduki Ryosuke lalu mengambil pensil yang dipegangnya.
“Jadi karena di langkah sebelumnya kita sudah pakai rumus abc dan menemukan ini, makannya hasilnya kita masukan ke langkah berikutnya. Mengerti?”
Ryosuke berusaha memahami apa yang dijelaskan Chiaki. Ia tersenyum kemudian mendongak. “Mengerti”
Akibatnya sekarang wajah mereka begitu dekat. Mata mereka tepat bertatapan. Wajah Chiaki mulai panas dan akhirnya dia memalingkan pandangannya.
“Mmm, kita lanjutkan lagi saja.”
Ryosuke tersenyum nakal melihat perubahan wajah Chiaki.
“Yosh! Baiklah Bu Guru!” katanya penuh semangat.
***
“Sugoiii’ne!” teriak Rumiko, “Jadi setiap sore kau dan Yamada Ryosuke berduaan di kelas?”
Chiaki menoleh pada Rumiko, “Tidak seperti itu juga sih keadaannya. Kami kan belajar,” jawabnya berusaha biasa saja.
“Hmm, benarkah?” tanya Rumiko yang tiba-tiba tepat berada di depan wajah Chiaki.
Seberkas ingatan tentang kejadian kemarin sore terlintas di benak Chiaki. Wajahnya kembali memerah.
Rumiko tertawa.
“Tuh kan… Pasti kalian ada apa-apanya,” katanya.
Chiaki mengalihkan pandangannya, “Jangan ngawur kau.”
Rumiko hanya tertawa sambil geleng-geleng melihat Chiaki yang salah tingkah.
***
“Jadi rumusnya…,” Chiaki baru saja akan melanjutkan pelajaran ketika Ryosuke memotong kalimatnya.
“Mmm… Chiaki-sensei, bisakah kita tidak membicarakan pelajaran sehari saja?” tanyanya, “Aku bosan”
Chiaki melongo, tp kemudian tersadar. “Tidak boleh. Aku diperintahkan untuk mengajarimu matematika, kau ingat?”
“Masa tidak boleh?” pintanya.
Chiaki menggeleng.
“Hmm, kalau begitu begini saja deh. Kalau membicarakan bukan pelajaran tidak di sini boleh kan?”
“Maksudmu?”
“Maksudku besok malam aku jemput ke rumahmu jam tujuh,”
“Hah?” Chiaki terkejut.
“Jangan terkejut begitu lah. Anggap saja ini ajakan kencan dari seorang siswa bernama Yamada Ryosuke, kepada seorang siswi bernama Hoshino Chiaki. Atau jangan-jangan ini ajakan kencan pertamamu ya?”
“Ta…tapi kamu tidak akan tahu rumahku,” Chiaki berusaha menolak.
“Kau saja bisa mendapatkan data semua nilai ulanganku. Aku pasti bisa dapat alamatmu,” jawabnya dengan senyum nakalnya, “Sudah. Katanya tidak boleh membicarakan yang bukan pelajaran di sini. Cepat lanjutkan pelajaranmu tadi.”
Chiaki hanya melongo. Cepat-cepat ia berbalik dan menghadap papan tulis.
Bagaimana bisa aku melanjutkan pelajaran kalau wajahku seperti terbakar begini.
***
“Yamada. Sebaiknya kamu membatalkan kencan itu,” kata manager Hey! Say! JUMP, Aori-san.
Ryosuke mendengus kesal, “Kenapa harus dibatalkan?! Jangan sok ngatur deh,”
“Kamu ini. Besok itu kita ada jumpa pers,”
“Tidak ada di jadwal kan? Kau saja yang menambahkannya tiba-tiba,”
“Jadwal dadakan pun harus tetap di patuhi Yamada. Kau ini artis dan akan sangat tidak baik kalau kau ketahuan punya pacar,”
“Tidak ada urusannya denganmu,”
“Pokoknya kau tetap tidak akan bisa pergi kemanapun besok malam,”
“Urusai! Oreniwa kankeinai!”
Brak! Ryosuke meninggalkan ruangan tersebut dengan penuh emosi.
***
Chiaki berjalan di koridor sambil tesenyum. Akhir-akhir ini hatinya tidak karuan. Apalagi setelah ajakan kencan dari Ryosuke kemarin. Dia baru saja akan sampai di kelas pelajaran tambahannya ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.
From : 81xxxxxx
Ano wa Ryosuke desu. Gomenasai. Aku tidak bisa datang pelajaran tambahan hari ini. Tapi nanti malam tetap akan ada kencan. Tapi, gomenasai’ne! aku tidak bisa menjemputmu. Datang saja ke Kirameki Restaurant nanti malam pukul 7. Aku akan ada di sana.
Kirameki Restaurant? Itu kan restaurant ternama yang seringkali dipakai Johnny’s Entertainment. Chiaki tersenyum lalu memutar langkahnya dan berjalan menuju ke pintu gerbang. Walaupun dia juga tidak punya baju bagus. Tapi dia ingin tampil sebaik mungkin dihadapan Ryosuke malam ini.
***
“Kau benar-benar licik Aori-san. Setidaknya biarkan aku membatalkan janjiku dengan Chiaki. Berikan ponselku!” bentak Ryosuke.
“Tidak perlu! Aku sudah membatalkannya untukmu. Dan aku memberikan kegiatan yang lebih baik untuknya,”
“Apa maksudmu?!” tanya Ryosuke marah.
“Kepada semua personil Hey! Say! JUMP diharapkan untuk tampil ke depan panggung,”
Ryosuke menoleh. Terpaksa dia naik ke panggung. Dia masih memikirkan kata-kata Aori dan mencemaskan Chiaki. Ryosuke sangat gelisah.
Dia terkejut. Pandangannya tertuju pada seorang gadis bergaun biru muda sederhana diantara kerumunan para fans dan wartawan. Chiaki ada di sana. Ada di tempat yang sama dengannya dan menyaksikan jumpa pers ini.
Jumpa pers dimulai. Pandangan Ryosuke tidak berpaling dari Chiaki. Chiaki juga terus memandang gelisah ke arahnya. Matanya seperti ingin menanyakan banyak hal padanya dan ini membuat Ryosuke semakin merasa bersalah.
“Pertanyaan saya untuk Yamada Ryosuke. Dengar-dengar anda dekat dengan artis Nishiuchi Mariya ya? Lawan main anda di dorama yang terbaru itu,”
Ryosuke terkejut lalu segera menjawab, “Tidak. Itu tidak benar. Hubungan kami hanya hubungan kerja sebagai lawan main.”
“Kemarin kami berhasil menemukan sebuah gambar tentang anda,” kata salah seorang wartawan, “Akan segera ditampilkan di slide,”
Lalu slide terbesar yang ada di depan menyala. Tampaklah dalam gambar Ryosuke bersama seorang wanita berambut ikal dalam sebuah kelas. Di foto tersebut wajah si wanita tidak terlihat, tapi Ryosuke tahu pasti kalau itu adalah Chiaki. Ia memandang cemas kepada Chiaki. Chiaki juga memandangnya dengan raut wajah yang tak kalah cemas.
Foto pertamapun berganti. Foto yang kedua lebih jelas menampakkan mereka sedang berpandangan. Wajah chiaki terlihat jelas. Entah siapa dan bagaimana cara mereka mendapatkan foto itu. Tapi yang jelas sekarang semua mata tertuju pada Chiaki.
“Jadi siapakah gadis itu sebenarnya? Apa hubungan anda dengan gadis itu?” tanya wartawan itu.
Ryosuke terdiam.
Aori berbisik dari belakang, “Jawab Ryosuke! Jawab! Kalian tak ada hubungan apa-apa,” perintah Aori.
Ryosuke masih diam. Dalam hatinya dia sangat marah pada Aori. Dia baru mengerti maksud sebenarnya dari perkataan Aori yang tak sempat ditanyakannya pada Aori.
Karena Ryosuke tidak menjawab dan mengeluarkan sepatah katapun, Aori segera mengambil microphone dan menjawab pertanyaan dari wartawan.
“Tentu saja gadis itu bukan siapa-siapa Ryosuke. Dia adalah siswi Horikoshi Gakuen yang diberi tugas khusus untuk mengajari Ryosuke beberapa pelajaran yang tertinggal karena kesibukannya. Tidak lebih,” kata Aori.
Mendengar hal itu tangisan Chiaki tidak terbendung lagi. Tapi ia tak mau Ryosuke tahu bahwa ia menangis. Ia segera melnangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Seharusnya dia tahu kalau sejak awal Ryosuke hanya menganggapnya sebagai gadis miskin si guru les. Tidak lebih. Dan dia tidak mungkin dicintai oleh seorang artis ternama seperti Ryosuke. Itu hanya mimpi.
Chiaki berlari dan terus berlari. Sampai akhirnya dia lelah menangis dan berlari. Kemudian ia kembali ke rumahnya. Kembali ke kehidupan nyata bahwa ia dan Ryosuke tidak akan pernah bersatu. Bahwa segalanya hanya mimpi.
***
Esoknya, Chiaki berjalan lesu ke sekolah. Dia berniat mengundurkan diri sebagai guru les Ryosuke hari ini. Dia tidak ingin bertemu dan mengajari Ryosuke lagi. Ia tidak akan sanggup bahkan hanya untuk menatap wajah Ryosuke. Dia akan mencoba meminta hukuman lain kepada Kepala Sekolah. Kalau tidak bisa, yah…dia terpaksa merelakan masa sekolahnya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi berakhir.
Jauh dari gerbang khusus siswi Horikoshi Gakuen, sederet mobil sudah berjajar. Chiaki menegakkan kepalanya. Ia melihat sekerumunan wartawan yang sedang menanti sesuatu di gerbang. Apa ya? Apa ada berita tentang artis remaja yang baru? Hal seperti ini memang seringkali terjadi di Horikoshi Gakuen. Tapi hari ini sepertinya aneh sekali. Bahkan Chiaki tidak mendengar gossip apapun tentang artis-artis disekolahnya.
Belum habis kebingungan Chiaki, ia dikejutkan dengan teriakan seorang wartawan, “Itu gadis yang di sana adalah gadis di dalam foto kemarin”. Dan tiba-tiba seluruh mata wartawan dan beberapa siswa-siswi yang lewat sudah tertuju padanya. Insting Chiaki berkata bahwa ia harus segera melarikan diri.
Tapi belum sempat ia melangkahkan kaki, seseorang menarik tangannya. Orang itu menarik Chiaki hingga ia terpaksa berlari lebih cepat. Chiaki berusaha melihat orang yang menariknya. Yamada Ryosuke. Chiaki tahu seharusnya ia melepaskan tangannya dari genggaman Ryosuke. Tapi entah kenapa dia memilih untuk mengikuti Ryosuke. Hingga akhirnya mereka berbelok ke sebuah gang dan berhenti di sana sambil mengatur nafas.
“Ryo…mmm, Yamada-san lepaskan tanganku!” pinta Chiaki setelah berhasil mengatur nafas.
Bukannya melepaskan tangannya, Ryosuke malah menggenggam tangan Chiaki dengan semakin erat.
“Yamada!”
Tapi bukannya melepaskan genggaman tangannya, Ryosuke malah memengang bahu Chiaki.
“Yama…,” belum selesai Chiaki berteriak, telunjuk Ryosuke sudah ada di bibirnya.
“SSSssstttt…nanti kita ketahuan ada di sini. Mau kamu dikejar wartawan-wartawan itu?” tanyanya.
“Tapi…,” Chiaki memelankan sedikit suaranya, “Kenapa mereka mengejar kita?”
Ryosuke tertawa, “Kamu punya TV tidak sih di rumah?”
“Shimatta! Tentu saja aku punya,” jawab Chiaki.
“Kalau gitu kenapa kamu gak nonton acara gossip malam atau pagi tadi?” tanya Ryosuke sambil tertawa.
“Aku sibuk. Tidak ada waktu untuk menonton gossip,” jawab Chiaki.
“Kalau begitu baca ini,” kata Yamada sambil memberikan sebuah tabloid pada Chiaki.
Dengan enggan Chiaki membalik tabloid itu dan membaca headline di sampul depannya. Beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah, Chiaki terkejut.
LIPUTAN JUMPA PERS HEY! SAY! JUMP :
YAMADA RYOSUKE MENYATAKAN CINTANYA PADA SEORANG SISWI HORIKOSHI GAKUEN
Chiaki segera menatap Yamada, mencoba mencari penjelasan tentang apa yang tertera di sana. Yamada tersenyum nakal lalu mengaitkan jarinya ke sela-sela jemari Chiaki.
“Jadi walaupun kamu gak nonton secara live, aku tetep mau minta jawabanmu atas pernyataan cintaku kemarin. Gimana?” tanya Yamada dengan senyum jahilnya.
Chiaki tertawa lalu memasang tampang berpikirnya. “Mmmm,, aku mau liat siaran ulangnya dulu ah, baru jawab,” jawabnya diikuti dengan senyum jahil yang ia pelajari dari Yamada.
“Udah ah, ayo kita masuk sekolah. Kamu hari ini ulangan matematika kan?”
Chiaki menarik tangan Yamada. Yamada mengikuti langkah Chiaki. Mulai hari ini mereka dan seluruh Jepang tahu kalau mereka berdua saling mencintai.
Posting Komentar