Pagi ini sudah dimulai dengan
pertengkaran antara dua onni’ku. Ini akibat insiden kemarin. Ditambah dengan
keputusan Mi Hae onni untuk membiarkanku pulang sendiri ke rumah.
“Kamu ini bagaimana sih? Pacaran
sih oke pacaran, tapi masa kamu biarin adik kecil kita pulang sendiri?” kata
Whee Na onni. Saat ini kami sedang sarapan di ruang makan.
“Sudahlah onni, aku kan sudah
dewasa,” kataku berusaha menenangkan.
“Gak usah membela Mi Hae, kamu
ini masih belum dewasa. Kalo ketemu orang jahat di jalan gimana. Siapa yang
jagain kamu?” kata Whee Na onni.
“Tapi dia toh gak ketemu
siapa-siapa kan di jalan!” protes Mi Hae onni.
Mendengar kata tidak bertemu
siapa-siapa aku jadi ingat kalau aku bertemu dengan ‘siapa-siapa’ semalam dan
mengingatnya membuat wajahku memerah.
“Nah kan, kamu kenapa, Eun Ai?”
tanya Whee Na onni begitu melihat perubahan raut wajahku.
Aku langsung gugup. “Engga. Aku
gak ketemu siapa-siapa kok semalam,” jawabku sambil keluar dari ruang makan.
Whee Na onni dan Mi Hae onni yang
tadi sibuk bertengkar kini berpandangan.
*****
“Dia pasti bertemu siapa-siapa
semalam,” kata Mi Hae curiga.
“Iya, jawabannya terlalu
mencurigakan,” tambah Whee Na.
Dan merekapun melupakan
pertengkaran hebat mereka.
*****
Hari ini aku harus mengikuti
kegiatan klub sampai sore. Baiklah, aku mengaku. Ini hanya alasanku saja untuk
bisa melewati halte itu di sore hari. Jadi begini rencananya, aku akan
berpura-pura lewat dengan santai di halte itu. Kalau Nickhun oppa tidak ada di
sana, maka aku akan berpura-pura seperti
tidak berjanji bertemu dengan siapapun. Rencana yang sempurna kan. Aku
memang cerdas.
Sebentar lagi bis yang aku naiki
berhenti di halte dekat rumahku. Aku jadi deg deg’an. Ahhh,, babo! Perasaan apa
sih ini??
Bis berhenti. Itu artinya sudah
saatnya aku turun. Aku menenteng tas sekolahku dan segera turun dari bis.
Sesampainya di halte, aku menengok ke kiri dan ke kanan. Berharap seseorang ada
di sana. Eits, apa tadi yang kupikirkan terakhir kali?! Tidak, aku tidak
mengharapkannya. Pokoknya tidak!
Halte itu kosong. Sudah kuduga,
Nickhun oppa tidak mungkin serius mengajak pergi orang yang ditemuinya di bis
tanpa sengaja. Lebih baik aku pulang saja. Aku pun berbalik badan dan hendak
berjalan menuju rumahku.
“Hei, kau! Eun Ai!” teriak
seseorang dari belakangku. Aku segera menoleh, dan benar saja! Aku mendapati
sosok Nickhun oppa ada di sana.
“Ku..kupikir oppa tidak datang,”
kataku setengah tidak percaya.
“Aku orang yang selalu menepati
janji ya!” katanya dengan nafas terengah-engah. Dia seperti habis berlari
beberapa kilometer. Ditengah nafasnya yang terputus-putus itu sempat-sempatnya
ia berkata, “Aku tidak percaya kau masih SMA”
“Memangnya kenapa kalau aku masih
SMA?” protesku.
“Tidak apa-apa sih,” jawab
Nickhun oppa yang nafasnya sudah kembali teratur. Tiba-tiba ia menarik
tanganku, tentu saja, jelas! Aku terkejut. “Ayo kita cepat ke Song’s Toppoki,
bisa-bisa kita tidak dapat tempat.”
Eeehhhhh??!!! Sungguh aku
benar-benar terkejut sampai tidak mampu berkata apa-apa lagi. Padahal daritadi
aku berniat memberitahu kalau Song’s Toppoki itu milik ayahku sendiri. Tapi
tidak satupun kata keluar dari mulutku.
*****
Menunggui Song’s Toppoki adalah
perkerjaan sambilan semua anggota keluarga Song. Semua wajib ambil bagian dalam
mengelola kedai keluarga mereka itu. Hari ini giliran Mihae dan Ayahnya yang
menjaga.
Mi Hae duduk di balik meja kasir
sambil meneliti kembali nota-nota pengiriman bahan makanan dari pasar. Memang
selalu saja ada pekerjaan yang harus dilakukan ketika menjaga kedai, selain
tentu saja tugas utama untuk melayani pengunjung.
Mendadak dua orang pengunjung memasuki kedai mereka. Mi Hae
segera meletakan nota di meja dan menyapa pengunjung yang baru datang, “Selamat
datang. Meja untuk berapa orang?” Mi Hae menghadap pengunjung yang baru datang
dan terkejut bukan main. Di hadapannya berdiri Nichkhun, anggota 2PM, boyband
yang terkenal itu. sebenarnya sih kedai mereka sudah sering dikunjungi para
artis –efek begitu terkenalnya Whee Na di kalangan artis- tapi satu bagian yang
paling membuat Mihae kaget adalah Nickkhun datang bersama adiknya, Eun Ai.
“Untuk 2 orang,” jawab Nickkhun.
Eun Ai dibelakangnya memberikan isyarat pada Mi Hae untuk tidak mengatakan
apapun pada Nickkhun.
“Ah, ba..baik di meja 8,” jawab
Mi Hae agak gugup.
Meja 8 letaknya di pojok. Eun Ai
menghela nafas lega. Setidaknya ia tidak harus sering berhadapan dengan ayahnya
ataupun pegawai kedai. Tapi tunggu dulu. Gawat! Meja 8 itu dekat dengan pintu
menuju rumah mereka. Sebenarnya kalau kedai sedang ramai begini tidak akan ada
yang menuju ke sana. Eun Ai berharap dalam hati, Jangan sampai ibu, nenek atau
Whee Na-onni pergi ataupun pulang dalam waktu dekat ini.
“Kau mau pesan apa?” tanya
Nickkhun.
Eun Ai terkejut, “Eh, apa?”
tanyanya balik.
“Kamu mau pesan apa? Kenapa sih?
Sepertinya kamu gugup…,”tanya Nickkhun.
Eun Ai menggeleng, “Tidak, tidak
ada apa-apa kok. Aku pesan….sama sepertimu saja,” jawab Eun Ai.
Nickkhun menatap curiga kemudian
mengangguk dan memanggil pelayan. Eun Ai segera menyembunyikan wajahnya begitu
pelayan datang. Nickkhun menyampaikan pesanan mereka tanpa tambahan
sepatahkatapun dari Eun Ai. Begitu pelayan pergi barulah Eun Ai kembali ke
posisi duduk normal. Pemesanan, sukses!
“Ah, sebenarnya aku sering
melihatmu, bahkan sebelum kita bertemu,” kata Nickkhun.
“Eh, apa?” setengah terkejut Eun
Ai menanyakan kembali pernyataan Nickkhun.
“Aku sudah sering melihatmu dan
kebetulan berkesempatan berkenalan secara langsung karena peristiwa kemarin
malam. Kau menonton konser 2PM yang terakhir juga kan?” tanyanya.
Eun Ai mengangguk dengan kikuk.
Orang ini memperhatikannya sejak lama? Nickkhun 2PM memperhatikannya sejak lama dan menunggu waktu
yang tepat untuk berkenalan dengannya?! Ini hal yang sulit dicerna oleh akal
sehat.
Tiba-tiba terdengar suara yang
tidak asing lagi dari arah pintu masuk.
“Aku pulang. Hari ini aku bawa
banyak pengunjung lhoo ayah,” teriak orang yang tidak lain tidak bukan adalah
Whee Na-onni.
Eun Ai segera menoleh kaget. Dari
kejauhan dia melihat ayahnya keluar dari dapur dan menghampiri Whee Na.
sementara itu di belakang kakaknya, terlihat segerombolan laki-laki yang adalah
sebagian personel Super Junior (Kyuhyun, Donghae, Eunhyuk, Shindong). Belum
tentu lengkap sih, tapi pasti sudah cukup untuk memergoki Eun Ai di sudut.
Kekhawatiran Eun Ai membuatnya lupa kalau ada Nickkhun yang pasti mengenal
orang-orang yang baru datang.
“Hei, kalian! Wah, kebetulan
sekali kita bisa bertemu di sini. Hei, Whee Na!” panggil Nickkhun.
Habis sudah riwayatku, pikir Eun
Ai. Ia segera menyembunyikan wajahnya.
“Ah, khunnie-oppa! kebetulan
sekali kau makan di sini,” Whee Na membalas sapaan Nickkhun lalu
menghampirinya. Kyuhyun dan Shindong mengikutinya dibelakang. Mereka pun
bergantian menyapa Nickkhun.
“Iya, aku ingin menunjukkan
tempat ini pada temanku,” jawabnya sambil menunjuk Eun Ai.
Seketika itu juga wajah tersenyum
Whee Na berubah menjadi wajah kaget, melihat adiknya yang kemudian dengan
pasrah menunjukkan wajahnya perlahan. Eun Ai meringis polos ketika menatap Whee
Na.
“Eun Ai?? Kalian?” tanya Whee Na.
“Kalian sudah saling kenal?”
tanya Nickkhun agak bingung.
Eun Ai segera berdiri dan
berkata, “Aku bisa menceritakan semuanya sekarang juga kalau onni minta.”
“Onni?!”
*****
“Jadi kamu adik Whee Na-ssi?”
tanya Nickkhun.
Eun Ai yang baru saja datang
sambil membawa nampan berisi pesanan mereka –yang sekarang duduk di meja paling
besar karena semuanya bergabung jadi satu- mengangguk pelan sambil menata
makanan di meja.
“Kalian bertemu dimana?” tanya
Whee Na.
“Di bus tadi malam. Tapi
sebenarnya aku sudah beberapa kali melihat adikmu. Aahhh,, pantas saja aku
sering melihatnya. Dia adikmu,” jawab Nickkhun menjelaskan.
“Kenapa kamu tidak cerita?” tanya
Whee Na pada Eun Ai.
“Onni kan tidak tanya,” jawab Eun
Ai cepat.
“Eun Ai!” Whee Na terbawa emosi.
Melihat reaksi kakaknya ia segera bersembunyi di balik punggung ayahnya yang
baru saja datang membawa makanan.
“Whee Na.. Sudahlah, adikmu kan
juga tidak salah. Jangan memarahinya begitu,” kata Ayahnya sambil menyajikan
makanan di meja, “Ayo silahkan dinikmati menu andalan restoran kami.”
“Abeoji selalu saja membela Eun
Ai,” protes Whee Na.
“Tapi ayahmu benar kok, Whee na.
masa kamu memarahinya karena dia bertemu dengan Khunnie,” kata Donghae yang
ditambahi dengan anggukan dari Mi Hae yang sudah duduk manis disampingnya.
“Yahhhh,, ya… sudahlah,” Whee Na
menghela nafas sebelum akhirnya menetralkan emosinya, “Emosiku memang tidak
beralasan,” katanya.
Kyuhyun mengacak rambut
kekasihnya itu, “Nah kan, sudah kita mulai makan saja,” kata Kyuhyun.
“Ya, ayo ayo mulai makan.
Sepertinya ini sangat lezat paman,” kata Shindong yang sudah tidak sabar lagi
untuk menikmati hidangan yang tersedia.
“Ayo makan, Hyuk Jae,” kata Donghae.
Eunhyuk mengangguk dalam diam
lalu makan. Daritadi seperti ada pemikiran aneh diotaknya. Dan pikiran itu
membuatnya kesal sendiri.
*****
selanjutnya di My Sisters' Secret #part4
hari ini aku tidak ada kegiatan klub, jadi bisa pulang lebih cepat. Hari ini aku ingin bermalas-malasan sajalah di rumah, mumpung ini juga bukan jadwalku jaga kedai. Lebih baik aku cepat-cepat pulang.
Sesampainya di gerbang aku melihat seseorang yang sepertinya kukenal berdiri bersandar ke mobil putih mewah. semakin dekat dengan gerbang dan orang itu wajahnya semakin jelas terlihat. Itu Hyukjae-oppa. Sedang apa dia di sini?
Beberapa saat kemudian Hyuk-ppa menoleh dan menyadari kehadiranku.
maaf ya lama, kemaren-kemaren sibuk sih *sibuk ngegalau. hahaha*
Label: fanfiction
Posting Komentar