Title: Ring ding dong
OST : Ring Ding Dong –
SHINee
Cast :
Choi Minho
Yoon Aeri
Lee Taemin
Other Immortal’s member : Wheena, Mihae, Eunhyi, Yena
Other SHINee’s member
Super Junior’s member
NOTE : Seperti
biasa, semua nama tokoh cuma dipinjem. Bukan milikku *IYALAH!*. terus buat
Immortal itu punyanya Tamara Evelyne. Terus yang asli buatanku cuma tokoh Yoon
Aeri (ceritanya aku) buat anggota Immortal yang lain yang bikin namanya juga
Tamara Evelyne, tapi itu punya tiap individu yang berbeda. Penjelasan soal hak
milik cukup sampai di sini.
Jadi ini ceritanya romantic friendship. Sorry saya agak
maruk. Gapapa lah yaaa.. Cuma Fanfict doang :D Terus ini juga tanpa cover. Tanpa
persiapan. Ide datang begitu saja. banyak banget pinjem nama acara talkshow
atopun radio. Hehehe… bukan punyaku juga kok itu. terus yaahhh.. kalo deskripsi
tentang Aerinya jadi keren banget yaaaahhh,, namanya juga cerita. Gak seru yah
kalo gak begitu *ortoritas pengarang*. Selamat menikmati aja deh ;)
RING DING DONG
sebelumnya di Ring Ding Dong #part1
Tiba-tiba Taemin menarik Aeri ke
pelukannya. Aeri terkejut, tapi tak bisa melepaskan diri dari pelukan hangat
Taemin. Ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar dan menangis saat
ini. tidak tertahan lagi beberapa tetes airmata meluncur di pipinya.
Taemin menepuk punggung gadis itu
untuk menenangkannya.
“Sudahlah, jangan menangis. Aku…
tidak ingin melihat gadis yang kusukai menangis,” katanya.
Onew, Junghyun, dan Key saling
berpandangan. Ada apa diantara 2 orang ini (Minho dan Taemin)? Mengapa mereka
yang biasanya ramai berdua hari ini bahkan tidak saling menyapa? Ini tentu saja
mengkhawatirkan. Kekompakan SHINee seperti sedang diuji.
“Hei, kalian berdua kenapa sih?”
tanya Junghyun yang sudah tidak tahan dengan diamnya mereka.
Minho seperti baru bangun dari
tidurnya. “Mmm.., tidak apa-apa kok,” jawabnya.
“Sudah jelas bohong kalau kau
bilang tidak apa-apa. Kalau ada masalah harus diselesaikan. Jangan sampai group
kita jadi tidak kompak,” nasihat Onew.
“Ya, Hyung. Tenang saja,” kata
Minho masih tidak bersemangat.
“Kami cukup professional kok,”
tambah Taemin.
Onew hanya geleng-geleng kepala.
Begitu juga dengan Key. Mereka sudah angkat tangan untuk menanyakan langsung
pada mereka berdua. Mungkin mereka harus mencari informasi sendiri.
***
“Onni…,” Aeri mendekati Mihae
yang sedang duduk di sofa ruang tengah dorm mereka.
Mihae melepaskan headsetnya.
“Kenapa sayang? Sini sini, cerita
sama Onni,” kata Mihae yang memang paling dekat dengan Aeri.
“Ituu.. Aku jadi gak enak gini
sama Minho-oppa sama Taemin-oppa,” Aeri mulai bercerita.
Mihae mulai mencium bau-bau
ketidakberesan. “Memangnya kenapa? Kau belum cerita apa-apa kan sama, Onni..
ckckck,” kata Mihae.
“Yah, soalnya aku takut dikira
kePDan. Tapii..kemarin Taemin-oppa mengatakan hal yang sangat mengejutkan
ketika aku menangis di hadapannya,” kata Aeri.
“Heee?? Kapan kau menangis?
Kenapa aku tidak tahu? Apa yang Taemin katakan?” Mihae menyodorkan banyak
pertanyaan.
“Kemarin. Pulang dari SSTP.
Diaaa.. dia blg ‘aku tidak mau melihat gadis yang kusukai menangis’,” kata
Aeri.
Mihae tidak bisa menahan tawa.
“Aaahhh,, onni kok malah ketawa
sih,” protes Aeri.
“Yaahh,, lagian kalian lucu sih.
Aku jadi bayangin adegan kalian itu. ya udah kamu gimana sama Taeminnya?” tanya
Mihae.
“Aku, biasa aja… malahan hari
sebelumnya ada kejadian yang lebih parah lagi sama Minho oppa,” kata Aeri.
Mihae makin penasaran. “Lebih
parah? Ayo,ayo cepat cerita!” Mihae tidak sabar mendengar cerita dongsaengnya
yang ternyata punya banyak penggemar rahasia ini.
“Itu.. waktu itu kan aku lagi di
ruang istirahat..,” Cerita Aeri terus berlanjut sampai bagian klimaksnya, yaitu
adegan ciumannya dengan Minho. Mihae terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
“Kalian.... BERCIUMAN!!!” Mihae
berteriak saking terkejutnya. Aeri segera membungkam mulut onninya itu.
“Sssttt,, ya gak usah diteriakin juga
kali. Ga harus semua orang pada ngerti,” protesnya.
Mihae tertawa. “Eh, maaf, maaf.
Habis beritamu sangat mengejutkan. Aku tidak menyangka kau sekarang sudah
dewasa,” Mihae menepuk pundak Aeri.
“Aduuh,, onni. Bukan itu
masalahnya. Masalahnya tuuhh aku jadi gak enak sama mereka berdua,” kata Aeri.
“Ya udah, kalo kamu ada rasanya
sama Minho-oppa ya sama Minho-oppa aja lah. Jangan ngasih harapan ke Taemin.
Kalian udah ciuman pula! Ckck..,” nasihat Mihae.
Aeri berpikir sejenak. “Tapi
onni, aku gak masuk kriteria wanita idamannya Minho-oppa,” jawab Aeri.
“Aaahhh,, itu mah udah ada
scriptnya tau. Jangan terlalu dipikirin lah. Mending kamu cepet tentuin antara
Minho-oppa atau Taemin. Salah-salah kamu bisa bikin bubar SHINee tuh,” kata
Mihae.
“Hush.. Jangan sampe deh onni.
Amit amit,” kata Aeri.
“Bisa aja lhoo.. makanya sebagai
wanita dewasa kamu harus cepat memilih,” kata Mihae. Dia sengaja menggunakan
kata ‘wanita dewasa’ untuk mendorong semangat Aeri.
Aeri mengangguk, tapi di dalam
dirinya masih terus berpikir.
***
Dan datanglah harinya. Ketika
Aeri harus berhadapan langsung sekali lagi dengan kedua anggota SHINee itu.
Hari ini ia diundang ke Sukira untuk tribute to Super Junior sunbaenim. Tidak
seluruh anggota group diundang. Hanya Aeri, Mihae dan Eunhyi. Sementara dari
SHINee hanya Minho, Taemin dan Onew. Ada juga guest dari Miss A dan SNSD.
Sekalipun ruangan broadcast sukira terasa sangat penuh sesak, tapi tidak begitu
dengan yang dirasakan Aeri, Minho dan Taemin. Mereka merasa sepertinya hanya
ada mereka bertiga di ruangan ini. saling berpandangan.
“Aeri-ssi, siapa anggota Super
Junior yang paling sesuai dengan kriteriamu?” tanya Eunhyuk.
Aeri agak terkejut ditanya
seperti itu. Dia memang cukup akrab dengan Kyuhyun-oppa, tapi sebagai teman
main. Bukan ke arah situ. Apalagi sebenarnya Wheena lah yang diam-diam punya
hubungan khusus dengan maknae super junior itu. jadi dia harus menjawab siapa??
“Aahh,, sebenarnya tidak ada sih.
Kurasa aku masih sangat terlalu muda untuk memasangkan diri dengan Super
Junior-sunbaenim. Bukankah bahkan beberapa member cocok kupanggil ajussi?”
jawab Aeri diiringi dengan tawa.
“Aahhh,, begitu. Kalau begitu kau
lebih cocok dengan SHINee barangkali. Diantara member SHINee siapa yang
menurutmu paling sesuai dengan kriteriamu?” kali ini gantian Leeteuk yang
bertanya.
Mampus! Pikir Aeri. Ini nih
pertanyaan yang akan menjawab semuanya. Mihae menahan tawa di belakang Aeri.
“Mmmm.. mm..,” Aeri melirik ke
arah Minho dan Taemin.
“Ayoo siapa siapa? Wahh,, Aeri
mendadak gugup sekali ya? Ada apa ini??” tanya Eunhyuk dengan senyum jahilnya.
Aeri masih diam, menatap Minho
dan Taemin bergantian. Hingga akhirnya tatapan Aeri berhenti ketika
pandangannya terpaut dengan tatapan Minho.
“Katakan saja,Aeri-ssi,” mendadak
Taemin yang bersuara. Suaranya berat. Seperti merelakan sesuatu.
Aeri mengalihkan pandangannya
pada Taemin. Taemin tersenyum padanya sambil mengangguk.
“Jadi siapa yang kau pilih,
Aeri-ssi?” tanya Eunhyuk.
“Aku..pilih.. Minho-oppa,” jawab
Aeri akhirnya.
Semua yang ada di situ bertepuk
dan berkomentar riuh rendah.
“Nah, kalau begitu kita perlu
balik bertanya pada Minho. Minho-ssi,, siapa hoobaenim’mu yang paling mendekati
kriteriamu? Aahhh,, tapi kriteriamu yang dewasa, lebih tua darimu, serta
berwajah keibuan kan?” Eeteuk sampai hafal dengan kriteria itu.
Minho menggeleng. “Tidak kok.
Beberapa waktu ini kriteriaku sudah berganti. Aku lebih suka yang manis, imut,
dan punya tatapan polos,” kata Minho.
“Aaahh,, itu sangat Aeri-ssi
sekali yah?” Eunhyuk makin keras tertawa.
Minho mengangguk. “Yahh,, itu
memang Aeri-ssi,”
Seluruh ruangan bersorak makin
riuh. Tapi sebenarnya Aeri dan Minho sama-sama tidak begitu mendengarkan
sorakan itu. Mereka saling berpandangan. Yang terdengar sangat jelas di telinga
mereka adalah suara detak jantung mereka sendiri yang semakin lama semakin
keras terdengar.
***
“Taemin-gun, kau tidak apa-apa
kan?” tanya Mihae yang baru saja menghampiri Taemin.
Taemin tersenyum lalu menggeleng.
“Tidak apa-apa kok, asalkan Aeri senang aku juga ikut senang,” jawab Taemin.
Mihae menepuk pundak Taemin.
“Yaaahhh, baguslah. Itu baru
namanya cinta,” pujinya, “Aku salut dengan orang-orang sepertimu,”
Taemin tertawa. “Begitukah? Kalau
begitu bagaimana kalau aku denganmu saja, Mihae-ya? Kita kan seumuran. Satu
kelas lagi,” kata Taemin dengan senyum jahilnya.
“Ahhh,, maaf sekali Taemin-gun.
Kali ini kau terlambat lagi. Soalnyaaa… sebenarnya aku sudah pacaran dengan
Donghae-oppa. tapi ini rahasia. Kau bisa jaga rahasia kan??” tanyanya.
Taemin tertawa. “Aahh,, aku
kecewa. Tapi tenang saja. aku bisa jaga rahasia kok,” kata Taemin.
“Yayaya,, baguslah. Eh, Suzy
saja. Dia gak kalah imut lho dari Aeri,” usul Mihae.
Dan tiba-tiba Suzy melintas di
hadapan mereka dengan gaya anggunnya. Walaupun baru 17 tahun tapi ia terlihat
sangat dewasa. Gadis itu mengibaskan rambut panjangnya dan ketika menyadari
Taemin memperhatikannya wajahnya memerah lalu tersenyum dengan canggung.
Taemin membalas senyumannya.
“Yaahhh,, mungkin akan kupikirkan
untuk mengganti seleraku seperti Minho-hyung,” kata Taemin akhirnya. Mihae
hanya tertawa mendengarnya :D
***
Aeri berlari kecil keluar gedung
studio Sukira. Mihae-onni sudah di mobil duluan sementara Eunhyi pulang bersama
Eunhyuk. Well, sepertinya sih masa PDKT mereka akan berakhir malam ini.
Mendadak handphone Aeri berbunyi.
“Yeoboseyo, arasseo onni. Sebentar.
Ini lagi lari, iyeiye,” Aeri berbicara pada Mihae di telepon.
Tapi tiba-tiba seseorang menarik
handphone yang dipegang Aeri. Aeri terkejut, tentu saja. lalu menoleh ke sebelah
kanan dan melihat Minho sudah berdiri di sana, bersandar pada tembok.
“Ne, Mihae-ssi. Biar Aeri pulang
denganku saja. arasseo, arasseo. Tidak akan kuapa-apakan. Iya, iya. Ya ampuuunnn
cerewet sekali sih. Iya. Iya, ntar aku sampein. Hahaha.. doakan saja ya,” kata
Minho pada Mihae di telepon.
Sambil menunggu handphone’nya di
tangan Minho, Aeri ikutan bersandar ke dinding sambil terus memperhatikan apa
yang dikatakan Minho pada Mihae.
Mereka selesai berbicara.Minho
menarik tangan kanan Aeri dan meletakan handphonenya di tangan Aeri.
“Ayo, kau pulang bersamaku,” kata
Minho.
“Mihae onni sudah bilang boleh
kan?” tanya Aeri.
Minho tertawa lalu mengacak
rambut Aeri. “Sudah, sudah. Kau lugu sekali sih,” jawah Minho.
“Huh.. Oppa tidak suka kalau
lugu?” tanya Aeri.
Mendadak Minho memeluk gadis itu
dari belakang. Aeri agak terkejut tapi dia hanya bisa diam, menikmati pelukan
hangat Minho.
“Suka kok, suka sekali,” jawabnya
pelan.
Aeri tersenyum.
“Yahh, kalau begitu ayo pergi
deh, Oppa. Tadi Mihae-onni sudah menjelaskan jam malamku kan?” kata Aeri.
Minho melepaskan pelukannya.
“Ah, iya. Kok dorm’mu pake jam
malam sih,” protes Minho.
“Cuma buat aku coba. Katanya aku
masih dibawah umur,” kata Aeri dengan wajah cemberut.
Minho tertawa. “Dasar emang kamu
dibawah umur,” ejeknya sambil mengenggam tangan gadis itu dan membimbingnya
berjalan keluar gedung.
“Huuuhhhhh,, ejek aja terus,” kata
Aeri sambil menunjukkan wajah sok ngambeknya.
Minho hanya tertawa lalu
mempererat genggaman tangannya pada gadis polos di sampingnya itu. Ya. Dia tidak
akan melepaskan genggaman itu lagi. Tidak akan membiarkan Aeri pergi darinya. Tidak
akan membiarkan siapapun menyentuh Aerinya yang polos, lugu, dan kekanakan. Malam
ini dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga gadis yang ada disampingnya
itu, gadis yang bahkan sudah berhasil mengubah seleranya. Tanpa sadar sejak
tadi Minho memikirkan hal itu sambil terus menatap Aeri.
“Ne oppa, kenapa melihatku
seperti itu?” tanya Aeri yang merasa terus diperhatikan sejak tadi.
Minho menggeleng. “Tidak apa-apa.
Aku Cuma berpikir tentang satu hal,” jawab Minho.
“Apa?” tanya Aeri ingin tahu.
Tiba-tiba Minho mendekatkan
wajahnya ke wajah Aeri.
“Mmm.. kira-kira gadis kecil
dibawah umur yang ada disampingku ini mau gak ya pacaran sama aku?” tanya Minho
dengan senyum jahilnya.
Wajah Aeri memerah lagi seperti
biasanya.
“Mmm..sepertinya sih mau,”
jawabnya.
“Kok sepertinya sih!” protes
Minho.
“Ya udah deh. Mau. Mau,” Aeri
mengulang jawabannya.
“Tuh kan, gak rela gitu jawabnya,”
protes Minho lagi.
Aeri mulai kesal. “Ahhh, oppa
nih! Maunya gimana deh?” tanya Aeri.
“Maunyaaaa….,” Minho menunjuk
pipinya, isyarat minta dicium.
Wajah Aeri makin merah. “Aahh,
oppa. kok susah sih syaratnya,” protes Aeri.
“Susah apanya? Kamunya aja yang
gamau,” Minho pura-pura serius marah.
Akhirnya Aeri menyerah. “Iya deh.
Sini Oppa nunduk dikit deh,” katanya.
Minho tersenyum jahil. Ia menunduk
sedikit dan membiarkan gadis itu *tentu saja dengan gugup dan malu-malu* hendak
mencium pipinya.
Tapi tepat ketika Aeri nyaris
mencium pipinya, Minho menoleh. Membuat gadis itu bukannya mencium pipi tetapi
malah berciuman dengannya. Aeri terkejut, tentu saja, tapi ciuman mereka tetap
berlanjut. Ciuman yang hangat. Bahkan terasa lebih hangat dari yang kemarin.
“1 – 0,” kata Minho dengan senyum
jahilnya.
“OPPAAAAAAAAA!!!” Minho tertawa
puas dan Aeri mulai mengejarnya.
Yah, hari-hari penuh tawa,
keceriaan dan cinta itu sepertinya sudah dimulai.
***
Label: fanfiction
Posting Komentar