sebelumnya di One for Me #part1
“Annyeonghaeseo, Kang Aeri
imnida,” gadis itu membungkukan badan dengan formal.
Minho sangat terkejut melihat
sosok Aeri di hadapannya. Ia segera membenarkan posisi duduknya dan tatapannya
tidak beralih sedikitpun dari gadis itu. Saking kaget dan groginya, ia bahkan
lupa menjawab salam Aeri walaupun ketiga hyungnya sudah menjawab dengan “Annyeonghaseo”
“Ahh, kau pacar Taemin?” tanya
Junghyun tiba-tiba.
Wajah Taemin dan Aeri langsung
memerah. “TIDAK! BUKAN! Kami teman sekelas. Aeri mau mengajariku materi untuk
tes besok. Kan tadi aku sudah bilang ini bukan seperti yang Hyung bayangkan,”
bantah Taemin. Mendadak sorot wajah Key dan Junghyun berubah menjadi
kekecewaan, Onew tertawa terbahak, sementara Minho. . .
“Ya ya, sudahlah! Dua hyungmu ini
memang terlalu heboh. Kalian belajar saja di meja makan ya,” kata Onew.
“Baik. Gomawoyo Hyung!” kata
Taemin. Aeri pun mengikuti langkah Taemin dan duduk di kursi meja makan. Mereka
mulai sibuk mengeluarkan buku dan menata alat tulis mereka. Well, sebenarnya
hanya Minho yang benar-benar mengamati apa yang mereka lakukan.
Lalu terdengar suara obrolan
mereka.
“Jaa, kenapa di sekolah seni
masih harus ada Matematika sih,”
“Supaya artis-artis seperti
kalian tidak bodoh, sudah cepat kerjakan soal yang tadi aku kasih,”
“Memang kepintaran hanya diukur
dengan matematika?”
“Tidak juga sih. Tapi kelulusan
membawa serta nilai matematika. Kelulusan itu yang menjadi bukti kepintaranmu,”
“Oooohh, tau deh yang seleranya
yang gak lulus kuliah,”
“Sial! Sudah cepat kerjakan!”
Taemin tertawa. “Baik, baik. Ini nomer
3 gimana caranya?”
Minho masih terus mendengarkan
sampai Junghyun tiba-tiba menepuk-nepuk kakinya.
“Eh, kita gangguin yuk!” ajaknya
dengan setengah berbisik.
Key yang tidak sengaja
mendengarnya ikut tertarik, “Ayo, ayo,”
Mereka berdua segera beranjak
dari sofa dan menarik Minho untuk ikut serta dengan mereka. Ketiga orang itu
berjalan ke ruang makan sekaligus dapur mereka.
Taemin yang menyadari kedatangan
ketiga hyungnya melirik. “Hyung, apa yang kalian lakukan?” tanyanya curiga.
“Kami mau memasak makan malam. Memang
kenapa?” kata Junghyun.
Taemin memasang tampang cemberut,
“Ah,baiklah terserah Hyung saja”
“Aeri-ssi, kau sudah makan malam?
Makan di sini saja bersama kami,” ajak Key.
“Ah, merepotkan Oppa saja. tidak
perlu kok paling waktu makan malam Taemin sudah selesai,” jawabnya.
“Eh, sudah tak apa. Kamu makan di
sini saja. lagian masa aku minta kamu ajarin tapi gak ngasih makan sih,” kata
Taemin.
“Ah, tapii..,” Aeri masih tetap
tidak enak hati.
“Sudahlah makan saja di sini
tidak apa-apa kok,” kata Taemin lagi.
Dengan berat hati akhirnya Aeri
menjawab, “Yahh..Baiklah. maaf merepotkan.”
“Tidak kok. Aeri mau makan apa?”
tanya Key.
“Terserah Oppa saja deh. Aku ikutan
aja,” jawabnya sambil meringis polos.
“Ah, kamu manis sekali ya. Tenang
saja, Almighty Key akan memasakkan yang terenak untukmu,” kata Key sambil mulai
memasak.
“Hei! Hei! Memasak untukku juga,”
koreksi Onew dari ruang tengah.
“Iya, iya, Hyung! Hyung nonton TV
saja,” jawab Key.
Aeri hanya bisa tertawa kecil
melihat tingkah laku para member SHINee dihadapannya. Sementara Minho mengamati
senyumnya diam-diam.
***
Minho baru saja keluar dari lift
ketika menangkap sosok Aeri duduk di sofa lobby gedung SM Entertainment. Sepertinya
untuk masalah Aeri kecepatan alat inderanya jadi nomor 1. Gadis itu hari ini
terlihat sangat manis seperti biasanya, ia mengenakan tanktop putih dengan
motif polkadot biru dengan cardigan berpotongan asimetris berwarna senada dan
celana jeans panjang. Aeri terlihat duduk sendirian.
Minho menghampiri meja
receptionist sambil tetap memperhatikan Aeri. Dari posisi menunduk tiba-tiba
gadis itu menoleh ke arahnya. Dengan agak gugup Minho segera mengalihkan
pandangannya, ia berhasil karena Aeri masih tidak menyadari keberadaannya di
sana.
“Aeri-ya,” panggil seseorang dari
arah lift. Walaupun Aeri yang dipanggil, Minho ikut menoleh dan mendapati Song
Wheena, manager Super Junior yang baru saja muncul di balik pintu lift.
Aeri bangkit dari tempat duduknya
dan menghampiri Wheena.
“Hai Wheena-sungmo!” Aeri menyapa
Wheena balik.
Minho tak bisa menahan tawa. Ia tentu
saja mengenal Wheena, Wheena hanya setahun di atas Minho dan barusan Aeri
memanggilnya apa? Sungmo (bibi)? Wheena bahkan tak mau dipanggil Noona oleh
Minho dan sekarang Aeri justru memanggilnya dengan sebutan yang semakin
membuatnya terdengar tua. Sialnya Wheena sadar kalau Minho mentertawainya.
“Hei, Minho-ya! Apa yang kau
tertawakan?!” tanyanya dengan nada kesal. Aeri menoleh ke arah Minho dengan
tatapan polos tidak mengerti.
“Wheena-sungmo?” tanya Minho
sambil menahan tawa.
“Ssibal. Aeri-ya sudah kubilang
jangan memanggilku dengan sebutan Sungmo. Kita hanya berbeda 3 tahun, tidakkah
aku lebih pantas dipanggil onni?!” katanya pada Aeri.
Aeri tertawa jahil, “Maaf sung,
eh.. onni. Kan appa umma mengajariku memanggilmu Sung..eh.. yah pokoknya itu
lah,” jawabnya diikuti dengan senyum jahilnya.
“Ah, kau selalu sengaja. Tidak perlu
pura-pura. Sudah sini mana titipan untukku?” tanya Wheena.
“Yaaahhh, jangan ngambek gitu
dong onni. Ini,” Aeri menyerahkan tas yang dibawanya.
“Ini strawberry cheesecake kaya
yang aku pesen kan?” tanya Wheena sekali lagi.
“Iya iya, onni dah bilang berapa
kali coba. Aku gak sepelupa itu kok,” jawab Aeri.
“Ya, gomawo Aeri. Ah, kau kesini
naik apa?” tanya Wheena.
“Naik subway dong,” jawabnya.
“Wah, sekali lagi terimakasih
lho, Aeri-ya. Padahal dari rumahmu kan jauh,” kata Wheena.
Minho berdecak.
“Heh, apaan kamu ikutan berdecak?”
“Ada gitu sungmo yang tega cokha’nya
jauh-jauh datang Cuma untuk mengirimkan Strawberry Cheese Cake,” Minho kembali
berdecak.
“Hei hei! Hari ini hari spesialku
dengan Kyu-ppa. Ini antara hidup dan mati. Tanpa strawberry cheese cake ini dia
akan marah karena aku melupakannya,” kata Wheena.
Aeri tertawa. “Yahh,, sudahlah tak
apa onni. Asalkan kau mentraktirku es krim super enak di dekat rumahmu itu
kalau aku main ke sana,” kata Aeri.
“Itu sih gampang. Ah, sekalian
kan kau bisa bertemu dengan oppa kesayanganmu itu. Ayo ikut ke atas,” kata
Wheena.
Mendadak raut wajah Aeri berubah,
“Onni lupa dia sudah punya pacar?”
“Ah, maaf Aeri-ya. Aku lupa,”
kata Wheena dengan nada bersalah. Mendadak suasananya jadi agak kurang
menyenangkan, tidak hanya untuk Wheena dan Aeri tapi diam-diam Minho juga.
“Ya sudahlah tak apa-apa kok. Kalau
begitu aku pergi dulu ya Onni. Annyeong,” kata Aeri. Wheena mengangguk.
“Annyeonghaseo, Minho-oppa,”
katanya. Minho membalas salam dari Aeri sambil memperhatikan raut wajah gadis
itu.
Tanpa berkata apapun lagi gadis
itu pergi meninggalkan lobby gedung SM Entertainment. Minho terus
memperhatikannya sampai bayangannya menghilang di pintu utama. Wheena menghela
nafas.
“Bodoh sekali aku. Padahal dia
masih selalu begitu kalau aku membahasnya,” gumam Wheena.
Siapa?
***
To be continued...
Penasaran juga kaya si Minho? Siapa 'oppa kesayangan' Aeri? Tunggu lanjutannya ya. . .
Posting Komentar