Cast
Lee Hyukjae
Kang Aeri
Minho Shinee
Lee Donghae
Choi Mihae
Other Super Junior’s Member
Other Shinee’s Member
Note : temanya salah paham cinta
segitiga. Klise banget ya. Tapi ini fanfict oneshoot pertamaku lhoo,, jadi
masih pemula banget. Semoga menarik ya ;) Doozo..
No Other Answer
*gak cuma Sorry Sorry yang bisa pake Answer #apaansih*
Hyukjae POV ::
Ada seorang gadis yang sering kusebut sebagai Cheonsa – 천사 (malaikat). Namanya Kang Aeri - 강애리. Tentu saja
dia tidak tahu kalau aku memanggilnya begitu. Sebenarnya hanya sahabat baikku,
Donghae yang mengetahuinya.
Donghae selalu bilang aku sudah sangat jatuh cinta padanya, tapi
aku tidak pernah benar-benar mengakuinya walaupun sebenarnya mungkin Donghae
benar juga. Bagaimana tidak jatuh cinta, gadis ini memang sangat mirip dengan
malaikat. Bukan, bukan wajahnya yang sangat cantik yang membuatku menyimpulkan
demikian, wajahnya manis walaupun jelas tidak secantik wajah para artis SM
entertainment. Aeri juga bekerja di SM lhoo, tapi bukan sebagai artis, dia
magang sebagai pegawai junior di SM. Tugas utamanya sih mengatur jadwal latihan
dan menangani para trainee junior tapi karena dia juga hanya pegawai magang,
dia seringkali ditugaskan sebagai apa saja. Termasuk mengurus makan siang Super
Junior ketika latihan dance di SM Building. Dan itulah kesempatanku untuk
mengajaknya mengobrol.
Aeri yang kukenal adalah gadis yang ceria dan cerdas, ini semua
dibuktikan dengan bulan Maret yang lalu dia memulai studinya di Seoul National
University, Universitas terbaik di Korea. Aeri sangat menyukai dan disukai
anak-anak. Aku sering melihatnya bermain bersama para Trainee Junior dan dia
terlihat sangat bahagia dikelilingi anak-anak kecil itu. Yang kutahu dia punya
minat besar pada seni. Dia cukup pandai menari dan menyanyi, tapi dia tidak
berminat menekuninya. Satu hal yang aku tahu menjadi dunianya adalah
menggambar. Aku pernah melihat lukisannya dan itu benar-benar indah. Kadang aku
juga berpikir, lalu untuk apa Aeri bekerja di SM Entertainment? Tidakkah itu
cukup bertolak belakang dengan minatnya.. tapi aku belum pernah sempat
menanyakan hal itu padanya.
Yang jelas saat ini aku kebetulan sedang memandanginya. Aku baru
saja sampai di lobi gedung SM Entertainment dan dia lewat bersama gerombolan
Trainee Junior. Barusan dia melemparkan semyumnya padaku ketika pandangan kami
tidak sengaja bertumbukan. Ya ampun dia manis sekali…
“Melting deh..melting,” goda Donghae yang mengetahui apa yang ada
dipikiranku.
“Ah.. kau tau saja,” jawabku sambil tersipu malu.
“Memang sudah sampai mana sih perkembangan pendekatanmu?” tanya
Kyu yang tiba-tiba nimbrung.
“Perkembangan pendekatan darimana?? Dia saja selalu grogi dan stay
cool di hadapan Aeri. Bagaimana Aeri bisa jatuh cinta,” jawab Donghae.
“Ckckck.. ayolah hyung. Nanti Aeri keburu direbut si junior itu
lhooo,” kata Kyu dengan ekspresi evilnya.
Tunggu dulu. Kenapa aku baru dengar, “Junior? Junior siapa???”
tanyaku kaget.
“Masa Hyung tidak tahu gossip yang beredar sih? Kan Aeri itu akrab
sekali dengan Minho,” kata Sungmin yang memang selalu paling cepat mendengar
gossip dari teman-teman wanitanya.
“A..aku tidak tahu! Benarkah?!” tanyaku kaget, tentu saja!
Sungmin mengangguk, “Tentu saja. Sejak kapan berita dariku salah?”
jawabnya yakin.
“Heeee.. iyakah?!”
Tiba-tiba seseorang menjitak kepalaku dari belakang. Ternyata itu
Jung Soo (Leeteuk) Hyung.
“Hei! Hei! Apa-apaan kau berteriak begitu. Sudah ayo cepat ke
ruang latihan,” perintahnya.
“Ini lho hyung, Hyukjae tidak tahu gosipnya Aeri sama Minho,” kata
Donghae.
Tiba-tiba Jungsoo menepuk pundakku, “Sabar ya, kemarin aku melihat
mereka saat aku di Café bersama Shindong,”
“Benarkah?” aku semakin terkejut sementara Jungsoo hanya
mengangguk.
“Nah kan, sampai kapan kau mau diam saja begini. Kalau Aeri sudah
jadian dengan Minho barulah kamu menangis nanti,” kata Donghae mengejekku.
“Heh tunggu dulu, memangnya kau sendiri sudah punya, Hyung?” tanya
Kyu.
Donghae tertawa, “Tentu saja sudah,” jawabnya sambil berjalan
mengikuti Jungsoo ke arah ruang latihan.
“Hei, kenapa kau tidak memberitahuku?” protesku sambil berlari
mendahului Donghae. Kyu dan Sungmin mengikuti dari belakang.
***
“Sudah cepatlah sms dia,” kata Donghae
ketika melihat aku memandangi handphoneku.
“Ah, tidak semudah itu,” jawabku.
“Kalau begitu sini biar aku yang sms,”
Donghae merebut handphone dari tanganku dan mulai mengetik pesan.
Aku merebutnya kembali, “Hei! Jangan
kurang ajar ya, bagaimanapun aku Hyungmu,” kata Eunhyuk.
“Ah, hyung apaan? Masa kalah saing
sama Dongsaengnya?” ejek Donghae.
Mendadak aku jadi teringat, “Eh,
tunggu-tunggu. Memang pacarmu siapa sih?”
Tiba-tiba Donghae tersipu malu,
“Hehehe.. sebenarnya pacarku adalah teman Aeri itu lhoo, Mihae. Kau tau kan
mereka seperti kembar siam kalau sudah bersama,”
“Iya?! BENAR?! Dan kau tidak pernah
bilang padaku?”
“Ah, kau kan sibuk dengan Aeri
akhir-akhir ini. jadilah aku kesepian dan aku akhirnya jatuh cinta pada Mihae.
Aaahhhhh,, dia manis sekali. Tidak kalah dari Aeri,” kata Donghae sambil kemudian
mengeluarkan handphone’nya dan memeluknya erat. Wallpaper handphonenya tanpa
kusadari memang sudah berganti menjadi wajah Mihae.
“Makanya kamu cepatlah jadian sana
dengan Aeri. Jadi kita bisa double date,” tambah Donghae.
“Kau pikir semudah itu jadian?” aku
membenamkan wajahku ke bantal.
Donghae tertawa, “Setidaknya tidak
sesulit bayanganmu juga sih,” katanya sambil kemudian beranjak dari tempat
tidurku dan keluar dari kamar sambil terus tertawa.
Mendadak pintu dibuka sendiri,
“Jumuseyo, Hyukjae,” dan menutup kembali.
“Jumuseyo”
***
Aeri POV ::
Aku berjalan ke ruang latihan sambil
memutar-mutar handphone’ku di tangan. Barusan Minho-oppa mengirimkan pesan ke
nomorku dan menyuruhku untuk segera datang ke ruang latihan. Padahal hari ini
jadwalnya Super Junior, tapi kenapa Minho-oppa bisa ada di sana coba.
Aku segera masuk ke ruang latihan dan
mendapati sosok Minho-oppa disana.
“Oppa, ada apa?” tanyaku saat berjalan
menghampiri Minho-oppa.
“Aeri, aku ingin bercerita padamu
sekarang,” jawabnya sambil memasang wajah sedih.
Aku tertawa, “Ya ampun oppa, ada apa?
Sini-sini ceritakan padaku,” jawabku.
“Boleh aku pinjam pundakmu. Sepertinya
aku butuh tumpangan?” jawabnya manja. Dasar si oppa suka sekali sok manja
padaku, padahal dia lebih tua.
“Peluk juga boleh,” jawabku bergurau.
Tiba-tiba aku ditariknya ke
pelukannya. Sedikit kaget sih, tapi sepertinya artis yang mahasempurna di depan
para Shawol ini sedang sangat lelah dengan rutinitasnya. Artis juga manusia
kan?? J
Author’s POV ::
Superjunior berjalan bersamaan ke
ruang latihan. Hari ini hari Rabu, seperti biasa ini jadwalnya mereka berlatih
di gedung SM. Seperti biasa mereka berjalan sambil mengobrol dan bercanda
heboh. Selain karena mereka mempunyai anggota yang cukup banyak mereka memang
juga terkenal sebagai grup heboh.
Satu per satu mereka memasuki ruang
latihan. Tapi kemudian tepat di depan pintu, Shindong yang masuk pertama
berhenti seenaknya tanpa ingat betapa tubuhnya menghalangi jalan. Berhentinya
shindong tiba-tiba ini membuat langkah member lain terhenti dan beberapa saling
bertabrakan.
“Hei, shindong jangan berhenti
tiba-tiba!” protes Jungsoo atau yang lebih dikenal dengan stage name, Leeteuk.
“Itu lihat,” kata Shindong. Semua
member menoleh ke arah yang dimaksud Shindong.
Eunhyuk pun ikut menoleh.
Di sudut ruang latihan terlihat adegan
Minho memeluk Aeri.
Hyukjae POV ::
Di sudut ruang latihan terlihat adegan
Minho memeluk Aeri.
A..Apa yang sedang terjadi di sini?!
Kenapa? Kenapa Aeri dan Minho?!
Donghae segera menepuk pundakku, aku
tahu maksudnya untuk menenangkanku.
Menyadari kedatangan kami mereka
segera melepaskan pelukan dan menyapa kami dengan kikuk, “Ah, Oppa,” kata Aeri.
Sementara Minho di sebelahnya menunduk dan memberi salam, “Hyung”
“Kalian sedang apa coba di sini? Ini
ruang latihan,” kata Leeteuk sambil berjalan dan meletakan tasnya.
“Mianhae oppa, ini nih Minho-oppa yang
nyuruh kesini. Berasa ruang latihan punya Shinee doang,” jawab Aeri sambil
menyodok pinggang Minho, pemandangan yang semakin membuatku panas.
“Ya bukan begitu juga sih maksudku,”
protes Minho sambil menjitak Aeri, “Mianhae hyung, soalnya tadi Shinee habis
kumpul di sini, jadi sekalian,”
“Ya sudah sana latihan kami akan
dimulai,” kata Leeteuk-oppa lagi.
Aeri dan Minho mengangguk lalu
berjalan pergi sambil saling menyalahkan, “Oppa sih,” itu yang kudegar sepintas
keluar dari mulut Aeri.
“Hei, Aeri apa menu kita nanti siang?”
tanya Yesung menggoda Aeri.
“Ah, aku memesan menu khusus
kesukaan oppa lho, awas kalau gak
habis,” jawabnya sambil menoleh kepada Shindong hingga tidak sadar nyaris
menabrakku, tapi kemudian dia berhasil berhenti tepat dihadapanku.
Saat-saat seperti ini yang tidak
kuharapkan. Barusan Minho dan Aeri jelas-jelas berpelukan di hadapanku dan aku
sekarang harus berhadapan dengan Aeri. Aku tidak sanggup melihat matanya.
“Ah, mianhae oppa,” katanya.
Aku mengalihkan pandangan, tanpa
sepatah katapun.
Aeri POV ::
Hyukjae-oppa mengalihkan pandangan,
tanpa sepatah katapun.
Kenapa sih? Aku salah apa? Kok mukanya
Hyukjae-oppa begitu waktu memandangku?
Kejadian tadi benar-benar membuatku
bertanya-tanya. Hyukjae oppa selalu baik dan ramah padaku, makanya aku sedikit
menaruh hati padanya. Tapi kenapa barusan?? Atau karena dia melihat aku dan
Minho-oppa berpelukan? Tidak-tidak mungkin kan dia cemburu melihat aku dengan
Minho oppa? Tidak mungkin.
“Hei, kenapa?” tanya Minho oppa yang
ada disampingku. Mungkin dia melihat ekspresiku tadi.
“Itu..tadi..,” aku menceritakan apa
yang kupikirkan pada Minho-oppa. kami memang sangat akrab. Minho oppa seumuran
dengan kakak laki-lakiku dan itu membuat kami segera akrab. Minho oppa juga
sering menceritakan masalah cintanya padaku dan meminta pendapat dariku.
Hubungan kami sudah seperti kakak-adik.
“Jangan-jangan karena adegan pelukan
tadi?” komentarnya.
Aku menggeleng, “Ah, tidak mungkin!
Tidak mungkin Hyukjae-oppa cemburu melihat oppa memelukku,” bantahku tidak
percaya.
“Huuuu.,, Gak percaya banget sih.
Taruhan berapa deh dia pasti cemburu,” kata Minho oppa.
“Gak pake taruhan. Huuu… orang aku
curhat malah diajak taruhan -____-,”protesku.
Minho oppa tertawa lalu mengacak
rambutku, “Percayalah pada kakakmu ini, aku lebih berpengalaman soal cinta,”
katanya.
Aku mendengus kesal. Ingin sih percaya
pada Minho oppa, seandainya benar-benar begitu.
Hyukjae POV ::
Latihan hari ini sangat tidak
menyenangkan. Maaf semuanya, tapi aku tidak bisa fokus setelah melihat kejadian
tadi pagi.
“Hyukjae, kau sangat tidak fokus,”
kata Jungsoo hyung ketika kami berjalan ke lobi.
“Mianhae hyung,” kataku, sangat merasa
bersalah.
“Sudahlah taka pa hyung, itu kan efek
patah hati,” kata Kyu dengan senyum evilnya. Kalau saja aku punya semangat saat
ini dia pasti sudah kujitak.
Jungsoo-hyung tertawa, “Ya sudahlah,
lain kali tidak boleh begini. Donghae ini kau hiburlah Hyukjae,” kata JungSoo.
Donghae segera menghampiriku dan menepuk
pundakku, “Semangat dong, jangan lesu gini. Eh, tapi sori ya habis ini aku ada
kencan sama Mihae. Bukan bermaksud bikin iri lhoo,” ia mencari gara-gara, dan
segera berlari begitu melihat tatapan membunuhku.
Sesampainya di lobi kami mendapati
Mihae dan Aeri! Ya kenapa aku tidak kepikiran kalau Aeri juga akan ada bersama
Mihae. Tapi tunggu dulu. Kalau Mihae kencan dengan Donghae berarti Aeri akan
pulang sendirian. Padahal sekarang hujan deras sedang mengguyur kota Seoul.
Ah, tapi…pasti Aeri diantar Minho.
“Oppa,” panggil Mihae. Tentu saja
memanggil Donghae.
“Ah, aegiya,” panggil Donghae. Oke,
entah sejak kapan dia jadi sok imut begini memanggil Mihae. Cinta memang
mengubah segalanya.
“Oppa, bagaimana dengan Aeri. Masa dia
harus pulang sendiri. Hujan lho,” kata Mihae.
“Iya Aeri kau pulang sendiri?” tanya
Donghae.
Aeri tertawa, “Iya sih, tapi tidak
apa-apa kok, tenang saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku begitu lah, onni
membuatku terharu saja,” jawabnya sambil tersenyum polos. *aeri memanggil Mihae
dengan sebutan ‘onni’*
“Eh, hujan deras lho tapi,” kata
Siwon.
“Iya, lebih baik kau diantar saja,”
tambah Sungmin.
“Diantar Hyukjae-hyung saja,” kata Kyu
sambil mengedip padaku, “Dia jago menyetir lho. Bahkan lebih jago daripada
pacar sahabatmu,” kali ini ia menatap Donghae dengan tatapan mengejek. Donghae
pun segera menjitaknya.
Aeri menatapku dengan tatapan tidak
enak hati, lalu tersenyum, tidak lebih tepatnya meringis polos.
“Minho tidak mengantarmu?” tanyaku.
Aeri tertawa lalu menggeleng, “Tentu
saja tidak, dia sedang makan malam istimewa bersama pacarnya,” jawab Aeri.
“Heee??? Jadi kau dan Minho tidak
pacaran?” tanya Shindong kaget. Ngomong-ngomong sebenarnya aku juga kaget
bercampur bahagia. Tapi aku harus stay cool di hadapan Aeri. Ingat Hyukjae,
ingat imagemu.
Aeri menggeleng, “Siapa yang
menyebarkan gossip seperti itu?” protesnya.
Semua menunjuk Sungmin. Reflek Sungmin
segera membela diri, “Eh, tapi tidak hanya aku, Jungsoo-hyung dan
Shindong-hyung juga melihat kalian makan berdua,”
“Ah, yang waktu itu? itu kan traktiran
Minho oppa. Soalnya aku yang membuat dia jadian dengan pacarnya itu,” jawabnya
dengan nada bangga.
“Wah, padahal Hyukjae sudah cem…aduh,”
aku segera menginjak kaki Kyu sebelum ia menyelesaikan kata-katanya.
“Sudah, sudah ayo kuantar,” aku segera
menarik Aeri sebelum mereka berbicara dan membeberkan perasaanku lebih jauh.
Kulihat mereka memberikan tanda ‘goodluck’ padaku.
***
Author’s POV ::
Suara hujan mendominasi sementara Aeri
dan Hyukjae diam sejak tadi. Sebenarnya mereka sama-sama ingin memulai
pembicaraan. Tapi sama-sama bingung untuk memulainya.
“Oppa,” kata Aeri akhirnya.
Dengan berusaha membuatnya setenang
mungkin, Hyukjae menjawab, “Ya?”
“Tadi..mianhae ya,” kata Aeri
kemudian.
Hyukjae bersorak gembira dalam hati,
tapi tetap berusaha menjawab dengan santai, “Maaf? Untuk apa?”
Aeri diam sejenak lalu mulai
menjawab,”Mmmm… sebenarnya aku juga tidak tahu sih, hanya saja tadi oppa
sepertinya marah padaku waktu di ruang latihan,”
Hyukjae ikut diam sejenak. “hmm, ya
baiklah aku maafkan,”
“Eh, tapi tunggu dulu,” kata Aeri
kemudian, “Sebenernya salahku apa sih?” tanyanya polos.
Hyukjae terawa.
“Kau ingin tahu salahmu?” tanyanya.
Aeri mengangguk bersemangat. Jelas
saja, dia tidak mau minta maaf tanpa tahu kesalahannya.
Tiba-tiba Hyukjae menghentikan
mobilnya.
“Eh, kenapa oppa tiba-tiba berhenti?”
tanya Aeri bingung.
Hyukjae tersenyum, “Katanya tadi mau
tahu salahmu. Tunggu sebentar kalau begitu,” katanya lalu mengambil payung dan
keluar dari pintu pengemudi.
Hyukjae tidak pergi kemana-mana. Dia
hanya memutar lalu mengetuk jendela di sebelah Aeri dan memberikan isyarat
menyuruh Aeri membuka pintu. Aeri menurut dan membuka pintu disampingnya
sekalipun dia masih bingung untuk apa Hyukjae melakukannya. *apa hubungannya gt
sama pertanyaannya??????*
Begitu pintu terbuka Hyukjae segera
menarik Aeri ke pelukannya. Aeri kaget setengah mati, terlihat jelas dari
wajahnya.
“Oppa?” tanyanya, bingung.
“Ini salahmu tadi, berpelukan dengan Minho
di depan mataku,” katanya.
“Ehhh???!!” Aeri terkejut, “Maksud
oppa? oppa…,” kata-kata Aeri terputus.
Mendadak Hyukjae melepaskan pelukannya
dan menempelkan bibirnya ke bibir Aeri dengan lembut, membuat gadis itu semakin
terkejut. Tapi seulas kebahagiaan terbaca di wajahnya, sepertinya dia sudah
mengerti apa maksud oppa’nya.
Beberapa saat setelah itu mereka masih
berpandangan dalam diam. Sampai akhirnya Hyukjae mulai berani mengeluarkan
suara.
“Aku cemburu. Ya. Memang,” katanya, “tapi
sudah tidak lagi kok, barusan aku tahu Minho tidak ada apa-apanya dibanding aku,”
Aeri tertawa mendengar kata-kata Hyukjae,
“Apaan sih oppa. Minho oppa emang bukan apa-apaku,”
“Jadi kamu mau gak jadi apa-apaku?”
tanya Hyukjae.
Aeri kembali tertawa. Lalu mereka
sama-sama tersenyum. Tidak ada jawaban. Tidak perlu ada jawaban, toh suara
hujan pasti mengalahkan suara mereka. Lagipula bagaimana bisa menjawab kalau
beberapa detik kemudian mereka kembali berciuman. Itu jawabannya.
:'))))))))))))))))))))))
Label: fanfiction
Posting Komentar