My Flower
Genre : Romantic
Cast :
SHINee’s Choi Minho
Yoon Aeri
Yoon Eunhyi, Yoon
Mihae
Song Wheena
SHINee’s Lee Jinki,
Lee Taemin, Kim Kibum, Kim Jonghyun
NOTE:
Pertama, aku mo
tanya. Minho itu aslinya sekolah di sekolah khusus cowo2 yak?? Hehe.. udah lah
ya.. gapapa maksa ganti sekolah dikit doang. Kan biar ceritanya seru,, ada
bumbu2 percintaan remaja SMA’nya gitu #apadeh. Hehe..
Terus seperti biasa I
DON’T OWN ANYONE IN SHINEE. Walaupun sebenernya berharap banget sih bisa
memiliki satu dari lima orang keren2 ituhh,, tapi ya sudahlah itu hanya mimpi.
Hehehe.. Yoon Aeri anggep aja aku #ngarep dan Eunhyi, Mihae, dan Wheena adalah
milik tiga orang yang sudah sangat sering berlalu lalang dalam tiap fanfict’ku.
Haha..
Fanfict ini hanya
fiksi belaka, terjadi banyak rekayasa dari pengarangnya, semua demi alur cerita
yang padu dan efek cerita yang #dramatis. Jadi nikmatin aja yah!
My Flower
“You’re my flower not because
you’re more beautiful than other flowers; ...
“Jadi sekarang kau Shawol?”
Seorang gadis berambut ikal hitam
panjang hampir melonjak kaget ketika Minho, personel boysband SHINee yang
terkenal itu melontarkan pertanyaan tersebut padanya. Gadis itu segera menatap
sinis Minho yang ternyata sudah cukup lama duduk di sampingnya.
“Jangan harap ya! Kalau bukan
karena Eunhyi memaksa menonton dan melihatmu aku tidak akan mau duduk di sini,”
jawabnya ketus.
“Ah, Minho-oppa!” panggil Eunhyi
yang tiba-tiba datang dari deretan belakang bangku penonton.
Minho segera menoleh pada gadis
kecil berkuncir dua itu sementara gadis yang duduk disampingnya menghela nafas.
Well, wajah kedua gadis itu memang mirip, hanya beda ukuran badan dan usianya
saja, tapi cara mereka menanggapi Minho berbeda 180 derajat.
Yap, tepat sekali. Eunhyi adalah
adik dari Aeri, gadis berambut ikal yang duduk di samping Minho. Begitu melihat
keduanya semua orang pasti tahu kalau mereka bersaudara. Matanya, hidungnya,
alisnya bahkan sifatnya pun nyaris sama. Eunhyi seperti kopian Aeri dalam
bentuk yang lebih mini.
Mereka memang serupa tapi tak
benar-benar sama. Seperti contohnya saat ini. Tatapan sinis dan jawaban ketus
dari Aeri, berbanding terbalik dengan senyum dan sapaan akrab adik perempuannya
itu. Tapi jangan salah sangka, Aeri bukan gadis yang sombong atau jutek. Dia
hanya begitu pada Minho. Khusus kepada Minho.
“Eunhyi-ah! Habis darimana?”
tanya Minho sambil mengacak rambut gadis kecil itu.
“Dari toilet. Aku berani ke
toilet sendiri lho, oppa. Ga minta ditemenin Aeri-eonni,” jawab Eunhyi dengan
nada bangga. Sementara Aeri mencibir, Aduh,
Eunhyi-ah..begitu saja pake pamer.. itu yang ada dalam pikirannya.
“Wah pintar sekali. Baguslah,
Eunhyi kan memang sudah besar. Harus berani apa-apa sendiri,” kata Minho.
“Ya, lainkali kalau mau nonton
SHINee juga berangkat sendiri. Jangan minta ditemenin Eonni,” sambung Aeri.
“Huuuhhh,, Eonni ini bisanya
mengeluh saja daritadi. Memangnya onni tidak ingin menonton SHINee. Mereka kan
keren,” kata Eunhyi. Minho tersenyum geli mendengar pernyataan gadis kecil yang
begitu polos itu, sementara Aeri semakin menghujat adiknya dalam hati.
“Jelas tidak,” jawab Aeri masih
dengan nada ketusnya.
“Huh, kau tidak
mau mengakui saja,” kata Minho menambahkan. Ia dan Eunhyi kemudian saling
mengangguk setuju.
Dua orang ini kenapa kompak sekali sih?!
“Minho-hyung,
giliran kita rehearsal sekarang,” kata seseorang yang tiba-tiba ada di belakang
Minho, Aeri, dan Eunhyi.
“Aaahhh,
TAEMIN-OPPA!” seru Eunhyi kehilangan. Aeri hanya menutup wajah, tak sanggup
melihat kelakuan heboh adiknya kalau sudah berhadapan dengan SHINee.
“Eunhyi-ah! Kau
datang menonton kami lagi,” kata Taemin sambil tersenyum ramah pada Eunhyi.
Mereka berdua pun saling ber’high five’ ah tidak, tepatnya mereka ber’high ten’
*karena menggunakan dua tangan*.
Minho tertawa
melihat Eunhyi dan Taemin sedangkan Aeri memalingkan wajahnya.
“Ah, ayo hyung!
Eunhyi-ah, kami rehearsal dulu ya,” kata Taemin sambil mengedipkan sebelah
matanya pada Eunhyi.
Eunhyi
menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya lalu meletakan tangannya di depan
matanya sendiri sambil berkata, “Oke, oppa! Hwaiting ya!”
Centil sekali anak ini, pasti ajaran
Mihae-onni. runtuk Aeri dalam hati.
“Annyeong, Eunhyi!” pamit Minho
sambil melambaikan tangan pada gadis itu dan Eunhyi membalas lambaiannya
diiringi dengan senyum lebarnya yang manis.
“Annyeong, Aeri-ya,”
Mendengar namanya disebut Aeri
menoleh dengan enggan lalu menjawab singkat.
“Hmm,”
Minho tersenyum tipis lalu
melanjutkan langkahnya menuju panggung. Dia tidak pernah sakit hati dengan
tatapan enggan Aeri yang selalu ditujukkan untuk dirinya. Baginya Aeri datang
pun sudah cukup. Ya, hanya dengan melihat Aeri saja dia sudah menjadi sangat
bersemangat.
***
Sebenarnya sudah sejak hari pertama masuk kelas 2 Minho terus
memperhatikan gadis itu, Yoon Aeri. Gadis manis berambut ikal yang duduk tepat
di seberang tempat duduknya. Gadis itu bukan gadis yang istimewa. Wajahnya
memang cukup manis, tapi itu bukan alasan utama Minho memperhatikannya.
Aeri gadis yang baik dan tulus. Dibalik tatapan enggan dan sedikit
kata-katanya ketika mengerjakan segala hal ia selalu mengerjakan semuanya
sepenuh hati, sekalipun ia tidak menunjukkan hal itu di raut wajahnya. Aeri
sering menjadi tempat curhat dan penasihat bagi teman-teman sekelas dan teman
dekatnya, ia pendengar yang sangat baik. Aeri juga cerdas, sekalipun tidak
pernah terlihat belajar mati-matian, gadis itu selalu menjadi juara kelas.
Hari itu aku ingat sekali, aku baru kembali dari show di Busan setelah
3 hari tidak masuk sekolah. Aku masih sangat ingat sekali ketika aku menemukan
sebuah buku biru muda dengan nama 윤애리 tertera di sampulnya.
“Itu catatan tiga hari ini,” kata gadis itu
singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari novel bersampul krem di tangannya.
Minho tersenyum. “Gomawoyo, Aeri-ssi!”
katanya.
“Hmm..,”
Minho mendadak tertawa pelan di panggung.
“Minho-ya, kenapa?” tanya Key.
Minho menggeleng. “Gwenchana,”
jawabnya sambil masih tersenyum.
Key menggeleng pelan, “Dasar aneh,”
katanya.
Sudah 4 tahun yang lalu, tapi Aeri
masih tetap Aeri yang sama, tidak berubah sedikitpun.
***
Aeri menggandeng adiknya berjalan
menyusuri jalanan kota Seoul. Eunhyi mendendangkan lagu Lucifer dengan gembiranya. Eunhyi melepaskan pegangan
tangannya lalu berlari mendahului langkah Aeri. Seperti biasanya energi
anak-anak memang lebih banyak, apalagi untuk berlari girang kesana kemari.
“Eunhyi, jangan ketengah-tengah.
Jalannya di trotoar aja,” teriak Aeri.
“Ne, Eonni,” jawab Eunhyi dengan
gaya imutnya.
Aduh nih anak Aegyo banget sih, kayaknya dulu aku gak segitunya deh.
pikir Aeri sambil tersenyum melihat tingkah adiknya.
“Eonni, eonni.. besok kita nonton
SHINee di studio KBS yuk!” ajak Eunhyi sambil berlari lincah kearah Aeri.
Mulai deh…
“Kamu kok bisa tergila-gila sama
SHINee gitu sih?” Aeri malah bertanya pada Eunhyi.
“Eonni sendiri kenapa benci banget
sama SHINee?” tanya Eunhyi dengan senyum jahilnya.
“Hei, jawab dulu pertanyaan
Eonni,” protes Aeri.
“Aku mau jawab kalau Eonni udah
jawab,” kata Eunhyi.
Aeri menghela nafas. Percuma juga
berdebat dulu cuma buat nanya ke Eunhyi. “Yah, Eonni sih gak benci, tapi…,”
belum sempat Aeri menyelesaikan kalimatnya, seseorang tiba-tiba muncul dari
balik punggungnya sendiri.
“Tapi suka kan?” tanya orang itu
yang tidak lain dan tidak bukan adalah Minho SHINee.
“Minho-oppa!” Eunhyi berteriak
kegirangan sementara Aeri masih terkejut dengan kemunculan Minho yang
tiba-tiba.
“Heh, sedang apa kau di sini?”
tanya Aeri.
“Jawab dulu pertanyaanku yang
tadi,” protes Minho.
Wajah Aeri mendadak memerah. Gadis
itu segera menunduk untuk menutupi wajahnya yang mulai terasa panas.
“Ssibal.. kau tidak ada bedanya
yah dengan Eunhyi. Pantas saja kalian cocok,” katanya dengan nada kesal.
Minho tertawa lalu menggendong
Eunhyi.
“Hey, mau kau bawa kemana
adikku?” protes Aeri.
“Aku mau mengantarnya pulang
kok,” jawab Minho sambil melenggang santai di depan Aeri.
“Yey! Asikasik,” kata Eunhyi
kegirangan.
Aeri menghela nafas untuk
kesekian kalinya hari ini. kenapa sih
Eunhyi selalu membawanya berhubungan dengan yang namanya SHINee. Terutama orang
ini nih.
Aeri menatap sinis pada Minho
tapi kemudian melihat adiknya tersenyum riang sambil mengobrol dengan pria itu.
Ia menghela nafas *LAGI!*. Yasudah lah!
Asal Eunhyi senang…
***
Aeri menggandeng adik kecilnya. Mereka baru saja pulang sekolah. Aeri
masih mengenakan baju seragamnya dan adiknya masih dengan tas ransel merah
menyalanya. Hari ini sangat melelahkan dan ditambah dengan udara yang panas.
Kombinasi yang sangat sempurna untuk membuat Aeri malas berjalan cepat-cepat.
Tapi tidak begitu dengan Eunhyi, adiknya. Gadis cilik berusia 4 tahun
itu terus menarik tangan Aeri sampai akhirnya pegangan tangan mereka terlepas.
“Eunhyi-ah, jangan berlari ke tengah jalan ya,” teriak Aeri.
Gadis cilik itu mengangguk tapi sepertinya belum begitu mengerti apa
yang diperintahkan Aeri. Ia malahan berlari kea rah jalan raya yang sedang
cukup padat dengan mobil.
“Eunhyi!!!” Aeri baru saja berteriak sambil berusaha mengejar adiknya
ketika seorang pria menarik Eunhyi ke sisi jalan dan menggendongnya. Aeri
menghela nafas lega kemudian segera menghampiri adiknya.
“Eunhyi, kan sudah Eonni bilang jangan ke tengah jalan. Kamu tuh bikin
deg-deg’an aja sih,” Aeri memarahi adiknya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
“Tapi di sana ada penjual balon. Eunhyi mau,” kata Eunhyi tanpa tahu
apa yang sebenarnya hampir menimpanya.
Aeri menghela nafas. Antara menahan emosi dan bersyukur adiknya
selamat.
“Ya sudah, ucapkan ‘kamshahamnida’ pada Oppa yang menolongmu,” kata
Aeri. Gadis itu baru benar-benar memperhatikan wajah pria yang barusan menolong
adiknya itu.
“Hee?? Minho-gun?” Aeri terkejut.
“Kamshahamnida, Oppa,” kata Eunhyi pada Minho.
“Ah, Cheonmaneyo,” jawab Minho, “Lain kali turuti kata-kata Eonni’mu
ya,”
“Ne, Oppa. mianhaeyo, Onni,” kata Eunhyi tanpa disuruh.
Aeri mengacak rambut adiknya itu.
“Ya sudah, ayo kita pulang. Kali ini kamu harus tetep gandengan sama
Eonni ya!” kata Aeri.
Eunhyi turun dari gendongan Minho lalu segera menggandeng tangan Aeri.
“Eh, gomawoyo, Minho-gun,” kata Aeri sambil membungkukan badan.
“Cheonmaneyo,” kata Minho sambil ikut membungkukan badan.
Kedua kakak adik itu melanjutkan langkahnya ke rumah sambil
bergandengan tangan, sementara Minho terus menatap keduanya sambil tersenyum.
***
Aeri segera merebahkan dirinya di
sofa ruang tamu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Yoon Mihae, kakak
perempuannya duduk di sampingnya sambil menonton televisi, sementara Eunhyi
sedang mengerjakan PR di meja kecilnya.
“Kalian tadi diantar Minho lagi
bukan sih?” tanya Mihae tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
“Iya. Gatau tuh tiba-tiba muncul
di jalan,” jawab Aeri, “Ganti Music Bank dong, Eonni”
“Music Bank hari ini ada SHINee’nya
gak?” tanya Eunhyi tiba-tiba.
“Gak ada lah, mereka kan udah
goodbye stage di Mubank,” jawab Aeri.
“Yahhh,, Eunhyi males nonton kalo
gitu,” kata Eunhyi sambil kembali mengerjakan PRnya.
Aeri hanya geleng-geleng kepala.
“Kok bisa sih tuh anak ngefans
banget sama SHINee? Heran deh aku,” runtuk Aeri.
Mihae tertawa. “Lah bukannya
gara-gara kamu,” katanya.
“Gara-gara aku?” Aeri gak terima.
“Iya gara-gara si ‘Minho-oppa
pahlawan Eunhyi’ itu ngikutin kamu jalan pulang sekolah sampe nolongin Eunhyi
waktu nyaris kesrempet mobil,” jawab Mihae sambil menirukan cara adik kecilnya
menyebut Minho.
“Enak saja. Itu kebetulan saja
tau, bukan ngikutin,” bantah Aeri.
“Iya, kamu yakin? Waktu Eunhyi
nyaris kesrempet dia tiba-tiba aja ada terus nolongin, waktu kita jalan-jalan
di Daegu abis nonton konser SMTown di sana tiba-tiba dia muncul trus gabung
sama kita, waktu pulang nonton SHINee kalian sering gak sengaja ketemu di jalan
terus pulang bareng, waktu Eunhyi ilang di festival SMA’mu dulu banget itu dia
ketemu lagi bareng Minho kan? Dan tadi juga…” kata Mihae.
“Sudah sudah sudah, tidak perlu onni
sebutkan semuanya juga sih,” Aeri seperti berusaha mencari alasan-alasan
lainnya, “Minho suka sama Eunhyi kali!”
“Hush! Mana mungkin Minho ganteng
gitu pedofil,” protes Mihae.
“Maksudku bukan gitu. Maksudku tuh,
Minho suka main sama anak-anak kali. Toh dia selalu ada kalo aku sama Eunhyi
kan,” kata Aeri.
“Kenapa anak-anaknya harus
Eunhyi? Kalo menurut Eonni sih, Eunhyi cuma jadi alesan aja buat ketemu kamu,”
kata Mihae.
“Aaahhh,” Aeri menutupi wajahnya
dengan bantal sofa besar di pelukannya, “Eonni kebanyakan nonton drama.”
“Aahh, kamunya gak percaya sih. Eonni
tuh udah ahli soal begini-beginian. Eh, ya ampun pacar Eonni ganteng banget di
TV!” kata Mihae disertai pujian untuk Donghae, pacarnya yang juga anggota Super
Junior itu, yang kebetulan muncul di siaran Music Bank.
“Eunhyi-ah, kamu mau gak kalo Aeri-eonni
sama Minho-oppa pacaran?” ceplos Mihae tiba-tiba.
“Eonni ya!!!” protes Aeri.
“Jinjja?!” tanya Eunhyi mendadak
antusias, “Mau!!! Minho-oppa sama eonni kan sama-sama sayang banget sama
Eunhyi, pasti asik. Sana eonni sama Minho-oppa aja,”
“Enak aja. Iihhh,, eonni asal
ngomong aja sih!” Aeri merebut remote di tangan eonni’nya itu dan mengganti
saluran TV dengan acara berita.
“Heh! Itu Superjunior lagi
perform! Siniin gak remote’nya!” protes Mihae dengan nada tinggi. Gini nih kalo
siaran TV tentang Super Junior terutama Donghae diganti dengan saluran lain di
depan mata Mihae.
Sementara Eunhyi malah asik
dengan bayangannya sendiri, “Asik asik! Kalo eonniku dua-duanya punya pacar
artis. Eunhyi bisa pamer sama temen-temen.”
Dan seperti biasanya suasana malam
hari di rumah keluarga Yoon selalu ramai dengan suara ketiga gadis itu.
***
Seorang gadis berdiri di depan kelas. Wajahnya belum familiar. Ya dia
anak baru, namanya Song Wheena. Wajahnya cantik, rambutnya lurus panjang,
senyumnya juga manis.
Dengan sedikit malu-malu gadis itu memulai perkenalan dirinya.
“Annyeong-haseyo. Mannaseo ban-gapsseumnida. Choneun Song Wheena-rago
haeyo. Gamshahamnida,” kata gadis itu dengan nada suara yang ramah.
“Nah, kalian bertemanlah dengan Wheena. Wheena-ssi kau bisa duduk di
sana,” Pak Guru menunjuk kursi kosong di depan Aeri.
Wheena tersenyum lalu membungkukan badan di hadapan Pak Guru. Gadis itu
kemudian berjalan menuju ke tempat duduknya sementara semua mata tertuju
padanya.
“Annyeong, choneun Song Wheena-yeyo,” kata Wheena sambil mengulurkan
tangannya pada Aeri.
Aeri tersenyum lalu membalas uluran tangan Wheena. “Choneun Yoon Aeri-yeyo.
Mannaseo ban-gapsseumnida,” katanya.
Wheena segera duduk di kursinya dan pelajaran pun dimulai. Di tengah
pelajaran, mata gadis itu menangkap sebuah sosok di belakang deretan tempat
duduknya. Seorang pria dengan mata bulat dan wajah yang sangat tampan. Wajahnya
familiar.. Wheena merasa pernah melihatnya, tapi dimana?
Saat ini guru sedang menjelaskan pelajaran di depan, tapi Wheena terus
mencuri pandang ke pria itu. Beberapa kali Wheena bisa melihat pria itu melirik
ke sebelah kanannya. Melirik dirinya? Mungkin saja. Pria itu seperti ingin
mengutarakan sesuatu tapi tidak berani, sampai akhirnya. . .
“Aeri-ya, bisa kau jelaskan bagian ini?” kata pria itu.
Aeri menoleh lalu memundurkan sedikit kursinya dan melihat buku yang
ditunjukkan pria itu.
“Hmm.. Ini kan gaya. Gaya itu vector, punya arah dan besaran,
jadi..kamu harus cari dulu gayanya di sumbu x dan sumbu y lalu setelah itu…,” Aeri
menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk buku milik pria itu sementara pria itu
mengangguk-angguk menandakan dirinya mengerti penjelasan Aeri.
“Ah, arraseo, gomawoyo, Aeri-ya,” kata pria itu sambil tersenyum.
“Hmm,” jawab Aeri diiringi dengan senyum tipisnya. Gadis itu lalu kembali
mengarahkan pandangannya ke depan kelas.
Suasana kembali hening. Tapi satu hal terus menggema di hati Wheena, ia
harus segera tahu siapa nama pria itu. Mungkin aku bisa bertanya banyak
tentangnya pada Aeri, pikirnya.
***
... you’re my flower not because
you’re more fragrant than other flowers; ...
To be continued...
Tau kan puisinya Minho di Yunhanam? Puisi itu masih belum selesai tertulis di sini, sama seperti kisah mereka yang juga belum selesai :D
Label: fanfiction
Posting Komentar