sebelumnya di One for Me #part2
Mendadak raut wajah Aeri berubah,
“Onni lupa dia sudah punya pacar?”
“Ah, maaf Aeri-ya. Aku lupa,”
kata Wheena dengan nada bersalah. Mendadak suasananya jadi agak kurang
menyenangkan, tidak hanya untuk Wheena dan Aeri tapi diam-diam Minho juga.
“Ya sudahlah tak apa-apa kok. Kalau
begitu aku pergi dulu ya Onni. Annyeong,” kata Aeri. Wheena mengangguk.
“Annyeonghaseo, Minho-oppa,”
katanya. Minho membalas salam dari Aeri sambil memperhatikan raut wajah gadis
itu.
Tanpa berkata apapun lagi gadis
itu pergi meninggalkan lobby gedung SM Entertainment. Minho terus
memperhatikannya sampai bayangannya menghilang di pintu utama. Wheena menghela
nafas.
“Bodoh sekali aku. Padahal dia
masih selalu begitu kalau aku membahasnya,” gumam Wheena.
Siapa?
***
Sore menjelang malam. Matahari
beranjak menghilang di sisi barat. Warna gelap hitam mulai menutupi langit.
Minho berjalan pulang dari gedung SM Entertainment. Biasanya ia selalu pulang
ke dorm dengan mobil antar jemput SHINee, tapi hari ini ia ingin menghirup
sedikit udara segar dengan berjalan menuju dorm.
Ia menikmati pemandangan di
sekitar jalan yang ia lewati. Walaupun pusat kota, Seoul punya penataan kota
yang cukup bagus sehingga tidak begitu membosankan menikmatinya. Hingga
pandangan Minho terpaut pada sosok seorang gadis di taman bermain kecil di sisi
kiri jalan.
Gadis itu berambut hitam sebahu.
Wajahnya cukup manis dengan bolamata hitampekat. Dia duduk di ayunan di taman
bermain itu. siluet cahaya matahari terbenam yang menyinari gadis itu
membuatnya terlihat sangat menawan. Minho terpana, ia menghentikan langkahnya.
Setetes air –yang sepertinya air
mata- menetes di pipi gadis itu. Dia menangis?
Minho baru saja hendak melangkah
mendekatinya ketika gadis itu menyadari keberadaannya dan menoleh ke arahnya.
Gadis itu benar-benar sedang menangis. Gadis itu segera menarik tas slempangnya
dengan terburu-buru dan berlari pergi.
“Hei, tunggu!” Minho terlambat
mencegah kepergian gadis itu. Padahal ia ingin menyapanya. Ingin menanyakan hal
yang membuat gadis itu menangis. Ingin menghapus airmatanya. Tapi gadis terus
berlari dan menghilang dibelokan pertama.
***
Minho’s POV ::
Sial! Mengapa ekspresi wajah Aeri
tadi siang sama persis dengan raut wajahnya 6 bulan yang lalu?
Mengapa dia menangis di taman
waktu itu? Untuk siapa dia menangis? Apa yang membuat gadis ceria sepertinya menangis?
Ini yang selalu menjadi
pertanyaanku selama 6 bulan ini. Pertanyaan yang begitu ingin kutanyakan
padanya. Pertanyaan yang muncul begitu saja ketika melihat air mata menetes di
pipinya 6 bulan yang lalu.
Kukira dia sudah baik-baik saja.
Aku selalu memperhatikannya selama 6 bulan ini untuk memastikan hal itu. Setiap
pagi aku menghentikan sebentar mobil kami sampai aku melihatnya menyapa Taemin
dengan penuh semangat. Setiap kali aku mendapat kesempatan menjemput, aku
datang lebih cepat supaya bisa melihatnya dan memastikan dia masih tersenyum
ceria sepulang sekolah.
Tapi ternyata aku masih melihat
ekspresi sedihnya tadi siang, tepat ketika Wheena membicarakan seseorang yang
pasti menjadi alasannya menangis 6 bulan yang lalu. Tapi siapa orang itu?
Seorang diantara artis binaan SM Entertainment kah?
***
“Minho-ya!” panggil Donghae
ketika melihat dongsaengnya itu melintas di lorong.
Minho tersadar dari lamunannya.
“Ah, hyung!”
“Kau sedang melamun ya?” tanya
Donghae diiringi dengan tawa, “Hayoo kau memikirkan siapa?” godanya.
“Ah, tidak melamunkan siapa-siapa
kok,” jawab Minho, “Eh, ada apa Hyung memanggilku?”
“Oh, ya. Itu.. Mihae menyuruhku
mengundangmu makan malam bersama kami sabtu depan. Katanya sangat sulit menemuimu,”
kata Donghae.
“Aahh, baiklah. Akhirnya kalian
merayakannya juga,” kata Minho dengan senyum jahilnya.
Donghae tertawa. “Merayakan apa?
Sudah terlalu terlambat untuk dirayakan. Ini hanya makan malam biasa kok. Bukan
perayaan,” katanya.
Minho mengangguk, “Baiklah,
Hyung. Aku pasti datang kok, katakan juga hal itu pada Mihae,” katanya.
“Baguslah. Mihae sangat ingin kau
datang, katanya tidak seru kalau kau tidak datang,” kata Donghae. “hmm.. ya
sudahlah! Aku masih ada jadwal setelah ini. oh ya, kau juga boleh mengajak
gadis yang tadi kau lamunkan itu,” katanya dengan senyum jahil.
Minho tertawa. “Kan sudah
kubilang aku tidak melamun,” bantahnya.
“Yaaa,, apapun alasanmu lah.
Tidak perlu berbohong pada Hyungmu ini, kau pikir sudah berapa lama kita akrab
hah?” kata Donghae.
“Ya sudahlah kalau Hyung tidak
percaya. Sudah sana, nanti kau terlambat dengan jadwalmu itu,” kata Minho.
Donghae menepuk jidatnya, “Benar
sekali. Kalau begitu Annyeong!” Donghae melambaikan tangan lalu segera berlari
menyusuri lorong.
Minho membalas lambaian tangan
Hyungnya itu. hmm.. Andai aku benar-benar
bisa mengajak Aeri pergi bersamaku. . .
***
“Hyung, bagaimana kalau kita
menjemput Aeri sekalian?” tanya Taemin tiba-tiba. Minho yang sedang menyetir
sedikit terkejut, Aeri juga diundang?
“Boleh saja, tapi.. Aeri juga
ikut?” tanya Minho.
Taemin mengangguk. “Tentu saja.
Mana mungkin kan Mihae tidak mengundangnya juga,” jawab Taemin, “Yah, walaupun
sebenarnya Aeri pasti berat untuk datang. Belok kanan di depan,” Taemin
menunjukkan jalan menuju rumah Aeri.
Minho mulai penasaran. “Memang
kenapa dia tidak mau datang?” tanyanya lagi, berusaha senatural mungkin supaya
Taemin tidak merasa dia sangat ingin tahu tentang Aeri.
“Ah, yaaahhh.. pokoknya
begitulah. Aku berjanji pada Aeri untuk tidak menceritakannya pada siapapun,”
jawab Taemin.
“Ooohh, lalu tidak apa-apa kita
tetap menjemputnya?” tanya Minho.
“Itu Hyung, rumah di depan itu,”
Taemin menunjuk sebuah rumah tak jauh dari mereka, “Kata Aeri sih tidak
apa-apa. Dia tidak enak pada Mihae kalau tidak datang. Yaah,, sebenarnya.. tapi
Hyung pura-pura tidak tahu saja ya. Aeri itu kan dari dulu suka sama
Donghae-hyung. Tapi malah Mihae yang akhirnya jadian dengan Donghae-hyung,”
Minho terkejut dengan pernyataan
Taemin. Benarkah orang yang disukai Aeri adalah Donghae? Kalau begitu 6 bulan
yang lalu. . .
Belum sempat Minho menanyakannya
kembali kepada Taemin, Aeri sudah keluar dari rumahnya dan berjalan menuju
mobil mereka. Perhatian Minho beralih menuju sosok Aeri yang berjalan menuju
mobil mereka. Gadis itu tersenyum tipis lalu segera membuka pintu belakang dan
masuk ke dalam mobil.
“Kau sudah siap, Aeri-ya?” tanya
Taemin.
“Siap apa?” tanya Aeri balik
sambil menutup pintu. “Ah, Annyeonghaseo Oppa,”
“Annyeong,” Minho masih tak bisa
banyak berkata-kata.
“Siap apa, Taemin-ah?”
“Siap menghadapi Mihae dan
Donghae-hyung,” jawab Taemin dengan senyum jahilnya.
“Sial kau!” umpat Aeri, tapi
kemudian gadis itu menghela nafas dan melanjutkan kalimatnya, “Yah,, aku juga
tidak yakin. Tapi ya sudahlah,”
Minho menjalankan mobilnya dalam
diam, dalam pemikirannya sendiri, sambil sesekali melirik ke sosok di jok
belakang. Sosok yang juga larut dalam pikiran dan keresahannya sendiri.
***
Aeri terus diam sejak tadi.
Ekspresinya begitu datar sampai-sampai barangkali tidak satupun mengenalinya
sebagai Aeri. Dia masih tersenyum tipis dan menjawab jika ditanya tapi tidak
sedikitpun memulai pembicaraan. Sekalipun terlihat sama tapi ini jelas bukan
Aeri yang biasanya.
Yang diundang ternyata tidak
hanya Aeri, Minho dan Taemin. Ada Hyukjae dan pacarnya Eunhyi, ada Kyuhyun tapi
tidak bersama Wheena –katanya Wheena sedang sibuk dengan pengaturan jadwal
Super Junior yang harus selesai malam ini, Kyuhyun juga berniat pulang lebih
cepat untuk menemani pacarnya itu-, ada juga Sungmin dan Eeteuk dari Super
Junior. Beberapa personel SNSD juga ada disana yaitu Yuri, Yoona, Jessica, dan
Tiffany. Suasananya cukup mendukung bagi Aeri. Ketidakbiasaan sikapnya tidak
begitu mencolok di tengah keramaian ini.
“Minho-ya,” panggil Yuri yang
tanpa Minho sadari sudah duduk disampingnya. Maklum, sejak tadi ia terus
memperhatikan Aeri.
“Ah, Yuri-ssi. Annyeong,” sapa
Minho. Walaupun Yuri lebih tua daripada Minho tapi ia memang terbiasa tidak
menggunakan bahasa nonformal pada personel SNSD itu.
“Annyeong. Sedang melihat apa
sih?” tanya Yuri sambil menelusuri arah pandangan Minho.
Minho segera mengalihkan
pandangannya. “Ah, tidak kok. Tidak melihat apa-apa,” jawabnya.
“Benarkah?” Yuri masih tidak
percaya. Minho mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu. Mmm.. kau
sudah mengambil makanan?” tanya Yuri lagi.
Minho menggeleng. “Belum”
“Kalau begitu ayo sama-sama,”
Yuri menarik Minho menuju griller.
Ah, ya acara makan malam yang
diadakan Mihae dan Donghae ini berupa pesta barbeque. Donghae sendiri yang
menngurusi barbequenya. Mihae juga ada di spot yang sama, di dekat BBQ Burner
sambil sesekali menghampiri siapapun yang menyapanya.
Sementara Aeri duduk di bangku
yang cukup jauh dari gril bersama Taemin. Beberapa kali Mihae menghampiri
mereka berdua tapi mereka tidak berpindah dari tempatnya.
“Itu pacarnya Taemin?” tanya Yuri
tiba-tiba. Rupanya ia mengira Minho memperhatikan dongsaengnya itu.
“Ah, bukan. Mereka teman sekelas,”
jawab Minho.
“Ooo..,” Yuri hanya ber’ooo’ria.
“Itu kan saudaranya Song Wheena,
tapi aku lupa namanya,” kata Tiffany yang ada di dekat mereka.
“Oohh, ya aku juga pernah
melihatnya di gedung SM. Ternyata masih SMA toh, eh.. dia temanmu juga dong Mihae?”
tanya Yuri pada Mihae yang ada di hadapan mereka.
Mihae mengangguk. “Ya, dia
sahabatku,” jawabnya sambil tersenyum.
“Kok gak ikutan gabung ke sini?”
tanya Yoona.
Mihae menoleh ke arah dua sahabatnya
itu. “Hmm.. tidak tahu tapi sepertinya dia sedang tidak enak badan. Sejak tadi
dia agak pendiam. Tidak seperti biasanya,”
“Kalau begitu panggilah ke sini,
Mihae-ya. Ajak bergabung disini,” kata Donghae.
Minho segera menyela, “Ah, biar
aku saja yang memanggilnya,” katanya reflek. Tidak terbayang olehnya ekspresi
Aeri jika Mihae mengajaknya bergabung dengan mereka. Kata-kata Minho barusan mengejutkan
orang-orang yang mendengarnya terutama Yuri.
Belum sempat Minho beranjak
menuju tempat Taemin dan Aeri, Aeri malah justru menghampiri gerombolan mereka
terlebih dahulu.
“Mihae-ya, aku pamit pulang
duluan ya,” kata Aeri.
“Eh, kenapa pulang duluan? Kau tidak apa-apa
kan Aeri? Kau tidak enak badan?” tanya Mihae khawatir.
Aeri menggeleng. “Tidak apa-apa
kok, yah hanya sedikit tidak enak badan saja,” jawabnya.
“Yaahh, sudahlah tidak apa-apa. Kalau
begitu biar seseorang mengantarmu. Ah, oppa, antarkan Aeri saja dulu, kau kan
tahu rumahnya juga,” kata Mihae pada Donghae. Donghae mengikuti kata-kata
kekasihnya itu dan mulai membersihkan tangannya yang kotor setelah mengurus
barbeque.
Aeri jelas terkejut. “Ah,tidak. Tidak
perlu diantar kok. Biar aku pulang sendiri saja. Sungguh. Aku tidak apa-apa,”
tolak Aeri sekuat tenaga.
“Sudah tak apa biar kuantar,”
kata Donghae yang tidak tahu alasan sebenarnya penolakan Aeri.
“Tidak, tidak usah,” Aeri masih
terus menolak. Ini keadaan gawat.
“Biar aku saja yang mengantarnya,”
kata Minho tiba-tiba, membuat orang-orang disekelilingnya terkejut.
“Hyung disini saja. ini kan acara
kalian. Biar aku saja yang mengantar Aeri,”
“Ah, baiklah,” dengan agak
bingung, Donghae mengiyakan.
“Ayo Aeri. Annyeong Hyung, Mihae,
kami pulang duluan,” Minho menarik tangan Aeri, membuat gadis itu sekalipun
juga masih terkejut dengan tindakan Minho mau tidak mau mengikutinya.
“Annyeonghaseo,” kata Aeri dengan
terburu-buru karena Minho terus menariknya keluar.
Mihae dan Taemin ssegera saling
berpandangan. Pertanyaan dalam otak mereka sama. Ada apa sebenarnya dengan
Minho dan Aeri?
***
Aeri dan Minho duduk berdampingan
di ayunan kecil di sudut taman bermain yang terletak tidak jauh dari gedung SM
Entertainment. Ini adalah taman bermain dimana Minho melihat Aeri menangis
untuk pertama kalinya. Mereka masih sama-sama diam. Tidak tahu harus memulai
pembicaraan dari mana.
“Mmm…,” Aeri mencoba mengumpulkan
keberanian untuk memulai pembicaraan, “Gamshahamnida, oppa. Barusan, Oppa sudah
menyelamatkanku. Pasti Taemin sudah menceritakan semuanya kan?” Aeri tersenyum
tipis, “Dasar anak itu tidak bisa jaga rahasia,”
Minho masih diam beberapa saat,
masih larut dalam pemikirannya sendiri dan masih merangkai kata-kata untuk
diucapkan di hadapan gadis yang ada disampingnya itu.
“Aku melihatmu di sini, 6 bulan
yang lalu,” kata-kata itulah yang akhirnya keluar pertama kali dari mulut
Minho.
Aeri terkejut.
“Enam bulan yang lalu? Ah, oppa yang
waktu itu…,”
“Ya, aku yang melihatmu menangis
waktu itu,” kata Minho.
Aeri kembali mengalihkan
pandangannya lalu menghela nafas. Beberapa saat kemudian ia tersenyum lalu
tertawa pelan, “Aku tidak menyadarinya waktu itu. Mianhae, oppa. Aku malah
kabur ketika kau panggil,”
Minho menggeleng, “Gwenchana. Aku
bisa mengerti perasaanmu saat itu,” katanya lalu kembali menunduk.
Aeri tersenyum tipis mendengar
jawaban Minho.
“Eh, tapi oppa tidak boleh
mengatakan apapun pada Mihae ya! Jangan mentang-mentang kau sepupunya,” kata
Aeri.
Minho menatap gadis itu lalu
berkata, “Iya, iya. Aku bisa jaga rahasia kok. Kau sahabat yang sangat baik ya.”
Aeri tertawa. “Tidak juga sih. Hanya
saja aku tetap tidak ingin Mihae tau. Biar aku berusaha melupakan Donghae-oppa
saja, karena itu dia tidak perlu tahu,” katanya masih sambil tersenyum.
“Kau sudah melupakannya?” tanya
Minho langsung ke sasaran, membuat Aeri diam dan berpikir sejenak sebelum
akhirnya menjawab.
“Yahh,, kupikir tadinya sudah. Tapi ternyata aku
masih belum bisa menghadapinya dengan biasa-biasa saja,” Aeri tersenyum lalu
melanjutkan kalimatnya, “Tapi aku sedang berusaha kok. Pasti sebentar lagi aku
benar-benar melupakannya,”
Minho pun ikut tersenyum melihat
Aeri sudah kembali tersenyum lagi.
“Ahh, aku jadi curhat begini deh
sama Oppa,” kata Aeri sudah kembali dengan nada cerianya.
Minho tertawa. “Gwenchana, kan
memang aku yang banyak bertanya. Lagipula sudah lega kan?” tanyanya.
“Ya. Gomawoyo, Oppa,” jawab Aeri
diikuti dengan anggukan.
“Ah, ngomong-ngomong ini tempat
favoritku kalau sedang ingin sendirian lho,” lanjutnya.
“Iya? Wah, kalau begitu aku harus
meninggalkanmu sendirian,” kata Minho dengan nada jahilnya.
“Bukan begitu maksudku. Kan aku cuma
bercerita. Lagipula Oppa juga pernah melihatku menangis di sini. Ah, aku jadi
malu nih,” kata Aeri dengan nada cerianya yang biasa.
Minho mengacak rambut gadis itu, “Dasar.
Buat apa malu segala coba,” katanya.
“Yaahhh, wajahku waktu itu pasti
berantakan sekali kan?” katanya sok cemberut.
“Mmm… sedikit,” jawab Minho, “Tapi
tetap manis kok,”
Tidak hanya Aeri yang terkejut
dengan jawaban Minho, bahkan Minho sendiripun terkejut dengan apa yang barusan
dikatakannya. Aahhh,, malu sekali. . .
“Mmm.. bagaimana kalau kita
mampir ke minimarket sebelum aku mengantarmu pulang. Kau mau es krim?” tanya
Minho berusaha mengalihkan pembicaraan yang tadi.
Aeri mengangguk. “Mauu!!” jawab
gadis itu bersemangat.
Minho tertawa.
Merekapun berjalan meninggalkan taman
bermain itu sambil berbagi cerita. Sekalipun diawali dengan sedikit kekacauan, malam
ini berakhir dengan tawa dan senyuman. Ya, terutama tawa dan senyum Aeri yang
selama ini selalu dinantikan oleh Minho.
***
tidakkah ini masih terlalu cepat untuk jadi sebuah happy ending? :D
To be continued...
Posting Komentar