♥post it♥----♥fanfiction♥----♥listen!♥----♥FOLLOW♥



▸ Satu Untukku #part3 ... ♬
Kamis, 27 Oktober 2011
♥ posted at: @17.15
0 wishes // make a wish?



Title : One for Me
Storyline by : @aisukeai
Genre : Romantic
OST : One for Me - SHINee

Cast
Choi Minho
Kang Aeri
Choi Mihae
Lee Donghae
Song Wheena
Cho Kyuhyun
Other SHINee’s Member
Other Super Junior’s Member
SNSD’s Member


NOTE : spesial fanfict with special cover. Kekekeke.. *ikutan cara ketawanya Taemin* ceritanya terinspirasi dari lagu One for Me – SHINee, silahkan lihat translate’annya di sini. Ah, special thanks buat semua pemeran yang namanya udah dipinjem. Hohoo.. Kamshahamnida <3

One for Me

이 순간 나는 그녈 위한
좋은 쉴 자리가 됐어 (like a blanket)
보면서 믿음을 지워버릴 수 있게
듬직한 남자 될거야
It’s the time I can
Become a comfortable place for her
(Like a blanket)
I’ll become a man she can trust and forget everything else




sebelumnya di One for Me #part2
Mendadak raut wajah Aeri berubah, “Onni lupa dia sudah punya pacar?”
“Ah, maaf Aeri-ya. Aku lupa,” kata Wheena dengan nada bersalah. Mendadak suasananya jadi agak kurang menyenangkan, tidak hanya untuk Wheena dan Aeri tapi diam-diam Minho juga.
“Ya sudahlah tak apa-apa kok. Kalau begitu aku pergi dulu ya Onni. Annyeong,” kata Aeri. Wheena mengangguk.
“Annyeonghaseo, Minho-oppa,” katanya. Minho membalas salam dari Aeri sambil memperhatikan raut wajah gadis itu.
Tanpa berkata apapun lagi gadis itu pergi meninggalkan lobby gedung SM Entertainment. Minho terus memperhatikannya sampai bayangannya menghilang di pintu utama. Wheena menghela nafas.
“Bodoh sekali aku. Padahal dia masih selalu begitu kalau aku membahasnya,” gumam Wheena.

Siapa?
***



Sore menjelang malam. Matahari beranjak menghilang di sisi barat. Warna gelap hitam mulai menutupi langit. Minho berjalan pulang dari gedung SM Entertainment. Biasanya ia selalu pulang ke dorm dengan mobil antar jemput SHINee, tapi hari ini ia ingin menghirup sedikit udara segar dengan berjalan menuju dorm.
Ia menikmati pemandangan di sekitar jalan yang ia lewati. Walaupun pusat kota, Seoul punya penataan kota yang cukup bagus sehingga tidak begitu membosankan menikmatinya. Hingga pandangan Minho terpaut pada sosok seorang gadis di taman bermain kecil di sisi kiri jalan.
Gadis itu berambut hitam sebahu. Wajahnya cukup manis dengan bolamata hitampekat. Dia duduk di ayunan di taman bermain itu. siluet cahaya matahari terbenam yang menyinari gadis itu membuatnya terlihat sangat menawan. Minho terpana, ia menghentikan langkahnya.
Setetes air –yang sepertinya air mata- menetes di pipi gadis itu. Dia menangis?
Minho baru saja hendak melangkah mendekatinya ketika gadis itu menyadari keberadaannya dan menoleh ke arahnya. Gadis itu benar-benar sedang menangis. Gadis itu segera menarik tas slempangnya dengan terburu-buru dan berlari pergi.
“Hei, tunggu!” Minho terlambat mencegah kepergian gadis itu. Padahal ia ingin menyapanya. Ingin menanyakan hal yang membuat gadis itu menangis. Ingin menghapus airmatanya. Tapi gadis terus berlari dan menghilang dibelokan pertama.

***

Minho’s POV ::
Sial! Mengapa ekspresi wajah Aeri tadi siang sama persis dengan raut wajahnya 6 bulan yang lalu?
Mengapa dia menangis di taman waktu itu? Untuk siapa dia menangis? Apa yang membuat gadis ceria  sepertinya menangis?
Ini yang selalu menjadi pertanyaanku selama 6 bulan ini. Pertanyaan yang begitu ingin kutanyakan padanya. Pertanyaan yang muncul begitu saja ketika melihat air mata menetes di pipinya 6 bulan yang lalu.
Kukira dia sudah baik-baik saja. Aku selalu memperhatikannya selama 6 bulan ini untuk memastikan hal itu. Setiap pagi aku menghentikan sebentar mobil kami sampai aku melihatnya menyapa Taemin dengan penuh semangat. Setiap kali aku mendapat kesempatan menjemput, aku datang lebih cepat supaya bisa melihatnya dan memastikan dia masih tersenyum ceria sepulang sekolah.
Tapi ternyata aku masih melihat ekspresi sedihnya tadi siang, tepat ketika Wheena membicarakan seseorang yang pasti menjadi alasannya menangis 6 bulan yang lalu. Tapi siapa orang itu? Seorang diantara artis binaan SM Entertainment kah?
 
***

“Minho-ya!” panggil Donghae ketika melihat dongsaengnya itu melintas di lorong.
Minho tersadar dari lamunannya. “Ah, hyung!”
“Kau sedang melamun ya?” tanya Donghae diiringi dengan tawa, “Hayoo kau memikirkan siapa?” godanya.
“Ah, tidak melamunkan siapa-siapa kok,” jawab Minho, “Eh, ada apa Hyung memanggilku?”
“Oh, ya. Itu.. Mihae menyuruhku mengundangmu makan malam bersama kami sabtu depan. Katanya sangat sulit menemuimu,” kata Donghae.
“Aahh, baiklah. Akhirnya kalian merayakannya juga,” kata Minho dengan senyum jahilnya.
Donghae tertawa. “Merayakan apa? Sudah terlalu terlambat untuk dirayakan. Ini hanya makan malam biasa kok. Bukan perayaan,” katanya.
Minho mengangguk, “Baiklah, Hyung. Aku pasti datang kok, katakan juga hal itu pada Mihae,” katanya.
“Baguslah. Mihae sangat ingin kau datang, katanya tidak seru kalau kau tidak datang,” kata Donghae. “hmm.. ya sudahlah! Aku masih ada jadwal setelah ini. oh ya, kau juga boleh mengajak gadis yang tadi kau lamunkan itu,” katanya dengan senyum jahil.
Minho tertawa. “Kan sudah kubilang aku tidak melamun,” bantahnya.
“Yaaa,, apapun alasanmu lah. Tidak perlu berbohong pada Hyungmu ini, kau pikir sudah berapa lama kita akrab hah?” kata Donghae.
“Ya sudahlah kalau Hyung tidak percaya. Sudah sana, nanti kau terlambat dengan jadwalmu itu,” kata Minho.
Donghae menepuk jidatnya, “Benar sekali. Kalau begitu Annyeong!” Donghae melambaikan tangan lalu segera berlari menyusuri lorong.
Minho membalas lambaian tangan Hyungnya itu. hmm.. Andai aku benar-benar bisa mengajak Aeri pergi bersamaku. . .

***

“Hyung, bagaimana kalau kita menjemput Aeri sekalian?” tanya Taemin tiba-tiba. Minho yang sedang menyetir sedikit terkejut, Aeri juga diundang?
“Boleh saja, tapi.. Aeri juga ikut?” tanya Minho.
Taemin mengangguk. “Tentu saja. Mana mungkin kan Mihae tidak mengundangnya juga,” jawab Taemin, “Yah, walaupun sebenarnya Aeri pasti berat untuk datang. Belok kanan di depan,” Taemin menunjukkan jalan menuju rumah Aeri.
Minho mulai penasaran. “Memang kenapa dia tidak mau datang?” tanyanya lagi, berusaha senatural mungkin supaya Taemin tidak merasa dia sangat ingin tahu tentang Aeri.
“Ah, yaaahhh.. pokoknya begitulah. Aku berjanji pada Aeri untuk tidak menceritakannya pada siapapun,” jawab Taemin.
“Ooohh, lalu tidak apa-apa kita tetap menjemputnya?” tanya Minho.
“Itu Hyung, rumah di depan itu,” Taemin menunjuk sebuah rumah tak jauh dari mereka, “Kata Aeri sih tidak apa-apa. Dia tidak enak pada Mihae kalau tidak datang. Yaah,, sebenarnya.. tapi Hyung pura-pura tidak tahu saja ya. Aeri itu kan dari dulu suka sama Donghae-hyung. Tapi malah Mihae yang akhirnya jadian dengan Donghae-hyung,”
Minho terkejut dengan pernyataan Taemin. Benarkah orang yang disukai Aeri adalah Donghae? Kalau begitu 6 bulan yang lalu. . .
Belum sempat Minho menanyakannya kembali kepada Taemin, Aeri sudah keluar dari rumahnya dan berjalan menuju mobil mereka. Perhatian Minho beralih menuju sosok Aeri yang berjalan menuju mobil mereka. Gadis itu tersenyum tipis lalu segera membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil.
“Kau sudah siap, Aeri-ya?” tanya Taemin.
“Siap apa?” tanya Aeri balik sambil menutup pintu. “Ah, Annyeonghaseo Oppa,”
“Annyeong,” Minho masih tak bisa banyak berkata-kata.
“Siap apa, Taemin-ah?”
“Siap menghadapi Mihae dan Donghae-hyung,” jawab Taemin dengan senyum jahilnya.
“Sial kau!” umpat Aeri, tapi kemudian gadis itu menghela nafas dan melanjutkan kalimatnya, “Yah,, aku juga tidak yakin. Tapi ya sudahlah,”
Minho menjalankan mobilnya dalam diam, dalam pemikirannya sendiri, sambil sesekali melirik ke sosok di jok belakang. Sosok yang juga larut dalam pikiran dan keresahannya sendiri.

***

Aeri terus diam sejak tadi. Ekspresinya begitu datar sampai-sampai barangkali tidak satupun mengenalinya sebagai Aeri. Dia masih tersenyum tipis dan menjawab jika ditanya tapi tidak sedikitpun memulai pembicaraan. Sekalipun terlihat sama tapi ini jelas bukan Aeri yang biasanya.
Yang diundang ternyata tidak hanya Aeri, Minho dan Taemin. Ada Hyukjae dan pacarnya Eunhyi, ada Kyuhyun tapi tidak bersama Wheena –katanya Wheena sedang sibuk dengan pengaturan jadwal Super Junior yang harus selesai malam ini, Kyuhyun juga berniat pulang lebih cepat untuk menemani pacarnya itu-, ada juga Sungmin dan Eeteuk dari Super Junior. Beberapa personel SNSD juga ada disana yaitu Yuri, Yoona, Jessica, dan Tiffany. Suasananya cukup mendukung bagi Aeri. Ketidakbiasaan sikapnya tidak begitu mencolok di tengah keramaian ini.
“Minho-ya,” panggil Yuri yang tanpa Minho sadari sudah duduk disampingnya. Maklum, sejak tadi ia terus memperhatikan Aeri.
“Ah, Yuri-ssi. Annyeong,” sapa Minho. Walaupun Yuri lebih tua daripada Minho tapi ia memang terbiasa tidak menggunakan bahasa nonformal pada personel SNSD itu.
“Annyeong. Sedang melihat apa sih?” tanya Yuri sambil menelusuri arah pandangan Minho.
Minho segera mengalihkan pandangannya. “Ah, tidak kok. Tidak melihat apa-apa,” jawabnya.
“Benarkah?” Yuri masih tidak percaya. Minho mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu. Mmm.. kau sudah mengambil makanan?” tanya Yuri lagi.
Minho menggeleng. “Belum”
“Kalau begitu ayo sama-sama,” Yuri menarik Minho menuju griller.
Ah, ya acara makan malam yang diadakan Mihae dan Donghae ini berupa pesta barbeque. Donghae sendiri yang menngurusi barbequenya. Mihae juga ada di spot yang sama, di dekat BBQ Burner sambil sesekali menghampiri siapapun yang menyapanya.
Sementara Aeri duduk di bangku yang cukup jauh dari gril bersama Taemin. Beberapa kali Mihae menghampiri mereka berdua tapi mereka tidak berpindah dari tempatnya.
“Itu pacarnya Taemin?” tanya Yuri tiba-tiba. Rupanya ia mengira Minho memperhatikan dongsaengnya itu.
“Ah, bukan. Mereka teman sekelas,” jawab Minho.
“Ooo..,” Yuri hanya ber’ooo’ria.
“Itu kan saudaranya Song Wheena, tapi aku lupa namanya,” kata Tiffany yang ada di dekat mereka.
“Oohh, ya aku juga pernah melihatnya di gedung SM. Ternyata masih SMA toh, eh.. dia temanmu juga dong Mihae?” tanya Yuri pada Mihae yang ada di hadapan mereka.
Mihae mengangguk. “Ya, dia sahabatku,” jawabnya sambil tersenyum.
“Kok gak ikutan gabung ke sini?” tanya Yoona.
Mihae menoleh ke arah dua sahabatnya itu. “Hmm.. tidak tahu tapi sepertinya dia sedang tidak enak badan. Sejak tadi dia agak pendiam. Tidak seperti biasanya,”
“Kalau begitu panggilah ke sini, Mihae-ya. Ajak bergabung disini,” kata Donghae.
Minho segera menyela, “Ah, biar aku saja yang memanggilnya,” katanya reflek. Tidak terbayang olehnya ekspresi Aeri jika Mihae mengajaknya bergabung dengan mereka. Kata-kata Minho barusan mengejutkan orang-orang yang mendengarnya terutama Yuri.
Belum sempat Minho beranjak menuju tempat Taemin dan Aeri, Aeri malah justru menghampiri gerombolan mereka terlebih dahulu.
“Mihae-ya, aku pamit pulang duluan ya,” kata Aeri.
 “Eh, kenapa pulang duluan? Kau tidak apa-apa kan Aeri? Kau tidak enak badan?” tanya Mihae khawatir.
Aeri menggeleng. “Tidak apa-apa kok, yah hanya sedikit tidak enak badan saja,” jawabnya.
“Yaahh, sudahlah tidak apa-apa. Kalau begitu biar seseorang mengantarmu. Ah, oppa, antarkan Aeri saja dulu, kau kan tahu rumahnya juga,” kata Mihae pada Donghae. Donghae mengikuti kata-kata kekasihnya itu dan mulai membersihkan tangannya yang kotor setelah mengurus barbeque.
Aeri jelas terkejut. “Ah,tidak. Tidak perlu diantar kok. Biar aku pulang sendiri saja. Sungguh. Aku tidak apa-apa,” tolak Aeri sekuat tenaga.
“Sudah tak apa biar kuantar,” kata Donghae yang tidak tahu alasan sebenarnya penolakan Aeri.
“Tidak, tidak usah,” Aeri masih terus menolak. Ini keadaan gawat.
“Biar aku saja yang mengantarnya,” kata Minho tiba-tiba, membuat orang-orang disekelilingnya terkejut.
“Hyung disini saja. ini kan acara kalian. Biar aku saja yang mengantar Aeri,”
“Ah, baiklah,” dengan agak bingung, Donghae mengiyakan.
“Ayo Aeri. Annyeong Hyung, Mihae, kami pulang duluan,” Minho menarik tangan Aeri, membuat gadis itu sekalipun juga masih terkejut dengan tindakan Minho mau tidak mau mengikutinya.
“Annyeonghaseo,” kata Aeri dengan terburu-buru karena Minho terus menariknya keluar.
Mihae dan Taemin ssegera saling berpandangan. Pertanyaan dalam otak mereka sama. Ada apa sebenarnya dengan Minho dan Aeri?

***

Aeri dan Minho duduk berdampingan di ayunan kecil di sudut taman bermain yang terletak tidak jauh dari gedung SM Entertainment. Ini adalah taman bermain dimana Minho melihat Aeri menangis untuk pertama kalinya. Mereka masih sama-sama diam. Tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
“Mmm…,” Aeri mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan, “Gamshahamnida, oppa. Barusan, Oppa sudah menyelamatkanku. Pasti Taemin sudah menceritakan semuanya kan?” Aeri tersenyum tipis, “Dasar anak itu tidak bisa jaga rahasia,”
Minho masih diam beberapa saat, masih larut dalam pemikirannya sendiri dan masih merangkai kata-kata untuk diucapkan di hadapan gadis yang ada disampingnya itu.
“Aku melihatmu di sini, 6 bulan yang lalu,” kata-kata itulah yang akhirnya keluar pertama kali dari mulut Minho.
Aeri terkejut.
“Enam bulan yang lalu? Ah, oppa yang waktu itu…,”
“Ya, aku yang melihatmu menangis waktu itu,” kata Minho.
Aeri kembali mengalihkan pandangannya lalu menghela nafas. Beberapa saat kemudian ia tersenyum lalu tertawa pelan, “Aku tidak menyadarinya waktu itu. Mianhae, oppa. Aku malah kabur ketika kau panggil,”
Minho menggeleng, “Gwenchana. Aku bisa mengerti perasaanmu saat itu,” katanya lalu kembali menunduk.
Aeri tersenyum tipis mendengar jawaban Minho.
“Eh, tapi oppa tidak boleh mengatakan apapun pada Mihae ya! Jangan mentang-mentang kau sepupunya,” kata Aeri.
Minho menatap gadis itu lalu berkata, “Iya, iya. Aku bisa jaga rahasia kok. Kau sahabat yang sangat baik ya.”
Aeri tertawa. “Tidak juga sih. Hanya saja aku tetap tidak ingin Mihae tau. Biar aku berusaha melupakan Donghae-oppa saja, karena itu dia tidak perlu tahu,” katanya masih sambil tersenyum.
“Kau sudah melupakannya?” tanya Minho langsung ke sasaran, membuat Aeri diam dan berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.
“Yahh,,  kupikir tadinya sudah. Tapi ternyata aku masih belum bisa menghadapinya dengan biasa-biasa saja,” Aeri tersenyum lalu melanjutkan kalimatnya, “Tapi aku sedang berusaha kok. Pasti sebentar lagi aku benar-benar melupakannya,”
Minho pun ikut tersenyum melihat Aeri sudah kembali tersenyum lagi.
“Ahh, aku jadi curhat begini deh sama Oppa,” kata Aeri sudah kembali dengan nada cerianya.
Minho tertawa. “Gwenchana, kan memang aku yang banyak bertanya. Lagipula sudah lega kan?” tanyanya.
“Ya. Gomawoyo, Oppa,” jawab Aeri diikuti dengan anggukan.
“Ah, ngomong-ngomong ini tempat favoritku kalau sedang ingin sendirian lho,” lanjutnya.
“Iya? Wah, kalau begitu aku harus meninggalkanmu sendirian,” kata Minho dengan nada jahilnya.
“Bukan begitu maksudku. Kan aku cuma bercerita. Lagipula Oppa juga pernah melihatku menangis di sini. Ah, aku jadi malu nih,” kata Aeri dengan nada cerianya yang biasa.
Minho mengacak rambut gadis itu, “Dasar. Buat apa malu segala coba,” katanya.
“Yaahhh, wajahku waktu itu pasti berantakan sekali kan?” katanya sok cemberut.
“Mmm… sedikit,” jawab Minho, “Tapi tetap manis kok,”
Tidak hanya Aeri yang terkejut dengan jawaban Minho, bahkan Minho sendiripun terkejut dengan apa yang barusan dikatakannya. Aahhh,, malu sekali. . .
“Mmm.. bagaimana kalau kita mampir ke minimarket sebelum aku mengantarmu pulang. Kau mau es krim?” tanya Minho berusaha mengalihkan pembicaraan yang tadi.
Aeri mengangguk. “Mauu!!” jawab gadis itu bersemangat.
Minho tertawa.
Merekapun berjalan meninggalkan taman bermain itu sambil berbagi cerita. Sekalipun diawali dengan sedikit kekacauan, malam ini berakhir dengan tawa dan senyuman. Ya, terutama tawa dan senyum Aeri yang selama ini selalu dinantikan oleh Minho.
***


tidakkah ini masih terlalu cepat untuk jadi sebuah happy ending? :D
To be continued...

Label:

0 Comments:

Posting Komentar


◂◂ travel back in time ♪ // back to top \\ ♪ back to the future ▸▸
© All Rights Reserved 2011


Shinee - Minho