Merekapun berjalan meninggalkan taman
bermain itu sambil berbagi cerita. Sekalipun diawali dengan sedikit kekacauan, malam
ini berakhir dengan tawa dan senyuman. Ya, terutama tawa dan senyum Aeri yang
selama ini selalu dinantikan oleh Minho.
Sejak malam itu Aeri dan Minho
semakin akrab. Mereka yang tadinya hanya sekedar saling ‘tahu’ sekarang sudah
menjadi teman berbagi cerita. Bahkan mereka selalu bbm’an sepanjang hari
*makluuummm,, sama-sama pengguna bb sih B-)*. Aeri juga seringkali tertangkap
sedang senyum-senyum sendiri menatap layar blackberry’nya.
Seperti saat ini. Sekarang Aeri,
Mihae dan Taemin sedang berada di kelas seni rupa. Sejak tadi, terhitung sudah
7 kali Aeri tersenyum sendiri sambil menatap layar blackberrynya *menurut
perhitungan Mihae*. Ini membuat Mihae dan Taemin semakin bertanya-tanya.
“7 kali,” kata Mihae para Taemin
di seberangnya.
Taemin mengangguk.
“Itu sudah pasti Minho-oppa,”
kata Mihae lagi.
Taemi mengangguk untuk kedua
kalinya membuat Mihae kesal dan akhirnya menjitak kepalanya.
“Kau hanya mengangguk-angguk saja
dari tadi. Kita harus bagi tugas tau,” kata Mihae setengah berbisik.
“Heee?? Bagi tugas untuk apa?”
tanya Taemin.
“Untuk menyelidiki Minho-oppa dan
Aeri, pabo!” jawab Mihae.
“Ooohh.. baiklah,” kata Taemin
yang akhirnya mengerti.
***
Sudah berkali-kali Minho mengecek
blackberrynya. Daritadi bbm yang dia nanti belum juga datang. Yap, tepat
sekali! Yang dinantikan oleh Minho tentu saja bbm dari Aeri.
“Tidak usah dicheck tiap 2 menit
sekali juga sih Hyung, kan sekarang kelasku jadwalnya ulangan Seni Musik,”
komentar Taemin melihat perilaku hyungnya sejak tadi.
Taemin, Minho dan anggota SHINee
yang lain saat ini sedang berada di waiting room bersama Super Junior, 2PM,
SNSD, dan Brown Eyed Girls. Minho, Taemin, Jonghyun, Kyuhyun, Donghae, Eunhyuk,
Sungmin, Sunny, Taeyeon dan Yuri malahan sama-sama duduk di sofa melingkar
sambil menunggu giliran mereka tampil.
“Apaan sih?” bantah Minho dengan
agak salting.
“Sudah deh, Hyung mengaku saja.
Hyung selama ini sudah pacaran dengan Aeri kan diam-diam?” Taemin langsung
terang-terangan bertanya. Pertanyaan itu jelas membuat orang-orang di sekitar
mereka ikut terkejut dan menyimak.
“Iya kau sekarang punya pacar,
Minho?” tanya Taeyeon.
“Ti..tidak Noona,” bantah Minho.
“Aeri yang waktu itu mengajarimu
matematika di dorm itu?” tanya Jonghyun, “Pintar sekali kau memilih pacar,
Minho-ya. Gadis itu sangat manis,”
“Aahh,, tidak hyung,” Minho masih
mencoba membantah.
“Ya ampun, Aeri keponakannya
Wheena itu ya? Wahh…,” Kyuhyun ikutan nimbrung.
Wheena yang merasa namanya
disebut oleh pacarnya sendiri segera bergabung dengan mereka.
“Apa? Ada apa dengan Aeri?” tanya
Wheena.
“Itu, ternyata Minho sekarang
dengan Aeri. Wah, kita bisa double date nih,” komentar Donghae.
“Tidak, tidak, kami belum jadian,”
jawab Minho berusaha menjelaskan. Tapi sayangnya ia memilih kata yang salah.
“BELUM? Asiikkk,, berarti akan,”
kata Eunhyuk jahil. Yang lainnya ikut tertawa, kecuali Yuri.
Gadis itu memasang tampang
cemberut sebelum akhirnya pergi dengan hentakan kasar highheelsnya.
“Hayolooohh,” kata Sungmin.
“Sudah, sudah. Biar aku yang
menyusul Yuri,” kata Sunny yang kemudian bangkit menyusul Yuri.
“Tapi aku setuju lho Hyung sama
Aeri,” Taemin kembali ke topik awal.
“Aku sebagai onninya juga setuju,”
tambah Wheena. Mereka bahkan melupakan insiden Yuri barusan.
“Sungmo,” koreksi Kyuhyun.
“Kyuuuuuuu!!!!!!!!!!!!” Wheena
mencubit pacarnya sendiri. Sudah tahu dia tidak mau dipanggil Sungmo. Yah, tapi
sebenarnya cubitan Wheena pada Kyuhyun lebih menyerupai cubitan mesra sih. Yang
lainnya ikut tertawa melihat kelakuan pasangan KyuNa itu.
***
Aeri menunggu di lobby gedung SM
Entertainment. Dia menunggu Mihae. Mereka berjanji akan pergi bersama ke took buku
setelah Mihae pulang latihan Acting hari ini. Ia menunggu sambil mengedarkan
pandangan ke sudut-sudut lobby, barangkali ia bisa melihat sosok Minho di sana.
Yah, setelah malam itu hingga
saat ini hubungan mereka berdua memang semakin dekat. Mulai dari bbman
sepanjang hari, telpon-telponan di tengah malam, bahkan beberapakali makan bersama
sudah pernah mereka lakukan. Sepertinya tanpa sadar Aeri sudah mulai jatuh
cinta pada Minho. Pria itu memang sangat baik dan selalu ada saat Aeri
membutuhkannya. Karena perhatian dan kebaikan hati Minho itulah lama kelamaan
Aeri bersedia membuka hatinya lagi setelah sempat tertutup karena patah hatinya
pada Donghae. Ah, iya! Ngomong-ngomong, bagaimana ya keadaan
Donghae sekarang? Aeri bahkan sepertinya sudah benar-benar melupakannya dan
merelakan Donghae bersama sahabatnya, Mihae, sepenuhnya.
Baru saja diingat Donghae
langsung muncul. Well, orang yang satu ini memang panjang umur. Ia keluar dari
lift dan segera berjalan menuju meja receptionist. Beberapa saat kemudian ia
menangkap sosok Aeri di lobby.
Donghae melambaikan tangan, “Hei,
Aeri-ssi!”
“Ah, annyeonghaseo Oppa,” Aeri
membalas lambaian tangan Donghae lalu menghampirinya.
“Hei, menunggu siapa? Minho?”
tanya Donghae dengan senyum jahilnya.
Wajah Aeri memerah. “Apaan sih
oppa. Aku menunggu pacarmu tau,” jawab Aeri. Kali ini ia sudah bisa bersikap
biasa saja di depan Oppa yang satu ini.
“Oooh,, kan kukira.. Mihae
sebentar lagi selesai kok. Memang mau pergi kemana?” tanya Donghae.
“Mau tauuuu aja,” jawab Aeri sok
rahasia, “Ini rahasia para wanita, oppa,” gadis itu balas tersenyum jahil.
Donghae pura-pura memasang
tampang ngambek, “Huuu… sok rahasia. Aku kan juga mau ikut,” katanya.
Aeri tertawa terbahak.
***
Minho’s POV ::
Aeri tertawa. Terlihat sangat
bahagia.
Minho baru saja sampai di ujung
lorong menuju lobby utama ketika melihat pemandangan itu. Aeri dan
Donghae-hyung sedang mengobrol di dekat meja receptionist. Mereka tertawa
bersama-sama lalu sesekali memasang tampang cemberut dan kembali tertawa.
Ini yang bisa membuat Aeri benar-benar
bahagia?
***
Aeri’s POV ::
Sudah beberapa hari ini tidak ada
kabar dari Minho-oppa. Jangankan membalas, membaca bbm dariku pun tidak. Padahal
Taemin tetap masuk sekolah seperti biasanya, berarti SHINee tidak sedang padat
jadwal kan? Aku juga sudah menanyakannya pada Taemin dan dia bilang ‘Minho-hyung
baik-baik saja kok,”. Kemarin waktu mengantar Taemin ke sekolah ia langsung
menjalankan mobilnya tanpa menyapaku dulu seperti biasanya.
Ada apa sih sebenarnya?
***
Karena kelakuan yang aneh Minho
belakangan ini, Taemin mengusulkan pada Aeri untuk menonton show SHINee hari
ini dan menanyakan langsung pada Minho. Tidak hanya pada Aeri, tapi memang
belakangan ini Minho terlihat murung dan tidak bersemangat. Karena itulah,
Taemin pikir ini ada hubungannya dengan Aeri. Awalnya tentu saja gadis itu
menolak karena malu harus mendatangi Minho duluan. Tapi kemudian, sepertinya
sih karena memang kangen Aeri mau juga datang.
Aeri dan Mihae saat ini sedang
mengikuti langkah Taemin menuju backstage.
“Udah gak usah grogi gitu juga
sih,” kata Taemin jahil.
Aeri melengos, “Siapa juga yang
grogi,” bantahnya.
Mihae tertawa. “Dasar sama-sama
gengsi sih. Gini kan jadinya. Makanya kalo ada apa-apa tuh diomongin. Kaya aku
sama Haeppa,” komentar Mihae dengan wajah berbunga-bunga. Itu memang ekspresi
standar seorang Mihae kalau membicarakan Donghae.
“Mulai deh,” kata Taemin dengan
nada datar.
Aeri tertawa. Yah setidaknya
karena ada dua sahabatnya dia bisa sedikit melupakan rasa groginya untuk
menemui Minho.
***
Minho terduduk lesu di sofa
waiting room. Berhari-hari pikirannya terus dan terus kembali pada Aeri. Padahal
segala cara sudah dilakukannya untuk menjauhi gadis itu. Bahkan seringkali
pikiran bahwa keadaannya sekarang sama dengan kenyataan bahwa Aeri tidak akan
pernah bisa melupakan Donghae melintas di benaknya. Itu semakin menyakitkan.
Minho masih sibuk dnegan
pikirannya sendiri ketika seseorang memanggilnya.
“Minho-ya!” panggil seornag gadis
yang ternyata adalah Yuri yang tanpa Minho sadari sejak tadi duduk di sampingnya.
Minho membenarkan posisi
duduknya. “Ahh, Yuri-ssi. Kau baru datang?” tanyanya.
“Sudah sejak tadi aku datang tapi
tak ada sedikitpun respon darimu,” jawab Yuri sebal.
Minho mengusap wajahnya. “Ah,
mianhamnida Yuri-ssi. Akhir-akhir ini aku banyak pikiran,” katanya.
“Banyak pikiran? Pikiran tentang
apa? Tentang gadis bernama Aeri itu?” tanya Yuri lagi.
Minho hanya tersenyum tipis.
“Sudahlah lupakan saja gadis itu.
Dia hanya gadis tidak tahu diri yang ngelunjak setelah merasa berhasil menarik
perhatianmu,” kata Yuri lagi.
“Tidak. Dia bukan seperti yang
kau katakan tadi. Hanya saja..aku yang tidak bisa benar-benar membahagiakannya.
Makanya lebih baik dia pergi,” Minho
mengoreksi kata-kata Yuri barusan.
“Kenapa sih kau selalu
membelanya?!” nada bicara Yuri mulai meninggi.
“Ahh, mianhae, Yuri-ssi. Tapi memang
begitu keadaannya. Kau tidak boleh berpikir negative tentang Aeri,” kata Minho.
“IYA TAPI KENAPA?! Kenapa gadis
biasa yang baru kemarin kau kenal itu bisa membuatmu seperti ini?! sementara
kau tidak sedikitpun melihatku,” kata Yuri lagi.
Minho terkejut dengan pernyataan
Yuri barusan. Dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu tentang Yuri. Baginya
Yuri adalah sunbae’nya tidak lebih.
“Mianhae, Yuri-ssi. Tapi aku
menganggapmu sunbaeku, hanya itu, tidak lebih,” kata Minho.
Tiba-tiba Yuri memeluk Minho,
sambil menahan tangis dia berkata, “Tidak bisakah kau memandangku sebagai
wanita?”
“Ahh,, Yuri-ssi..,” Minho baru saja
akan menegaskan sekali lagi pernyataannya yang tadi ketika pintu ruang waiting
room terbuka.
Minho segera menoleh dan
melepaskan diri dari pelukan Yuri. Betapa terkejutnya ia ketika matanya
menangkap sosok Aeri yang baru saja muncul di balik pintu.
“Aeri..,”
***
Posting Komentar