My Flower
Genre : Romantic
Cast :
SHINee’s Choi Minho
Yoon Aeri
Yoon Eunhyi, Yoon
Mihae
Song Wheena
SHINee’s Lee Jinki,
Lee Taemin, Kim Kibum, Kim Jonghyun
NOTE:
Pertama, aku mo
tanya. Minho itu aslinya sekolah di sekolah khusus cowo2 yak?? Hehe.. udah lah
ya.. gapapa maksa ganti sekolah dikit doang. Kan biar ceritanya seru,, ada
bumbu2 percintaan remaja SMA’nya gitu #apadeh. Hehe..
Terus seperti biasa I
DON’T OWN ANYONE IN SHINEE. Walaupun sebenernya berharap banget sih bisa
memiliki satu dari lima orang keren2 ituhh,, tapi ya sudahlah itu hanya mimpi.
Hehehe.. Yoon Aeri anggep aja aku #ngarep dan Eunhyi, Mihae, dan Wheena adalah
milik tiga orang yang sudah sangat sering berlalu lalang dalam tiap fanfict’ku.
Haha..
Fanfict ini hanya
fiksi belaka, terjadi banyak rekayasa dari pengarangnya, semua demi alur cerita
yang padu dan efek cerita yang #dramatis. Jadi nikmatin aja yah!
My Flower
“You’re my flower not because
you’re more beautiful than other flowers;
you’re my flower not because
you’re more fragrant than other flowers; ...
Seorang gadis menginjakkan kakinya di Seoul setelah sekian
tahun ia pergi meninggalkan kota tersebut dan melanjutkan studinya di Amerika.
Ia melepaskan kacamata hitamnya dan segera menyeret kopernya. Sesampainya di
luar bandara, ia merogoh tasnya dan mengambil iPhone miliknya.
“Yeoboseyo? Ne, noneun Wheena-yeyo. Masih ingat denganku?
Ah, ya siapa tahu kan lupa. Aku sedang pulang ke Korea. Ne ne, arasseo, aku
pasti mampir ke tempatmu kok,” katanya pada seseorang di seberang sana
sementara supir taksi yang dipanggilnya sedang menaikan koper dan tas jinijingnya.
“Silahkan nona,” kata si supir taksi sambil mempersilahkan
Wheena masuk ke dalam taksi.
Gadis itu masuk sambil tetap melanjutkan perbincangannya di
telepon.
“Ne, jinjja? Itu boysband Minho-gun kan? Yang dulu sekelas
dengan kita itu. apa tadi namanya? SHINee? Ooo.. ne ne. ah, iya! Bagaimana
dengan Aeri-ya? Kau masih sering bertemu? Ahhh,, ya aku sangat merindukannya,”
kata Wheena.
Dan perbincangan itu terus berlanjut selama taksi yang
ditumpangi Wheena melaju di jalanan kota Seoul.
***
Minho melongok lagi ke tempat
duduk penonton. Reheasal hampir dimulai, tapi dua kakak-adik yang ditunggunya
belum juga terlihat. Dengan penuh rasa kecewa Minho berniat kembali ke waiting
room.
“Belum datang juga si Aeri?”
tanya Jonghyun.
“Belum,” jawab Minho, tapi kemudian
tersadar, “Eh, aku tidak..,”
Key menepuk pundak Minho,
“Sudahlah akui saja. percuma kau bohong juga. Sudah jelas kelihatan sekali
kalau kau menyukainya,” kata Key.
“Iya betul, Hyung, mengaku saja,”
kata Taemin sambil mengangguk-angguk.
“Tapi..,yah.., kalian tau sendiri
Aeri selalu cuek padaku,” kata Minho.
“Itu karena dia berusaha menutupi
perasaannya saja. kelihatan juga kok kalau dia sebenarnya juga suka padamu,”
kata Key.
“Begini saja, biar kami bantu
mendekatkan kalian berdua. Soal Eunhyi biar kami yang mengajaknya main,” kata
Jonghyun.
“Tapi..,” Minho masih tidak
yakin.
“Sudahlah, kami senang kok dengan
misi seperti ini,” kata Taemin dengan senyum antusiasnya.
“Hei, tapi kau jangan mengacaukan
rencana ya nanti,” Jonghyun memperingatkan.
“Iya, iya, aku akan berusaha,”
kata Taemin. “Semangat, Hyung!”
“Terimakasih semuanya,” kata
Minho.
Tiba-tiba Onew datang. “Hei, ada
apa ini ada apa? Kalian sedang merencanakan sesuatu?” tanyanya dengan nada
girang.
Semuanya langsung menatap Onew.
Seperti biasanya leader mereka ini paling heboh tapi paling tidak mengerti
apa-apa.
“Sini biar kujelaskan. Awas kalau
sampai hyung merusak rencana,” kata Key sambil menarik hyungnya keluar waiting
room sementara yang lainnya tertawa mengiringi langkah Key yang menyeret Onew.
***
Aeri dan Eunhyi sudah ada ditempatnya seperti biasa. Saat
ini SHINee belum tampil. Mereka menunggu sambil menikmati penampilan
artis-artis pengisi acara yang lain. Saat ini IU sedang menyanyikan lagu
Someday di atas panggung.
“Eunhyi-ah!” sapa Taemin dan Key yang tiba-tiba datang.
“Ah, Taemin-oppa, Key-oppa!” mereka pun saling ber’high
five’.
“Eunhyi mau ikut kami ke waiting room gak? Ini penawaran
istimewa lho,” kata Key sambil tersenyum lebar.
“Eh? Bolehkah?” tanya Eunhyi tidak percaya.
“Boleh, tentu saja. Kau kan Shawol nomor 1,” kata Taemin.
“Asiikkk. Mau! Mau!” kata Eunhyi yang langsung berhambur
kepelukan Taemin. “Eonni, aku ikut ke waiting room ya.. Eonni mau ikut gak?”
“Engga, kamu saja sana. Eonni tunggu di sini saja,” kata
Aeri datar. Seperti biasanya.
“Baiklah kalau begitu ayo!” kata Key.
“Annyeong Aeri-ssi!” kata Taemin dan Key bergantian
sementara Eunhyi melambaikan tangan dengan imutnya “Annyeong Eonni!”
“Annyeong,” jawab Aeri sambil membalas lambaian tangan
Eunhyi sekilas.
Sekarang Aeri duduk sendiri sambil menikmati penampilan
beberapa personel f(x) di panggung *karena talkshow jadi gak lengkap*. Di
tengah penampilan f(x), seseorang datang dan segera mengambil tempat di sebelah
Aeri. Menyadari kedatangan orang itu, Aeri menoleh. Dan ternyata ia mendapati
Minho duduk di sampingnya.
“Ah, kau lagi. Eunhyi tidak ada di sini. Dia dibawa personel
SHINee yang lain ke waiting room,” kata Aeri sambil kembali mengarahkan
pandangannya ke panggung.
“Aku sudah tahu kok. Lagipula aku ke sini bukan mencari
Eunhyi,” kata Minho.
“Lalu untuk apa kau di sini?”
“Menemanimu. Kau sendirian kan?” tanya Minho balik.
“Aku tidak minta ditemani. Memangnya kau pikir aku masih
seumuran Eunhyi apa,” protes Aeri.
“Ssstttt… hentikan marah-marahmu itu tonton saja yang sedang
di atas panggung,” kata Minho.
Aeri yang tadinya sudah berniat mengeluarkan semburan
ketusnya terpaksa menahan emosi dan kembali menatap ke panggung. Tapi
keberadaan Minho seperti mengganggunya. Beberapa kali dia menghela nafas.
“Kau merasa terganggu dengan keberadaanku di sini?” tanya
Minho.
Aeri terkejut. “Tidak juga sih, tapi rasanya aneh duduk di
sampingmu,” jawab Aeri akhirnya.
“Kalau begitu selama kelas XI kau merasa aneh?” tanya Minho.
Kali ini Aeri justru tertawa.
“TIdak juga sih. Waktu itu dan sekarang kan berbeda,” jawab
Aeri.
“Dimana letak perbedaannya? Bahkan kau masih sama dengan
Aeri yang kukenal 4 tahun yang lalu,” kata Minho.
“Bedanya…,” Aeri berhenti sejenak sebelum melanjutkan
kalimatnya, “Sekarang kita sudah bukan teman sekelas lagi, kau sudah jadi artis
papan atas Korea, kau punya banyak penggemar, sibuk, dan..,” tapi kalimatnya
terhenti ketika Minho tiba-tiba menarik tangannya.
“Jadi karena itu kamu selalu ketus padaku?” tanya Minho
sambil menatap tajam mata Aeri.
“Bukan, bukan, bukan karena itu,” jawab Aeri, agak terkejut
dengan tindakan Minho.
Minho melepaskan tangan Aeri diiringi dengan helaan nafas.
Aeri jadi tidak enak hati melihat ekspresi Minho barusan.
“Aku... tidak membencimu kok,” kata Aeri kemudian.
“Minho, maaf. Tapi..sudah saatnya rehearsal,” kata Jonghyun
yang tiba-tiba muncul dengan wajah kurang bersemangat.
“Tunggu sebentar, Hyung. Aku menyusul,” kata Minho.
Jonghyun mengangguk lalu melangkah pergi. Sementara Minho
masih tetap tidak bergerak di tempat duduknya.
“Hei, kau tidak berniat rehearsal ya?” tanya Aeri.
“Aku masih mau di sini,” kata Minho.
Aeri menghela nafas, “Huhh.. dasar aneh,” kata Aeri.
Tapi mendadak Minho menarik tangan Aeri. Ia menarik Aeri
hingga gadis itu berdiri dan mengikuti langkahnya ke luar studio.
“Minho-gun, kau mau ap..,” pertanyaan Aeri terputus karena
wajah Minho sudah sangat dekat dengan wajahnya.
“Tunggu aku setelah selesai acara ini. Aku akan mengantarmu
dan Eunhyi pulang,” kata Minho.
Aeri menelan ludah, agak ngeri juga melihat Minho yang
seperti ini. Tapi kemudian gadis itu mengangguk pelan.
“Eonni!!!” Eunhyi datang bersama Key.
“Wah wah,, maaf ya Minho tapi kita harus rehearsal
sekarang,” kata Key.
Minho melepaskan genggaman tangannya lalu mengangguk. Eunhyi
berlari mendekati kakaknya.
“Tunggu aku,” kata Minho sambil kemudian mengacak rambut
Eunhyi.
Aeri mengangguk.
“Eonni sama Oppa ada apa sih?” tanya Eunhyi polos.
Aeri menatap adiknya lalu mengusap kepala adiknya itu.
“Gwenchana,” kata Aeri. “Ayo kita tonton SHINee,” ajak Aeri sambil membimbing
adiknya masuk kembali ke dalam studio.
***
Aeri, Minho dan Eunhyi berjalan
pulang bersama -lagi-. Hanya Eunhyi yang bernyanyi riang sambil berlari
mendahului Aeri dan Minho.
“Eunhyi jangan ke tengah-tengah
jalannya,” kata Aeri memperingatkan.
“Iya, Eonni,” kata Eunhyi dengan
nada bosannya, seakan-akan sudah hafal dengan peringatan Aeri.
Aeri menghela nafas. Gadis itu
kemudian tersenyum sendiri melihat adiknya yang seperti tidak pernah ada
lelahnya berlari. Minho terpesona melihat senyum Aeri yang manis seperti
biasanya dan ikut tersenyum sendiri.
“Kau masih ingat waktu kau
menyelamatkan Eunhyi yang nyaris tertabrak?” tanya Aeri, membuka pembicaraan.
“Ah, ya aku ingat,” kata Minho,
“Waktu itu aku..emm..hanya kebetulan saja ada di sana,”
Aeri mengangguk. “Ya, ya aku tau
kok. Tapi itu momen yang sepertinya sangat berkesan untuk Eunhyi. Sejak saat
itu dia menganggapmu pahlawannya sampai akhirnya dia jadi sangat mengagumi
SHINee sekarang ini,”
“Jinjja? Wah, aku jadi
tersanjung,” kata Minho sambil tertawa tidak percaya.
Aeri ikut tertawa. “Ya dan itu
yang membuatku jadi harus selalu menemaninya menonton SHINee sekarang,”
katanya, tapi tidak dengan nada ketus yang biasanya.
“Yah justru baguslah karena itu
kau selalu ada setiap aku membutuhkan semangat,” kata Minho.
Aeri terkejut mendengar kata-kata
Minho barusan, wajahnya memerah.
Dan apa yang dilakukan Minho
selanjutnya makin membuat Aeri terkejut. Minho tiba-tiba menggapai tangan kanan
Aeri dan mengenggamnya. Dengan canggung Aeri melirik kea rah Minho tapi pria itu
sengaja tidak mengarahkan pandangannya ke Aeri.
“Aku selalu ingin begini
denganmu, tapi kau selalu ketus padaku,” kata Minho tanpa memandang Aeri.
“Aku…,” Aeri mengumpulkan
keberanian untuk melanjutkan kalimatnya, “Aku juga ingin berdamai denganmu,
tapi entah kenapa aku selalu ketus padamu.”
Minho tersenyum.
“Aahh, Eonni sama Oppa kok
gandengan sih? Eunhyi juga mau digandeng,” protes gadis cilik itu sambil segera
menyerobot tempat diantara Aeri dan Minho. Aeri dan Minho saling berpandangan
sambil kemudian tersenyum. Masing-masing tangan Eunhyi menggandeng sebelah
tangan Eonni dan Oppa kesayangannya.
“Huh, Eunhyi kalau Eonni yang
nggandeng aja maunya dilepas terus,” kata Aeri.
“Iihhh,, yah suka-suka Eunhyi
dong. Eunhyi kan maunya kalo digandengnya sama Eonni sama Oppa,” kata Eunhyi
dengan gaya centilnya.
Minho tertawa. Begitu juga dengan
Aeri. Dan kali ini perjalanan pulang mereka diiringi dengan banyak tawa.
***
Dulu Aeri pernah bermimpi tentang
Minho. Mimpi yang sangat aneh dan mengejutkan menurutnya. Aeri ingat waktu itu
ia sedang sakit dan terpaksa istirahat di UKS sekolah. Saat itu kepalanya
memang terasa sangat pusing dan berat.
Tidak lama setelah tertidur Aeri
bermimpi. Dalam mimpinya dia tidak sedang tidur di UKS, dia tidur di tempat
yang tidak dikenalnya lagipula tempat itu hanya terlihat samar-samar di
pandangan Aeri. Tapi kemudian Minho datang. Ia berjalan perlahan mendekati
Aeri. Aeri bisa melihatnya sekalipun ia tidak merasa membuka mata. Pria itu
kemudian berlutut tepat di samping tempat Aeri tidur.
Yang sangat mengejutkan adalah
kemudian Minho dalam mimpi Aeri mendekatkan wajahnya ke wajah Aeri. dekat dan
sangat dekat. Hingga akhirnya bibir mereka bersentuhan. Cukup lama dan hangat. Sungguh
waktu itu Aeri menikmatinya.
Tapi tak lama kemudian ia terbangun,
membuka matanya. Dan tidak mendapati siapapun ada disampingnya.
***
Sebetulnya Minho pernah melakukan
hal yang lebih dari sekedar menggandeng tangan Aeri. Dulu ketika ia dan Aeri
masih ada di kelas yang sama, pernah Aeri mendadak sakit dan terpaksa istirahat
di ruang UKS. Minho tentu saja merasa sangat khawatir dengan keadaan Aeri.
Karena itu ia memutuskan untuk melihat keadaan Aeri di UKS.
Sebenarnya niat awal Minho hanya
melihat saja dari jauh supaya Aeri tidak terganggu. Tapi sesampainya di UKS ia
melihat Aeri yang sedang tertidur pulas. Manis sekali. Sekalipun wajahnya
sedikit pucat karena sakit, tapi Minho tetap terpesona melihat Aeri yang sedang
tertidur.
Dan ini membuat Minho tergerak
untuk tidak sekedar melihat Aeri dari jauh. Entah bagaimana kemudian ia
berjalan mendekati Aeri yang sedang tertidur. Perlahan ia mengelus wajah gadis
itu dan mendekatkan wajahnya ke wajah Aeri hingga akhirnya bibir mereka saling
bersentuhan. Cukup lama dan hangat. Bahkan sebenarnya Minho ingin hal itu
berlangsung lebih lama lagi. Tapi kemudian ia tersadar.
Minho gugup sendiri mengetahui
apa yang sudah dilakukannya lalu dengan sedikit terburu-buru ia meninggalkan
Aeri. Berhari-hari setelahnya ia hanya bisa mengutuk apa yang dilakukannya,
sementara Aeri tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
***
“Yeoboseyo,” Minho menjawab
panggilan yang masuk ke handphone’nya.
“Yeoboseyo. Minho-gun?” tanya
seseorang diseberang sana.
“Ne, maaf anda siapa?” tanya
Minho balik.
“Aku Wheena, Song Wheena, kau
masih ingat? Kita pernah sekelas waktu kelas XI,” kata gadis di telepon yang
ternyata Wheena itu.
Minho ingat. “Aaahh, Wheena-ssi.
Apa kabar? Kudengar kau melanjutkan studi di Amerika,” kata Minho kemudian.
“Ya, benar sekali. Tapi saat ini
aku sedang ada di Korea,” kata Wheena.
“Ooohh,” Minho hanya ber’ooo’ria
mendengar penjelasan Wheena.
“Mmm.. sebenarnya aku meneleponmu
karena ingin menanyakan sesuatu,” kata Wheena.
“Ah, ya. Memangnya apa yang mau
kau tanyakan?” tanya Minho.
“Itu..kau tau kabar Aeri? aku
sulit sekali menghubunginya. Sejak ke Amerika dia tidak pernah menghubungiku.
Padahal kami kan dulu sangat akrab,” kata Wheena.
“Aaahh,, Aeri. Tahu kok. Aku
masih sering bertemu dengannya. Begini saja. Kau datanglah ke acara SHINee bsok
Aeri mungkin ada di sana,” kata Minho.
“Wah, aku menanyakan pada orang
yang tepat, baiklah aku akan datang, ngomong-ngomong…,” dan pembicaraan mereka
pun berlanjut menjadi obrolan panjang.
***
“Aeri-ya boleh kutanyakan
sesuatu?” Wheena berbalik menghadap Aeri yang duduk di belakangnya. Saat ini
sedang jam istirahat. Tidak banyak orang yang ada di kelas. Hanya Wheena Aeri
dan beberapa anak di sudut belakang kelas yang tersisa.
Aeri mengangguk lalu meletakan
novel di tangannya. “Ya. Apa yang mau kau tanyakan?” tanya Aeri sambil
tersenyum.
“Ituu.. cowok yang duduk di
seberangmu itu siapa namanya?” tanya Wheena dengan sedikit malu-malu.
“Ooohh, namanya Choi Minho. Barangkali
kau pernah melihatnya di TV,” jawab Aeri.
“Ah, iya! Pantas saja wajahnya
familiar,” kata Wheena.
“Ya dia anggota boysband SHINee
yang baru debut itu. hmm.. kenapa memangnya kau tiba-tiba menanyakan Minho-gun?”
tanya Aeri balik.
“Dia…ganteng dan baik yah
sepertinya, hmm.. kayaknya aku suka deh sama tipe-tipe kaya dia,” jawab Wheena
sambil tersenyum layaknya gadis kasmaran.
Tiba-tiba Minho masuk dan segera
berjalan menuju mejanya.
“Mmm,, Minho-gun. Kau belum
berkenalan dengan Wheena kan?” tanya Aeri tiba-tiba. Minho yang sedang minum
mengentikan kegiatannya.
“Ah, iya. Mmm, choneun Choi
Minho-yeyo, Mannaseo ban-gapsseumnida,” kata Minho sambil mengulurkan tangan
pada Wheena.
Gadis itu menyambut uluran tangan
Minho dengan senang hati. “Choneun Song Wheena-yeyo. Mannaseo ban-gapsseumnida,”
katanya dengan ramah.
Minho tersenyum lalu melepaskan
jabatan tangan mereka sementara Wheena sangat senang karena bisa berkenalan
dengan pria idamannya. Melihat pemandangan dihadapannya mendadak Aeri merasa
sebal. Gadis itu mengalihkan pandangannya dan kembali sibuk dengan novelnya
tanpa tahu ada seseorang sedang berharap bisa berbicara lebih banyak lagi
dengannya.
you’re my flower
because you’ve already blossomed in my heart”
To be continued..
eh, eh, kenapa puisinya udah selesai tapi masih bersambung?? hehe.. itu jelas karena kisah Aeri dan Minho masih belum selesai.. jadi tetap nantikan kelanjutannya ya. :D
Label: fanfiction
Posting Komentar