My Flower
Genre : Romantic
Cast :
SHINee’s Choi Minho
Yoon Aeri
Yoon Eunhyi, Yoon
Mihae
Song Wheena
SHINee’s Lee Jinki,
Lee Taemin, Kim Kibum, Kim Jonghyun
NOTE:
Pertama, aku mo
tanya. Minho itu aslinya sekolah di sekolah khusus cowo2 yak?? Hehe.. udah lah
ya.. gapapa maksa ganti sekolah dikit doang. Kan biar ceritanya seru,, ada
bumbu2 percintaan remaja SMA’nya gitu #apadeh. Hehe..
Terus seperti biasa I
DON’T OWN ANYONE IN SHINEE. Walaupun sebenernya berharap banget sih bisa
memiliki satu dari lima orang keren2 ituhh,, tapi ya sudahlah itu hanya mimpi.
Hehehe.. Yoon Aeri anggep aja aku #ngarep dan Eunhyi, Mihae, dan Wheena adalah
milik tiga orang yang sudah sangat sering berlalu lalang dalam tiap fanfict’ku.
Haha..
Fanfict ini hanya
fiksi belaka, terjadi banyak rekayasa dari pengarangnya, semua demi alur cerita
yang padu dan efek cerita yang #dramatis. Jadi nikmatin aja yah!
My Flower
...you’re my flower
because you’ve already blossomed in my heart”
Aeri dan Eunhyi seperti biasanya
datang lagi ke show SHINee yang berikutnya. Tapi kali ini ada yang berbeda.
Aeri datang dengan senang hati tanpa paksaan dari Eunhyi.
“Eonni tumben banget gak
marah-marah hari ini,” kata Eunhyi.
Aeri hanya tersenyum lalu
mengacak rambut adiknya itu. “Iya dong, masa marah-marah terus kan cape,”
katanya.
“Aneh,” komentar Eunhyi.
Mereka sudah hampir memasuki
studio ketika Eunhyi tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Eonni, ke WC dulu ya,” kata
Eunhyi sambil meringis.
Aeri menghela nafas. “Ya udah
ayo,” kata Aeri.
Mereka berdua pun memutar arah ke
toilet. Kebetulan toiletnya berada satu lorong setelah studio, di dekat deretan
waiting room.
“Eonni di luar saja,” kata
Eunhyi. Gadis kecil itu lalu setengah berlari masuk ke toilet wanita. Seperti
biasanya dia sok dewasa dan tidak mau ditemani. *padahal ini juga sudah
ditemani namanya*
Sambil menunggu Aeri melihat ke
sekeliling. Di lorong seberangnya terdapat jajaran waiting room, tiap group
punya satu waiting roomnya sendiri. Aeri mencoba melongok siapa tahu Minho
muncul dari balik waiting roomnya. Eits,
tunggu dulu! Sejak kapan aku jadi mencari Minho begini??
Tepat ketika Aeri sedang mencuri
pandang ke arah waiting room, seorang gadis berbelok ke lorong waiting room.
sepertinya aku kenal..tapi siapa ya? Aeri mencoba mengingat-ingat. Tapi
tiba-tiba Minho terlihat keluar dari waiting roomnya.
Awalnya Aeri tersenyum menyadari
kemunculan Minho. Tapi kemudian Minho berbincang dengan gadis yang tadi baru
saja datang. Aeri kembali mencoba mengingat, tapi kemudian ingatannya justru
kembali jauh ke peristiwa masa lalu. Aeri tertegun.
***
Aeri hendak mengembalikan buku ke perpustakaan yang letaknya di lantai
paling atas gedung sekolahnya. Sepanjang jalan menuju perpustakaan ia mengeluh
sendiri karena letak perpustakaan sekolahnya yang menurutnya tidak strategis.
“Minho-gun, saranghae,”
Langkah Aeri terhenti ketika ia mendengar suara dari ujung lorong yang
baru saja ia lewati begitu saja. Minho? Saranghae? Siapa yang menyatakan
cintanya pada Minho? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala Aeri.
padahal biasanya dia tidak sepeduli ini dengan nama Minho.
Tapi rasa penasarannya membuat Aeri berbalik arah. Ia mengintip sedikit
dan mendapati dua orang berdiri di ujung lorong. Si pria jelas Choi Minho,
teman sekelasnya. Sementara gadis dihadapannya….hmm.. sepertinya Aeri
mengenalnya. Ah! Bukankah itu Song Wheena?
“Wheena-ssi.. aku..,” Minho baru saja akan mengatakan sesuatu tapi
Wheena sudah kembali melanjutkan kalimatnya.
“Aku akan pindah ke Amerika dalam waktu dekat ini. Karena itu, karena
itu..aku ingin menyatakan perasaanku sebelum aku tidak bisa lagi bertemu
denganmu,” kata Wheena. Kali ini gadis itu mulai terisak.
Minho terkejut. Melihat gadis di hadapannya menangis, Minho memeluk dan
menepuk-nepuk pundak Wheena perlahan.
“Ya, ya.. aku sudah menerima pernyataan cintamu kok, terima kasih
Wheena-ssi. Jangan menangis,” kata Minho.
Apa yang didengar Aeri barusan? Minho menerima pernyataan cinta Wheena?
Mendadak rasa nyeri menjalar di dada Aeri. Mendadak ia tidak ingin lagi
berada di situ dan terus mendengarkan percakapan kedua orang itu. Ia segera
berlari menuruni tangga, bahkan ia melupakan niat utamanya untuk pergi perpustakaan.
Aeri pergi tanpa mendengarkan lanjutan kalimat yang seharusnya ia dengar.
...
“Tapi maaf, aku…sudah punya seseorang yang kucintai,” kata Minho
kemudian.
“Benarkah? Siapa? Aeri-ssi?” tanya Wheena.
Mendadak wajah Minho memerah.
“Ba..bagaimana kau tahu?” tanya Minho.
Wheena seketika itu berhenti menangis dan tertawa. “Itu sangat jelas
terlihat di wajahmu setiap kali kau berhadapan dengan Aeri.
“Benarkah?” kata Minho.
Wheena mengangguk. “Tentu saja,” jawabnya sambil menepuk pundak Minho, “Karena
itu cepat nyatakan perasaanmu padanya. Rasanya sangat lega lho, aku bahkan
barusan menangis karena merasa lega,”
Minho tertawa. “Benarkah?”
Wheena mengangguk sekali lagi.
***
Begitu Eunhyi keluar Aeri segera
menarik adiknya itu keluar dari lorong. DIa tidak mau lagi mendengar apapun.
Apalagi kalau harus mendengar kenyataan kalau Minho dan Wheena sejak waktu itu
sampai sekarang masih terus berhubungan.
“Eonni ada apa sih?! Kenapa
buru-buru?!” tanya Eunhyi tidak mengerti, gadis kecil itu berusaha memperlambat
langkah kakaknya. Kebetulan tanpa sengaja Taemin yang juga kebetulan ada di
samping Minho mendengar suara Eunhyi.
“Ah, Eunhyi-ah, Aeri-ssi!” Taemin
melambaikan tangan kepada dua kakak beradik itu.
Mendengar nama Aeri disebut Minho
pun menoleh ke arah pandangan Taemin. Tapi Aeri tidak menoleh sedikitpun. Ia
segera menggendong paksa Eunhyi dan berlari pergi. Minho sangat terkejut dengan
tindakan Aeri barusan.
“Kejar, Hyung!” kata Taemin
melihat Minho justru diam saja karena terkejut.
“Ya,ya.. Sebentar Wheena-ssi,”
kata Minho sambil berlari secepat yang ia bisa.
Wheena mengangguk. Ikut terburu-buru
karena melihat wajah panik Minho. Ia dan Taemin terus melihat dengan cemas
sampai Minho berbelok di ujung lorong.
***
TING TONG! Bel rumah keluarga
Yoon berbunyi. Mihae yang sedang memasak terpaksa menghentikan sebentar
kegiatannya. Saat ini yang ada di rumah hanya dia, kedua adik perempuannya
sedang pergi menonton SHINee sementara Appa dan Eomma’nya sedang mengurus
bisnis di Jepang.
“Sebentar,” kata Mihae sambil
melepas celemeknya dan setengah berlari menuju pintu.
Mihae membuka pintu dan sangat
terkejut mendapati adik kecilnya, Eunhyi berdiri di sana sendirian.
“Eunhyi-ah,, kenapa kau
sendirian? Mana kakakmu?” tanya Mihae.
Eunhyi menggeleng, tanda gadis
cilik itu tidak tahu.
Mihae berjongkok dan mengusap
kepala Eunhyi perlahan. “Lalu kau pulang dengan siapa?” tanya Mihae.
“Aeri-eonni. Tapi Eonni langsung
pergi lagi dengan wajah kusut. Mihae-eonni, Aeri-eonni kenapa??” tanya Eunhyi
kecil cemas.
“Kan kamu yang sama Aeri-eonni
dari tadi,” jawab Mihae, “Ah, kalau begitu sini masuk dulu dan kau harus menceritakan
apa yang terjadi di studio tadi.”
Eunhyi mengangguk lalu dengan
patuh mengikuti langkah Mihae.
***
Minho tidak berhasil mengejar
Aeri. Entah bagaimana gadis itu berlari cepat sekali. Minho sudah mencoba
menghubungi handphone dan rumah Aeri berkali-kali tapi tidak ada yang menjawab.
Minho sangat cemas sekarang. Dia bahkan barusan melakukan beberapa kali
kesalahan dalam dance sehingga shooting juga harus diulang beberapa kali.
Untung ini bukan livestage.
“Aeri-ssi belum menjawab?” tanya
Jonghyun.
Minho menggeleng tanpa mengatakan
sepatah katapun.
Taemin hanya geleng-geleng kepala
melihat tingkah hyungnya. “Noona yang tadi sampai ikut panik lho, Hyung,”
“Ah, iya, Wheena dimana
sekarang?” tanya Minho yang mendadak teringat Wheena.
“Dia menonton di bangku penonton.
Tenang, aku yang mengantarkannya,” kata Taemin.
Minho hanya mengangguk pelan.
Pikirannya masih terfokus pada Aeri dan dimana gadis itu sekarang. Tapi
tiba-tiba suara handphone’nya memecah kecemasan Minho. Ia sangat berharap itu
Aeri dan segera mengambil handphone’nya. Tapi ternyata yang tertera di layar
adalah nama Donghae. Minho mengangkat telepon dengan lesu.
“Yeoboseyo, Hyung,” jawab Minho.
“Ah, Minho-ssi? Choneun Yoon
Mihae imnida, bukan Donghae. Aku meminjam ponselnya. Aku Aeri-ui Eonni,” kata
seorang gadis di seberang sana.
Minho terkejut. “Ah, Noona! Iya
ini Minho. Apa Aeri bersama Noona?” tanyanya segera.
“Tidak, justru itu aku ingin
menanyakan siapa tahu Aeri bersamamu. Tadi dia mengantarkan Eunhyi ke rumah.
Tapi langsung pergi lagi, kata Eunhyi tadi Aeri tidak seperti biasanya. Makanya
aku khawatir. Dia tidak meneleponku atau menelepon rumah sama sekali,” jawab
Mihae dengan nada sangat cemas.
“Lalu dimana dia yah? Hhhh..
Bikin cemas saja,” kata Minho dengan wajah yang semakin menampakkan kecemasan.
“Aku sedang mencarinya bersama
Donghae-oppa. Tapi belum ketemu,” kata Mihae.
“Kalau begitu aku juga akan
mencari. Tolong beritahu kalau ada kabar dari Aeri,” kata Minho segera.
“Arasseo, kami juga terus
mencari. Mohon bantuannya,” kata Mihae.
Sambungan telepon terputus tidak
lama setelah itu. Minho bergegas memasukkan handphone’nya ke saku dan mengambil
jaketnya yang tergeletak begitu saja di sofa.
“Kau mau kemana?” tanya Onew.
“Ah, hyung. Aku tidak pulang
bersama kalian. Aku harus pergi mencari Aeri,” jawab Minho dengan terburu-buru.
Onew mengangguk cepat, “Ah,
arasseo,” katanya.
Minho menepuk pundak Onew ketika
melewatinya lalu segera berlari keluar dari waiting room.
Aeri-ya,, kau ada dimana? Jangan
menyiksaku dengan cara seperti ini…
***
Ssibal! Aeri mengumpat dalam
hatinya. Pergi sendirian dengan pikiran kusut hingga malam tanpa membawa uang
yang cukup adalah kebodohan terbesar Aeri hari ini.
Saat ini ia duduk di halte sambil
menggosok-gosokkan tangannya. Sejak setengah jam yang lalu, hujan turun begitu
deras. Aeri tidak membawa payung dan tidak membawa cukup uang. Uang yang dia
bawa bahkan tidak cukup untuk membeli roti, padahal saat ini dia sangat lapar.
Beberapa bus lewat begitu saja karena Aeri tidak mampu membayar ongkos,
sementara taksi bahkan tidak satupun lewat sejak tadi. Hari ini benar-benar
hari sial Aeri.
Mihae dan Eunhyi pasti panik
mencarinya.
Aeri menghela nafas. Ini semua
karena kejadian yang dilihatnya tadi sore. Kenapa aku harus sebegitu terbawa
emosinya waktu melihat Minho dan Wheena? Memangnya kenapa kalau kenyataannya
mereka masih berhubungan sampai sekarang? Memangnya aku punya hak apa untuk
marah? Dan kenapa akuharus emosi? Aeri bahkan tidak mengerti dirinya yang tadi.
Perut Aeri berbunyi untuk
kesekian kalinya. Aeri meruntuk dalam hati. Kapan sih hujan ini berhenti? Apa
aku harus menginap di halte ini sampai besok pagi? Padahal tempat ini jauh dari
rumahku..
Aeri sudah nyaris menangis
memikirkan kemungkinan dia harus menginap di halte ini sendirian. Yah kalo
benar-benar sendirian. Kalau tiba-tiba ada orang aneh yang tiba-tiba datang
Aeri harus bagaimana?
Aeri berdiri lalu mengeluarkan
handphone’nya dari saku celana. Handphone Aeri sudah mati karena kehabisan
baterai sejak tadi. Tuhan, tidak bisakah kau memberiku satu keajaiban saja?
Tiba-tiba seseorang memeluk Aeri
dari belakang. Aeri terkejut dan segera berusaha melepaskan pelukan tiba-tiba
itu. Tapi orang yang memeluknya malah mempererat pelukannya.
“Aeri-ya,” kata orang itu
disela-sela nafas tidak teraturnya.
Aeri mengenal betul suara ini.
“Minho-gun?! Ba..bagaimana kau bisa menemukanku di sini?” tanya Aeri terkejut.
“Kalau kau benci padaku jangan
mencoba membunuhku dengan cara seperti ini,” Minho malah tidak menjawab
pertanyaan Aeri.
“Sudah kubilang aku tidak
membencimu,” kata Aeri.
“Kalau begitu jangan membuatku
cemas,” kata Minho.
Aeri berhasil lepas dari pelukan
Minho. “Kau cemas?” tanyanya dengan nada meninggi, “Untuk apa? Lebih baik kau
menikmati waktumu bersama Wheena-ssi yang baru pulang dari Amerika. Untuk apa
kau menghabiskan waktumu untuk mencemaskanku?”
“Aeri-ya! Kenapa sih kau tidak
mengerti juga?!” kata Minho dengan nada suara yang juga meninggi.
“Apa lagi yang harus aku mengerti
darimu?! Kemarin kau bilang kau ingin berdamai denganku. Kau bicara sangat
manis padaku. Tapi untuk apa?! Untuk apa kalau ternyata kau masih pacaran
dengan Wheena-ssi?!” tanya Aeri dengan emosi dan kata-kata yang sudah tidak
terkontrol.
Tanpa berkata apa-apa Minho
segera menarik kembali Aeri ke dalam pelukannya. Aeri sudah tidak bertenaga
untuk mencoba melepaskan diri. Dia hanya diam dalam pelukan Minho.
Setelah merasakan nafas gadis di
pelukannya mulai teratur, Minho mulai merenggankan pelukannya.
“Kau ini pintar tapi bodoh sekali
sih,” kata Minho sambil tertawa kecil.
Aeri yang tadinya sudah mencoba
meredam emosinya kembali meninggikan suara. “HIIIHHH… Kau malah mengejekku di
saat seperti ini! Sudah lepaskan aku mau pulang!”
Tapi Minho tidak membiarkan Aeri
beranjak sedikitpun dari pelukannya.
“Mau pulang bagaimana? Kau saja
tidak bawa payung,” kata Minho, “Pabo!”
“Minho-gun!”
“Iya, iya. Kalau kau masih emosi
justru aku tidak akan melepaskanmu,” kata Minho.
Aeri menghela nafas. Mereka
saling terdiam beberapa saat sampai akhirnya Minho kembali mengeluarkan suara.
“Kuberitahu letak kebodohanmu,
nona cerdas. Kebodohan terbesarmu adalah karena selama bertahun-tahun kau tidak
juga tahu kalau aku menyukaimu..,
“Hah?” Aeri terkejut dan reflek
memutus kalimat Minho.
Sssttt,, dengarkan dulu! jangan
potong kalimatku, nanti kau salah paham lagi. Aku tidak pacaran bahkan tidak
pernah pacaran dengan Song Wheena. Jadi kau tidak perlu cemburu,” Minho melanjutkan
kalimatnya.
Aeri mendongakan kepala dan
menatap Minho. “Siapa bilang aku cem,”
Tapi bantahannya terhenti di situ
karena Minho tiba-tiba mencium bibirnya dan tidak membiarkan Aeri mengelak lagi.
***
“You’re my flower not because
you’re more beautiful than other flowers;
you’re my flower not because
you’re more fragrant than other flowers;
you’re my flower
because you’ve already blossomed in my heart”
“Nah kan, pabo. Makanya jangan
suka menyimpulkan sendiri sebelum bertanya,” kata Minho setelah mendengarkan
penjelasan Aeri.
“Iya iya, itu salahku. Puas? Dasar
Mr. Egois,” kata Aeri sebal.
Minho tertawa.
Tiba-tiba handphone Minho
berbunyi. Ia segera mengambilnya dari saku jeansnya. Rupanya nomor Donghae-oppa
lagi.
“Ini pasti eonni’mu,” kata Minho
sambil memberikan handphonenya kepada Aeri.
Aeri menerima handphone dari
Minho dan segera menekan tombol Accept Call di sana.
“Yeoboseyo,”
Baru saja Aeri mengeluarkan satu
kata Mihae sudah menceramahinya panjang lebar dari seberang sana.
“Aeri-ya! Kau kemana saja sih?! Pergi
dari rumah tanpa pamit, handphone dihubungi tidak bisa. Kau pikir Eonni tidak
cemas. Cepat pulang!” kata Mihae dengan nada tinggi.
Aeri menjauhkan sedikit handphone
Minho dari telinganya lalu menjawab pelan, “Ne, ini lagi perjalanan pulang
Eonni. Mianhae,”
“Ya sudah cepat pulang! Aku akan
melanjutkannya di rumah,” kata Mihae lalu segera menutup teleponnya.
Aeri berdecak pelan. Gini nih
kalau Mihae sudah ngomel. Pasti makan malam kali ini akan dipenuhi dengan omelan
panjang Mihae. Membayangkannya saja Aeri malas pulang. Dengan lesu gadis itu menyerahkan
handphone di tangannya kepada sang empunya.
“Dimarahi?” tanya Minho.
“Tentu saja. aaahhhh,, habis
sudah aku malam ini,” kata Aeri.
Tiba-tiba handphone Minho
berbunyi lagi dengan nama Donghae kembali tertera di layarnya.
“Kau saja kau saja,” kata Aeri
segera.
Minho setengah tertawa lalu
segera meletakkan handphone di telinganya.
“Yeoboseyo, ah, hyung!” kata
Minho. Rupanya itu benar-benar Donghae-oppa. Aeri menghela nafas.
“Ah, ne. Ne. Jinjjaro? Ah,
arasseo arasseo. Aeri? dia ada disampingku kok, tenang saja. Lima menit lagi
kami sampai. Nee.. hahahaha.. Kenapa hyung langsung menanyakan itu? Ne, nanti
kuceritakan kalau kita sudah bertemu. Ne, ne. Annyeong,” Minho menutup
teleponnya.
“Apa katanya?” tanya Aeri
penasaran.
“Oh, katanya kakakmu mengajakku
makan malam sekalian di rumahmu. Di sana juga sedang ada Hyukjae-hyung,” jawab
Minho.
Aeri menghela nafas lega. “Kalau
di rumah ramai mungkin intensitas omelan Eonni bisa berkurang,” katanya.
Minho tertawa lalu merangkul Aeri
dan mengacak rambutnya.
“Kau ini. Makannya kalau apa-apa
dipikir dulu. Bawa uang kek minimal,” kata Minho.
“Iya, iya. Tadi itu entah kenapa
aku langsung ingin pergi saja,” kata Aeri memberikan alasan.
Minho tertawa, “Itu pasti karena
sebenarnya kau sangat mencintaiku,” katanya.
“Hiiihhhh, PD!” Aeri menyikut
pinggang Minho pelan. Tapi bukannya menjauh Minho malah mempererat
rangkulannya.
“Jangan kabur-kabur lagi ya
changiya,” kata Minho.
“Hmmm..,” kata Aeri. “Eh, tunggu!
Kau panggil apa aku barusan?!”
Minho tertawa puas sementara Aeri
sok cemberut.
Mereka meneruskan langkah mereka
sampai tidak terasa mereka sudah sampai di gerbang rumah keluarga Yoon.
***
Additional Part ;)
Wheena segera kembali waiting
room sesaat setelah acara berakhir. Pikirannya masih tertuju pada kejadian tadi
dan dia sama sekali tidak bisa menikmati show barusan.
Tapi tepat di lorong ia nyaris
bertabrakan dengan seseorang. Dan orang itu adalah Taemin.
“Ah, Noona! Gwenchanayo?”
Setelah berhasil menetralisir
keterkejutannya Wheena mengangguk pelan.
“Bagaimana dengan Aeri? Minho?”
tanya Wheena cemas.
“Barusan hyung menelepon dan
mengatakan kalau dia sudah menemukan Aeri-ssi,” jawab taemin sambil tersenyum.
Wheena mengehela nafas lega. “Ahh,,
baguslah kalau begitu. Aku sangat tidak enak pada mereka,” kata Wheena.
“Sudahlah, Noona. Noona tidak
salah kok. Gwenchana,” kata Taemin sambil tetap tersenyum.
“Arasseo. Gomawo, Taemin-ssi. Kalau
begitu aku bisa pulang dengan tenang,” kata Wheena.
“Ah, noona sudah mau pulang?”
tanya Taemin dengan raut wajah kecewa.
“Ne. Ini sudah malam,” kata
Wheena.
Tiba-tiba Taemin tersenyum penuh
arti dan menarik tangan Wheena, “Kalau begitu biar aku mengantarkan Noona
sampai ke rumah. Ayo, noona!” katanya.
Wheena terkejut dengan tindakan
tiba-tiba pria yang notabene 2 tahun lebih muda darinya itu. Tapi ia tetap
mengikuti langkah Taemin tanpa membantah.
“Ah, aku lupa mengatakan sesuatu
padamu,” kata Taemin.
“Apa?” tanya Wheena.
“Noona.. neomu yeppeo,” katanya
sambil tersenyum dan menatap Whenna di sampingnya.
Wheena makin terkejut. Yah, jadi
anak ini bahkan lebih berani dari hyungnya. Boleh juga. Kenapa tidak dicoba ;) toh
cumaaaaa 2 tahun.
Satu kisah cinta berakhir indah
dan satu lagi dimulai. Hmm..betapa manisnya hidup ini..
***
Eunhyi terbangun dari tidurnya. Dia
mendengar suara ramai dari lantai bawah. Gadis cilik itu mengucek-ngucek
matanya sambil berusaha mengingat kejadian sebelum dia tidur. Ia baru saja
berjalan keluar kamar dan mulai menuruni anak tangga ketika mendadak langkahnya
tidak stabil karena ngantuk. Untung saja tiba-tiba seseorang menarik Eunhyi dan
ia tidak jadi jatuh.
“Eits, hati-hati,” kata oppa yang
menolongnya. Eunhyi mengejap-ngejapkan mata dan langsung kagum melihat
ketampanan oppa yang menolongnya.
“Ah, kamshahamnida, Oppa!” kata
Eunhyi ceria.
“Cheonmaneyo. Kau pasti Eunhyi,
adik Mihae dan Aeri kan?”
Eunhyi mengangguk. “Mmm, lalu
oppa siapa?”
“Ah, kenalkan aku Hyukjae-oppa,
teman kakakmu,” jawabnya sambil menyodorkan tangan kanannya.
Eunhyi menarik tangan Hyukjae, “Karena
oppa sudah menolongku, oppa mau menikah denganku?” tanyanya polos.
Hyukjae terkejut sekaligus
tertawa mendengar perkataan polos gadis 7 tahun di hadapannya.
“Hmm.. apakah ini sejenis
lamaran?”
Eunhyi mengangguk cepat.
Hyukjae mengangguk-angguk pelan. “Baiklah.
Oppa mau. Tapi kalau kamu sudah setinggi ini,” Hyukjae menunjukkan tangan
kanannya sebagai ukuran, sementara tangan kirinya menggendong Eunhyi dan
membawa gadis itu menuruni tangga.
***
“Kau tau ada seorang gadis yang
pernah melamarku?” tanya Minho.
“Ne? siapa?” tanya Aeri kaget.
“Adikmu, Eunhyi,” jawab Minho
diiringi tawa khasnya.
Aeri ikut tertawa. “Dasar anak
itu ada-ada saja. Lalu kau jawab apa?” tanya Aeri.
“Aku jawab. ‘Maaf tapi oppa
menyukai Eonni’mu’,” jawab Minho.
Aeri tertawa makin keras. “Dasar.
Tidak berperasaan sekali sih kau. Jawab saja iya,” kata Aeri di sela-sela
tawanya.
Minho menggeleng. “Tidak mau. Aku
kan mau menikah denganmu,” jawabnya.
Aeri tertawa di pelukan Minho.
***
Label: fanfiction
Posting Komentar