♥post it♥----♥fanfiction♥----♥listen!♥----♥FOLLOW♥



▸ My Flower #part3 (END) ... ♬
Selasa, 29 November 2011
♥ posted at: @19.30
0 wishes // make a wish?



My Flower
Genre : Romantic
Cast :
SHINee’s Choi Minho
Yoon Aeri
Yoon Eunhyi, Yoon Mihae
Song Wheena
SHINee’s Lee Jinki, Lee Taemin, Kim Kibum, Kim Jonghyun
NOTE:
Pertama, aku mo tanya. Minho itu aslinya sekolah di sekolah khusus cowo2 yak?? Hehe.. udah lah ya.. gapapa maksa ganti sekolah dikit doang. Kan biar ceritanya seru,, ada bumbu2 percintaan remaja SMA’nya gitu #apadeh. Hehe..
Terus seperti biasa I DON’T OWN ANYONE IN SHINEE. Walaupun sebenernya berharap banget sih bisa memiliki satu dari lima orang keren2 ituhh,, tapi ya sudahlah itu hanya mimpi. Hehehe.. Yoon Aeri anggep aja aku #ngarep dan Eunhyi, Mihae, dan Wheena adalah milik tiga orang yang sudah sangat sering berlalu lalang dalam tiap fanfict’ku. Haha..
Fanfict ini hanya fiksi belaka, terjadi banyak rekayasa dari pengarangnya, semua demi alur cerita yang padu dan efek cerita yang #dramatis. Jadi nikmatin aja yah!

My Flower

...you’re my flower because you’ve already blossomed in my heart”

Aeri dan Eunhyi seperti biasanya datang lagi ke show SHINee yang berikutnya. Tapi kali ini ada yang berbeda. Aeri datang dengan senang hati tanpa paksaan dari Eunhyi.
“Eonni tumben banget gak marah-marah hari ini,” kata Eunhyi.
Aeri hanya tersenyum lalu mengacak rambut adiknya itu. “Iya dong, masa marah-marah terus kan cape,” katanya.
“Aneh,” komentar Eunhyi.
Mereka sudah hampir memasuki studio ketika Eunhyi tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Eonni, ke WC dulu ya,” kata Eunhyi sambil meringis.
Aeri menghela nafas. “Ya udah ayo,” kata Aeri.
Mereka berdua pun memutar arah ke toilet. Kebetulan toiletnya berada satu lorong setelah studio, di dekat deretan waiting room.
“Eonni di luar saja,” kata Eunhyi. Gadis kecil itu lalu setengah berlari masuk ke toilet wanita. Seperti biasanya dia sok dewasa dan tidak mau ditemani. *padahal ini juga sudah ditemani namanya*
Sambil menunggu Aeri melihat ke sekeliling. Di lorong seberangnya terdapat jajaran waiting room, tiap group punya satu waiting roomnya sendiri. Aeri mencoba melongok siapa tahu Minho muncul dari balik waiting roomnya. Eits, tunggu dulu! Sejak kapan aku jadi mencari Minho begini??
Tepat ketika Aeri sedang mencuri pandang ke arah waiting room, seorang gadis berbelok ke lorong waiting room. sepertinya aku kenal..tapi siapa ya? Aeri mencoba mengingat-ingat. Tapi tiba-tiba Minho terlihat keluar dari waiting roomnya.
Awalnya Aeri tersenyum menyadari kemunculan Minho. Tapi kemudian Minho berbincang dengan gadis yang tadi baru saja datang. Aeri kembali mencoba mengingat, tapi kemudian ingatannya justru kembali jauh ke peristiwa masa lalu. Aeri tertegun.

***

Aeri hendak mengembalikan buku ke perpustakaan yang letaknya di lantai paling atas gedung sekolahnya. Sepanjang jalan menuju perpustakaan ia mengeluh sendiri karena letak perpustakaan sekolahnya yang menurutnya tidak strategis.
“Minho-gun, saranghae,”
Langkah Aeri terhenti ketika ia mendengar suara dari ujung lorong yang baru saja ia lewati begitu saja. Minho? Saranghae? Siapa yang menyatakan cintanya pada Minho? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala Aeri. padahal biasanya dia tidak sepeduli ini dengan nama Minho.
Tapi rasa penasarannya membuat Aeri berbalik arah. Ia mengintip sedikit dan mendapati dua orang berdiri di ujung lorong. Si pria jelas Choi Minho, teman sekelasnya. Sementara gadis dihadapannya….hmm.. sepertinya Aeri mengenalnya. Ah! Bukankah itu Song Wheena?
“Wheena-ssi.. aku..,” Minho baru saja akan mengatakan sesuatu tapi Wheena sudah kembali melanjutkan kalimatnya.
“Aku akan pindah ke Amerika dalam waktu dekat ini. Karena itu, karena itu..aku ingin menyatakan perasaanku sebelum aku tidak bisa lagi bertemu denganmu,” kata Wheena. Kali ini gadis itu mulai terisak.
Minho terkejut. Melihat gadis di hadapannya menangis, Minho memeluk dan menepuk-nepuk pundak Wheena perlahan.
“Ya, ya.. aku sudah menerima pernyataan cintamu kok, terima kasih Wheena-ssi. Jangan menangis,” kata Minho.
Apa yang didengar Aeri barusan? Minho menerima pernyataan cinta Wheena?
Mendadak rasa nyeri menjalar di dada Aeri. Mendadak ia tidak ingin lagi berada di situ dan terus mendengarkan percakapan kedua orang itu. Ia segera berlari menuruni tangga, bahkan ia melupakan niat utamanya untuk pergi perpustakaan. Aeri pergi tanpa mendengarkan lanjutan kalimat yang seharusnya ia dengar.



...



“Tapi maaf, aku…sudah punya seseorang yang kucintai,” kata Minho kemudian.
“Benarkah? Siapa? Aeri-ssi?” tanya Wheena.
Mendadak wajah Minho memerah.
“Ba..bagaimana kau tahu?” tanya Minho.
Wheena seketika itu berhenti menangis dan tertawa. “Itu sangat jelas terlihat di wajahmu setiap kali kau berhadapan dengan Aeri.
“Benarkah?” kata Minho.
Wheena mengangguk. “Tentu saja,” jawabnya sambil menepuk pundak Minho, “Karena itu cepat nyatakan perasaanmu padanya. Rasanya sangat lega lho, aku bahkan barusan menangis karena merasa lega,”
Minho tertawa. “Benarkah?”
Wheena mengangguk sekali lagi.
***
Begitu Eunhyi keluar Aeri segera menarik adiknya itu keluar dari lorong. DIa tidak mau lagi mendengar apapun. Apalagi kalau harus mendengar kenyataan kalau Minho dan Wheena sejak waktu itu sampai sekarang masih terus berhubungan.
“Eonni ada apa sih?! Kenapa buru-buru?!” tanya Eunhyi tidak mengerti, gadis kecil itu berusaha memperlambat langkah kakaknya. Kebetulan tanpa sengaja Taemin yang juga kebetulan ada di samping Minho mendengar suara Eunhyi.
“Ah, Eunhyi-ah, Aeri-ssi!” Taemin melambaikan tangan kepada dua kakak beradik itu.
Mendengar nama Aeri disebut Minho pun menoleh ke arah pandangan Taemin. Tapi Aeri tidak menoleh sedikitpun. Ia segera menggendong paksa Eunhyi dan berlari pergi. Minho sangat terkejut dengan tindakan Aeri barusan.
“Kejar, Hyung!” kata Taemin melihat Minho justru diam saja karena terkejut.
“Ya,ya.. Sebentar Wheena-ssi,” kata Minho sambil berlari secepat yang ia bisa.
Wheena mengangguk. Ikut terburu-buru karena melihat wajah panik Minho. Ia dan Taemin terus melihat dengan cemas sampai Minho berbelok di ujung lorong.

***

TING TONG! Bel rumah keluarga Yoon berbunyi. Mihae yang sedang memasak terpaksa menghentikan sebentar kegiatannya. Saat ini yang ada di rumah hanya dia, kedua adik perempuannya sedang pergi menonton SHINee sementara Appa dan Eomma’nya sedang mengurus bisnis di Jepang.
“Sebentar,” kata Mihae sambil melepas celemeknya dan setengah berlari menuju pintu.
Mihae membuka pintu dan sangat terkejut mendapati adik kecilnya, Eunhyi berdiri di sana sendirian.
“Eunhyi-ah,, kenapa kau sendirian? Mana kakakmu?” tanya Mihae.
Eunhyi menggeleng, tanda gadis cilik itu tidak tahu.
Mihae berjongkok dan mengusap kepala Eunhyi perlahan. “Lalu kau pulang dengan siapa?” tanya Mihae.
“Aeri-eonni. Tapi Eonni langsung pergi lagi dengan wajah kusut. Mihae-eonni, Aeri-eonni kenapa??” tanya Eunhyi kecil cemas.
“Kan kamu yang sama Aeri-eonni dari tadi,” jawab Mihae, “Ah, kalau begitu sini masuk dulu dan kau harus menceritakan apa yang terjadi di studio tadi.”
Eunhyi mengangguk lalu dengan patuh mengikuti langkah Mihae.

***

Minho tidak berhasil mengejar Aeri. Entah bagaimana gadis itu berlari cepat sekali. Minho sudah mencoba menghubungi handphone dan rumah Aeri berkali-kali tapi tidak ada yang menjawab. Minho sangat cemas sekarang. Dia bahkan barusan melakukan beberapa kali kesalahan dalam dance sehingga shooting juga harus diulang beberapa kali. Untung ini bukan livestage.
“Aeri-ssi belum menjawab?” tanya Jonghyun.
Minho menggeleng tanpa mengatakan sepatah katapun.
Taemin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah hyungnya. “Noona yang tadi sampai ikut panik lho, Hyung,”
“Ah, iya, Wheena dimana sekarang?” tanya Minho yang mendadak teringat Wheena.
“Dia menonton di bangku penonton. Tenang, aku yang mengantarkannya,” kata Taemin.
Minho hanya mengangguk pelan. Pikirannya masih terfokus pada Aeri dan dimana gadis itu sekarang. Tapi tiba-tiba suara handphone’nya memecah kecemasan Minho. Ia sangat berharap itu Aeri dan segera mengambil handphone’nya. Tapi ternyata yang tertera di layar adalah nama Donghae. Minho mengangkat telepon dengan lesu.
“Yeoboseyo, Hyung,” jawab Minho.
“Ah, Minho-ssi? Choneun Yoon Mihae imnida, bukan Donghae. Aku meminjam ponselnya. Aku Aeri-ui Eonni,” kata seorang gadis di seberang sana.
Minho terkejut. “Ah, Noona! Iya ini Minho. Apa Aeri bersama Noona?” tanyanya segera.
“Tidak, justru itu aku ingin menanyakan siapa tahu Aeri bersamamu. Tadi dia mengantarkan Eunhyi ke rumah. Tapi langsung pergi lagi, kata Eunhyi tadi Aeri tidak seperti biasanya. Makanya aku khawatir. Dia tidak meneleponku atau menelepon rumah sama sekali,” jawab Mihae dengan nada sangat cemas.
“Lalu dimana dia yah? Hhhh.. Bikin cemas saja,” kata Minho dengan wajah yang semakin menampakkan kecemasan.
“Aku sedang mencarinya bersama Donghae-oppa. Tapi belum ketemu,” kata Mihae.
“Kalau begitu aku juga akan mencari. Tolong beritahu kalau ada kabar dari Aeri,” kata Minho segera.
“Arasseo, kami juga terus mencari. Mohon bantuannya,” kata Mihae.
Sambungan telepon terputus tidak lama setelah itu. Minho bergegas memasukkan handphone’nya ke saku dan mengambil jaketnya yang tergeletak begitu saja di sofa.
“Kau mau kemana?” tanya Onew.
“Ah, hyung. Aku tidak pulang bersama kalian. Aku harus pergi mencari Aeri,” jawab Minho dengan terburu-buru.
Onew mengangguk cepat, “Ah, arasseo,” katanya.
Minho menepuk pundak Onew ketika melewatinya lalu segera berlari keluar dari waiting room.
Aeri-ya,, kau ada dimana? Jangan menyiksaku dengan cara seperti ini…

***

Ssibal! Aeri mengumpat dalam hatinya. Pergi sendirian dengan pikiran kusut hingga malam tanpa membawa uang yang cukup adalah kebodohan terbesar Aeri hari ini.
Saat ini ia duduk di halte sambil menggosok-gosokkan tangannya. Sejak setengah jam yang lalu, hujan turun begitu deras. Aeri tidak membawa payung dan tidak membawa cukup uang. Uang yang dia bawa bahkan tidak cukup untuk membeli roti, padahal saat ini dia sangat lapar. Beberapa bus lewat begitu saja karena Aeri tidak mampu membayar ongkos, sementara taksi bahkan tidak satupun lewat sejak tadi. Hari ini benar-benar hari sial Aeri.
Mihae dan Eunhyi pasti panik mencarinya.
Aeri menghela nafas. Ini semua karena kejadian yang dilihatnya tadi sore. Kenapa aku harus sebegitu terbawa emosinya waktu melihat Minho dan Wheena? Memangnya kenapa kalau kenyataannya mereka masih berhubungan sampai sekarang? Memangnya aku punya hak apa untuk marah? Dan kenapa akuharus emosi? Aeri bahkan tidak mengerti dirinya yang tadi.
Perut Aeri berbunyi untuk kesekian kalinya. Aeri meruntuk dalam hati. Kapan sih hujan ini berhenti? Apa aku harus menginap di halte ini sampai besok pagi? Padahal tempat ini jauh dari rumahku..
Aeri sudah nyaris menangis memikirkan kemungkinan dia harus menginap di halte ini sendirian. Yah kalo benar-benar sendirian. Kalau tiba-tiba ada orang aneh yang tiba-tiba datang Aeri harus bagaimana?
Aeri berdiri lalu mengeluarkan handphone’nya dari saku celana. Handphone Aeri sudah mati karena kehabisan baterai sejak tadi. Tuhan, tidak bisakah kau memberiku satu keajaiban saja?
Tiba-tiba seseorang memeluk Aeri dari belakang. Aeri terkejut dan segera berusaha melepaskan pelukan tiba-tiba itu. Tapi orang yang memeluknya malah mempererat pelukannya.
“Aeri-ya,” kata orang itu disela-sela nafas tidak teraturnya.
Aeri mengenal betul suara ini. “Minho-gun?! Ba..bagaimana kau bisa menemukanku di sini?” tanya Aeri terkejut.
“Kalau kau benci padaku jangan mencoba membunuhku dengan cara seperti ini,” Minho malah tidak menjawab pertanyaan Aeri.
“Sudah kubilang aku tidak membencimu,” kata Aeri.
“Kalau begitu jangan membuatku cemas,” kata Minho.
Aeri berhasil lepas dari pelukan Minho. “Kau cemas?” tanyanya dengan nada meninggi, “Untuk apa? Lebih baik kau menikmati waktumu bersama Wheena-ssi yang baru pulang dari Amerika. Untuk apa kau menghabiskan waktumu untuk mencemaskanku?”
“Aeri-ya! Kenapa sih kau tidak mengerti juga?!” kata Minho dengan nada suara yang juga meninggi.
“Apa lagi yang harus aku mengerti darimu?! Kemarin kau bilang kau ingin berdamai denganku. Kau bicara sangat manis padaku. Tapi untuk apa?! Untuk apa kalau ternyata kau masih pacaran dengan Wheena-ssi?!” tanya Aeri dengan emosi dan kata-kata yang sudah tidak terkontrol.
Tanpa berkata apa-apa Minho segera menarik kembali Aeri ke dalam pelukannya. Aeri sudah tidak bertenaga untuk mencoba melepaskan diri. Dia hanya diam dalam pelukan Minho.
Setelah merasakan nafas gadis di pelukannya mulai teratur, Minho mulai merenggankan pelukannya.
“Kau ini pintar tapi bodoh sekali sih,” kata Minho sambil tertawa kecil.
Aeri yang tadinya sudah mencoba meredam emosinya kembali meninggikan suara. “HIIIHHH… Kau malah mengejekku di saat seperti ini! Sudah lepaskan aku mau pulang!”
Tapi Minho tidak membiarkan Aeri beranjak sedikitpun dari pelukannya.
“Mau pulang bagaimana? Kau saja tidak bawa payung,” kata Minho, “Pabo!”
“Minho-gun!”
“Iya, iya. Kalau kau masih emosi justru aku tidak akan melepaskanmu,” kata Minho.
Aeri menghela nafas. Mereka saling terdiam beberapa saat sampai akhirnya Minho kembali mengeluarkan suara.
“Kuberitahu letak kebodohanmu, nona cerdas. Kebodohan terbesarmu adalah karena selama bertahun-tahun kau tidak juga tahu kalau aku menyukaimu..,
“Hah?” Aeri terkejut dan reflek memutus kalimat Minho.
Sssttt,, dengarkan dulu! jangan potong kalimatku, nanti kau salah paham lagi. Aku tidak pacaran bahkan tidak pernah pacaran dengan Song Wheena. Jadi kau tidak perlu cemburu,” Minho melanjutkan kalimatnya.
Aeri mendongakan kepala dan menatap Minho. “Siapa bilang aku cem,”
Tapi bantahannya terhenti di situ karena Minho tiba-tiba mencium bibirnya dan tidak membiarkan Aeri mengelak lagi.

***


“You’re my flower not because you’re more beautiful than other flowers; 
you’re my flower not because you’re more fragrant than other flowers;
you’re my flower because you’ve already blossomed in my heart”


“Nah kan, pabo. Makanya jangan suka menyimpulkan sendiri sebelum bertanya,” kata Minho setelah mendengarkan penjelasan Aeri.
“Iya iya, itu salahku. Puas? Dasar Mr. Egois,” kata Aeri sebal.
Minho tertawa.
Tiba-tiba handphone Minho berbunyi. Ia segera mengambilnya dari saku jeansnya. Rupanya nomor Donghae-oppa lagi.
“Ini pasti eonni’mu,” kata Minho sambil memberikan handphonenya kepada Aeri.
Aeri menerima handphone dari Minho dan segera menekan tombol Accept Call di sana.
“Yeoboseyo,”
Baru saja Aeri mengeluarkan satu kata Mihae sudah menceramahinya panjang lebar dari seberang sana.
“Aeri-ya! Kau kemana saja sih?! Pergi dari rumah tanpa pamit, handphone dihubungi tidak bisa. Kau pikir Eonni tidak cemas. Cepat pulang!” kata Mihae dengan nada tinggi.
Aeri menjauhkan sedikit handphone Minho dari telinganya lalu menjawab pelan, “Ne, ini lagi perjalanan pulang Eonni. Mianhae,”
“Ya sudah cepat pulang! Aku akan melanjutkannya di rumah,” kata Mihae lalu segera menutup teleponnya.
Aeri berdecak pelan. Gini nih kalau Mihae sudah ngomel. Pasti makan malam kali ini akan dipenuhi dengan omelan panjang Mihae. Membayangkannya saja Aeri malas pulang. Dengan lesu gadis itu menyerahkan handphone di tangannya kepada sang empunya.
“Dimarahi?” tanya Minho.
“Tentu saja. aaahhhh,, habis sudah aku malam ini,” kata Aeri.
Tiba-tiba handphone Minho berbunyi lagi dengan nama Donghae kembali tertera di layarnya.
“Kau saja kau saja,” kata Aeri segera.
Minho setengah tertawa lalu segera meletakkan handphone di telinganya.
“Yeoboseyo, ah, hyung!” kata Minho. Rupanya itu benar-benar Donghae-oppa. Aeri menghela nafas.
“Ah, ne. Ne. Jinjjaro? Ah, arasseo arasseo. Aeri? dia ada disampingku kok, tenang saja. Lima menit lagi kami sampai. Nee.. hahahaha.. Kenapa hyung langsung menanyakan itu? Ne, nanti kuceritakan kalau kita sudah bertemu. Ne, ne. Annyeong,” Minho menutup teleponnya.
“Apa katanya?” tanya Aeri penasaran.
“Oh, katanya kakakmu mengajakku makan malam sekalian di rumahmu. Di sana juga sedang ada Hyukjae-hyung,” jawab Minho.
Aeri menghela nafas lega. “Kalau di rumah ramai mungkin intensitas omelan Eonni bisa berkurang,” katanya.
Minho tertawa lalu merangkul Aeri dan mengacak rambutnya.
“Kau ini. Makannya kalau apa-apa dipikir dulu. Bawa uang kek minimal,” kata Minho.
“Iya, iya. Tadi itu entah kenapa aku langsung ingin pergi saja,” kata Aeri memberikan alasan.
Minho tertawa, “Itu pasti karena sebenarnya kau sangat mencintaiku,” katanya.
“Hiiihhhh, PD!” Aeri menyikut pinggang Minho pelan. Tapi bukannya menjauh Minho malah mempererat rangkulannya.
“Jangan kabur-kabur lagi ya changiya,” kata Minho.
“Hmmm..,” kata Aeri. “Eh, tunggu! Kau panggil apa aku barusan?!”
Minho tertawa puas sementara Aeri sok cemberut.
Mereka meneruskan langkah mereka sampai tidak terasa mereka sudah sampai di gerbang rumah keluarga Yoon.

***

Additional Part ;)

Wheena segera kembali waiting room sesaat setelah acara berakhir. Pikirannya masih tertuju pada kejadian tadi dan dia sama sekali tidak bisa menikmati show barusan.
Tapi tepat di lorong ia nyaris bertabrakan dengan seseorang. Dan orang itu adalah Taemin.
“Ah, Noona! Gwenchanayo?”
Setelah berhasil menetralisir keterkejutannya Wheena mengangguk pelan.
“Bagaimana dengan Aeri? Minho?” tanya Wheena cemas.
“Barusan hyung menelepon dan mengatakan kalau dia sudah menemukan Aeri-ssi,” jawab taemin sambil tersenyum.
Wheena mengehela nafas lega. “Ahh,, baguslah kalau begitu. Aku sangat tidak enak pada mereka,” kata Wheena.
“Sudahlah, Noona. Noona tidak salah kok. Gwenchana,” kata Taemin sambil tetap tersenyum.
“Arasseo. Gomawo, Taemin-ssi. Kalau begitu aku bisa pulang dengan tenang,” kata Wheena.
“Ah, noona sudah mau pulang?” tanya Taemin dengan raut wajah kecewa.
“Ne. Ini sudah malam,” kata Wheena.
Tiba-tiba Taemin tersenyum penuh arti dan menarik tangan Wheena, “Kalau begitu biar aku mengantarkan Noona sampai ke rumah. Ayo, noona!” katanya.
Wheena terkejut dengan tindakan tiba-tiba pria yang notabene 2 tahun lebih muda darinya itu. Tapi ia tetap mengikuti langkah Taemin tanpa membantah.
“Ah, aku lupa mengatakan sesuatu padamu,” kata Taemin.
“Apa?” tanya Wheena.
“Noona.. neomu yeppeo,” katanya sambil tersenyum dan menatap Whenna di sampingnya.
Wheena makin terkejut. Yah, jadi anak ini bahkan lebih berani dari hyungnya. Boleh juga. Kenapa tidak dicoba ;) toh cumaaaaa 2 tahun.
Satu kisah cinta berakhir indah dan satu lagi dimulai. Hmm..betapa manisnya hidup ini..

***

Eunhyi terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara ramai dari lantai bawah. Gadis cilik itu mengucek-ngucek matanya sambil berusaha mengingat kejadian sebelum dia tidur. Ia baru saja berjalan keluar kamar dan mulai menuruni anak tangga ketika mendadak langkahnya tidak stabil karena ngantuk. Untung saja tiba-tiba seseorang menarik Eunhyi dan ia tidak jadi jatuh.
“Eits, hati-hati,” kata oppa yang menolongnya. Eunhyi mengejap-ngejapkan mata dan langsung kagum melihat ketampanan oppa yang menolongnya.
“Ah, kamshahamnida, Oppa!” kata Eunhyi ceria.
“Cheonmaneyo. Kau pasti Eunhyi, adik Mihae dan Aeri kan?”
Eunhyi mengangguk. “Mmm, lalu oppa siapa?”
“Ah, kenalkan aku Hyukjae-oppa, teman kakakmu,” jawabnya sambil menyodorkan tangan kanannya.
Eunhyi menarik tangan Hyukjae, “Karena oppa sudah menolongku, oppa mau menikah denganku?” tanyanya polos.
Hyukjae terkejut sekaligus tertawa mendengar perkataan polos gadis 7 tahun di hadapannya.
“Hmm.. apakah ini sejenis lamaran?”
Eunhyi mengangguk cepat.
Hyukjae mengangguk-angguk pelan. “Baiklah. Oppa mau. Tapi kalau kamu sudah setinggi ini,” Hyukjae menunjukkan tangan kanannya sebagai ukuran, sementara tangan kirinya menggendong Eunhyi dan membawa gadis itu menuruni tangga.

***

“Kau tau ada seorang gadis yang pernah melamarku?” tanya Minho.
“Ne? siapa?” tanya Aeri kaget.
“Adikmu, Eunhyi,” jawab Minho diiringi tawa khasnya.
Aeri ikut tertawa. “Dasar anak itu ada-ada saja. Lalu kau jawab apa?” tanya Aeri.
“Aku jawab. ‘Maaf tapi oppa menyukai Eonni’mu’,” jawab Minho.
Aeri tertawa makin keras. “Dasar. Tidak berperasaan sekali sih kau. Jawab saja iya,” kata Aeri di sela-sela tawanya.
Minho menggeleng. “Tidak mau. Aku kan mau menikah denganmu,” jawabnya.
Aeri tertawa di pelukan Minho.

***

Label:

0 Comments:

Posting Komentar


◂◂ travel back in time ♪ // back to top \\ ♪ back to the future ▸▸
© All Rights Reserved 2011


Shinee - Minho